Syarifa Aini
Universitas Labuhanbatu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Melampaui Batas Kemampuan: Strategi Mengubah Fixed Mindset menjadi Growth Mindset di Ruang Kelas Fanny Puspasari Sianipar; Ema Linda Lumban Gaol; Syarifa Aini; Rahmadani Indah Nasution; Fazlan Ade Umri
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Education is the fundamental basis for character building and the development of students’ potential, especially for Generation Z who face complex global challenges. One of the key factors influencing academic success and psychological resilience is the growth mindset, the belief that intelligence can be developed through effort and learning from failure. This study aims to analyze strategies for implementing a failure-friendly classroom to foster a growth mindset among high school students. The research method employed is a qualitative literature study, reviewing scientific journals and reference books relevant to the topic. The findings indicate that mindset transformation requires shifting the focus from final results to the learning process, supported by social environments and teachers as adaptive role models in responding to technology and change. The conclusion highlights that by creating an emotionally safe educational ecosystem and embracing mistakes as part of the learning process, students can build stronger learning resilience and become persistent lifelong learners.Keywords: Growth Mindset, Fixed Mindset, Teacher RoleAbstrak: Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan mengembangkan potensi siswa, khususnya Generasi Z yang menghadapi tantangan global yang kompleks. Salah satu faktor penentu keberhasilan akademik dan ketahanan psikologis siswa adalah pola pikir bertumbuh (growth mindset), yaitu keyakinan bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran dari kegagalan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi penerapan kelas ramah kegagalan dalam menumbuhkan pola pikir bertumbuh pada siswa SMA. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif, menelaah berbagai sumber tertulis seperti jurnal ilmiah dan buku referensi. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi mindset membutuhkan pergeseran fokus dari hasil akhir ke proses pembelajaran, dukungan lingkungan sosial, serta peran guru sebagai model adaptif terhadap teknologi dan perubahan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa dengan menciptakan ekosistem pendidikan yang aman secara emosional dan menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, siswa dapat mengembangkan ketahanan belajar yang lebih kuat dan menjadi pembelajar seumur hidup yang gigih dan adaptif.Kata Kunci: Growth Mindset, Fixed Mindset, Peran Guru
Menuntun Kodrat Anak: Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Membangun Karakter Siswa Fanny Puspasari Sianipar; Syarifa Aini; Ema Linda Lumban Gaol; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Education in the era of digital transformation faces significant challenges in the form of the risk of cultural identity erosion and moral degradation among the younger generation. This study aims to re-explore the relevance of Ki Hadjar Dewantara's (KHD) philosophical thoughts in strengthening students' character, particularly through the Trisakti Jiwa concept and the Tringa method, and its implementation in the school environment. The method used in this study is a literature study with a qualitative descriptive approach contextualized within the educational ecosystem at SMA Negeri 1 Rantau Utara. The results show that effective character development rests on the harmonization of human internal potential, which includes the aspects of Cipta (intellectual), Rasa (emotional), and Karsa (determination). The process of internalizing these noble values is optimally achieved through the Tringa stages, namely Ngerti (cognitive understanding), Ngrasa (conscience appreciation), and Nglakoni (behavioral actualization). The conclusion of this study emphasizes that schools as "educations" must apply the paradigm of "guiding" children's nature instead of demanding uniformity, in order to create a liberating educational ecosystem. Synergy between schools, families, and communities is the key to successfully developing the character of students who are academically intelligent and deeply rooted in the nation's noble values.Keywords: Ki Hadjar Dewantara, Character Education, Trisakti Jiwa, Tringa, GuidingAbstrak: Pendidikan di era transformasi digital menghadapi tantangan signifikan berupa risiko erosi identitas budaya dan degradasi moral di kalangan generasi muda. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi kembali relevansi pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam memperkuat karakter siswa, khususnya melalui konsep Trisakti Jiwa dan metode Tringa, serta implementasinya di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang dikontekstualisasikan dalam ekosistem pendidikan di SMA Negeri 1 Rantau Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan karakter yang efektif bertumpu pada harmonisasi potensi internal manusia, yang meliputi aspek Cipta (intelektual), Rasa (emosional), dan Karsa (tekad). Proses internalisasi nilai-nilai luhur ini secara optimal dicapai melalui tahapan Tringa, yaitu Ngerti (pemahaman kognitif), Ngrasa (apresiasi hati nurani), dan Nglakoni (aktualisasi perilaku). Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa sekolah sebagai "lembaga pendidikan" harus menerapkan paradigma "membimbing" fitrah anak alih-alih menuntut keseragaman, untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang membebaskan. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam mengembangkan karakter siswa yang cerdas secara akademis dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa.Kata Kunci: Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Karakter, Trisakti Jiwa, Tringa, Pembimbing