Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penyuluhan Diare dan Praktik Cuci Tangan Pakai Sabun di SDN 010 Berbas Pantai Sebagai Bentuk Pencegahan Penyakit Menular Farah Aulia; Anggie Dia Gutami; Ahmad Mujahid Arifin; Ibnu Gilang Praduta Cipta; Khairatil Husni Ardianti; Viscayya Edrea Zefanya; Haris Retno Susmiyati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 4 (2026): Juni
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i4.4565

Abstract

Diare merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada anak usia sekolah. Rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat, terutama kebiasaan mencuci tangan yang kurang tepat, dapat meningkatkan risiko terjadinya diare. Berdasarkan data dari Puskesmas Bontang Selatan 2, tercatat 56 kasus diare pada anak usia lebih dari 5 tahun selama tujuh bulan terakhir di tahun 2025, dengan kelompok perempuan mendominasi sebanyak 38 kasus (67,9%) dan laki-laki sebanyak 18 kasus (32,1%). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Generasi Sehat 12 Universitas Mulawarman Tahun 2025, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa mengenai diare serta praktik mencuci tangan pakai sabun (CTPS) sebagai upaya pencegahan penyakit menular. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2025 di SDN 010 Berbas Pantai, Kelurahan Berbas Pantai, Kota Bontang, Kalimantan Timur, dengan sasaran 52 siswa kelas 1. Metode yang digunakan meliputi ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung mencuci tangan pakai sabun sesuai langkah-langkah yang benar. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 96% siswa hadir dan berpartisipasi aktif, serta mampu memahami materi dan mempraktikkan teknik cuci tangan dengan benar. Sebagai luaran tambahan, dilakukan pemasangan poster edukasi langkah-langkah CTPS di setiap wastafel sekolah sebagai media pengingat yang mendukung pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan di lingkungan SDN 010 Berbas Pantai.
Edukasi Kesehatan Tentang Penyakit Hipertensi Melalui Media Audiovisual dan Flyer pada Pasien Lansia di Puskesmas Bontang Selatan 2 Anifa Temongmere; Adinda Naia Natasya; Farah Aulia; Haris Retno Susmiyati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 6 (2026): Agustus
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i6.4914

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia dan sering disebut sebagai ‘the silent killer’ karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Tingginya angka kasus hipertensi menunjukkan perlunya upaya edukasi kesehatan yang berkelanjutan agar pasien memiliki pemahaman yang memadai mengenai penyakit hipertensi sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Berdasarkan hasil laporan data Puskesmas Bontang Selatan 2, tercatat sebanyak 3.333 kasus hipertensi pada tahun 2024 periode Bulan Januari-Desember. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulawarman Tahun 2025 yang bertujuan memberikan edukasi kesehatan mengenai hipertensi melalui media video yang diperkuat dengan flyer. Kegiatan dilaksanakan di ruang tunggu Puskesmas Bontang Selatan 2, Kota Bontang, dengan sasaran 28 pasien yang berkunjung ke Puskesmas. Metode yang digunakan adalah pre experiment dengan desain one-shot case study, meliputi pemutaran video edukasi selama dua hari berturut-turut, dilanjutkan dengan pembagian flyer dan pengisian kuis pengetahuan pada hari ketiga. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pasien mampu menjawab kuis dengan tingkat ketepatan tinggi, berkisar antara 89% hingga 100% pada setiap indikator pertanyaan, yang menggambarkan tingkat pemahaman pasien terhadap materi hipertensi setelah menerima edukasi. Mengingat desain one-shot case study tidak menyertakan pengukuran pengetahuan awal (pre-test), hasil ini belum dapat digunakan untuk membuktikan adanya peningkatan pengetahuan, namun dapat menjadi gambaran awal yang mendukung upaya edukasi kesehatan sebagai bagian dari pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di wilayah kerja Puskesmas Bontang Selatan 2.
Pemenuhan Akses Keadilan Hak-Hak Bagi Penyandang Disabilitas dalam Perspektif Hak Asasi Manusia di Lapas Kelas II Samarinda Zaskia Zaskia; Haris Retno Susmiyati; Nur Aripkah
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 11: Oktober 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i11.20610

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dalam perkara pidana di Lapas Kelas IIA Samarinda ditinjau dari perspektif hak asasi manusia, serta untuk mengkaji faktor-faktor hukum yang mempengaruhi pemenuhan akses keadilan terhadap hak-hak penyandang disabilitas di Lapas Kelas IIA Samarinda Penelitian ini menggunakan metode socio-legal research (yuridis empiris) yang memadukan analisis terhadap norma hukum positif dengan kajian empiris mengenai pelaksanaannya dalam praktik, melalui depth-interview dengan petugas lapas dan warga binaan penyandang disabilitas di Lapas Kelas IIA Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Lapas Kelas IIA Samarinda telah menunjukkan upaya positif melalui penyediaan fasilitas aksesibilitas berupa kursi roda, toilet khusus, guiding block, area parkir khusus, loket pelayanan prioritas, serta layanan kesehatan berkala, namun belum sepenuhnya mencerminkan prinsip equality before the law dan non-diskriminasi secara substantif sebagaimana diamanatkan CRPD, UU No. 8 Tahun 2016, dan PP No. 39 Tahun 2020. Terdapat empat faktor hukum yang mempengaruhi pemenuhan akses keadilan tersebut, yaitu keterbatasan fasilitas yang belum sepenuhnya ramah disabilitas di area hunian, keterbatasan sumber daya manusia akibat belum adanya pelatihan khusus dan tenaga pendamping profesional, tidak tersedianya media komunikasi aksesibel seperti informasi braille dan penerjemah bahasa isyarat, serta keterbatasan anggaran yang menghambat pengembangan layanan inklusif secara menyeluruh.