Rahmadani Indah Nasution
Universitas Labuhanbatu

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Melampaui Batas Kemampuan: Strategi Mengubah Fixed Mindset menjadi Growth Mindset di Ruang Kelas Fanny Puspasari Sianipar; Ema Linda Lumban Gaol; Syarifa Aini; Rahmadani Indah Nasution; Fazlan Ade Umri
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Education is the fundamental basis for character building and the development of students’ potential, especially for Generation Z who face complex global challenges. One of the key factors influencing academic success and psychological resilience is the growth mindset, the belief that intelligence can be developed through effort and learning from failure. This study aims to analyze strategies for implementing a failure-friendly classroom to foster a growth mindset among high school students. The research method employed is a qualitative literature study, reviewing scientific journals and reference books relevant to the topic. The findings indicate that mindset transformation requires shifting the focus from final results to the learning process, supported by social environments and teachers as adaptive role models in responding to technology and change. The conclusion highlights that by creating an emotionally safe educational ecosystem and embracing mistakes as part of the learning process, students can build stronger learning resilience and become persistent lifelong learners.Keywords: Growth Mindset, Fixed Mindset, Teacher RoleAbstrak: Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan mengembangkan potensi siswa, khususnya Generasi Z yang menghadapi tantangan global yang kompleks. Salah satu faktor penentu keberhasilan akademik dan ketahanan psikologis siswa adalah pola pikir bertumbuh (growth mindset), yaitu keyakinan bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran dari kegagalan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi penerapan kelas ramah kegagalan dalam menumbuhkan pola pikir bertumbuh pada siswa SMA. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif, menelaah berbagai sumber tertulis seperti jurnal ilmiah dan buku referensi. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi mindset membutuhkan pergeseran fokus dari hasil akhir ke proses pembelajaran, dukungan lingkungan sosial, serta peran guru sebagai model adaptif terhadap teknologi dan perubahan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa dengan menciptakan ekosistem pendidikan yang aman secara emosional dan menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, siswa dapat mengembangkan ketahanan belajar yang lebih kuat dan menjadi pembelajar seumur hidup yang gigih dan adaptif.Kata Kunci: Growth Mindset, Fixed Mindset, Peran Guru
Analisis Implementasi Gerakan Disiplin Positif dalam Membentuk Karakter Mandiri Peserta Didik di SMA Negeri 3 Rantau Utara Fazlan Ade Umri; Rahmadani Indah Nasution; Sarifa Aini; Rohana Rohana
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the implementation of the Positive Discipline Movement in shaping students' independent character at SMAN 3 Rantau Utara. This research employed a qualitative method with a descriptive approach to comprehensively describe the process and impact of positive discipline implementation in learning activities. Data were collected through direct observation of tenth-grade students using an assessment instrument covering five main aspects: compliance with rules, attitude toward teachers, responsibility, cooperation, and self-control. The results indicate that the implementation of positive discipline has a significant impact on the development of students' independent character. The aspect of students’ attitudes toward teachers is categorized as very good through the consistent application of the 5S culture. Meanwhile, compliance with rules, responsibility, and cooperation fall into the good category, indicating that most students demonstrate disciplined and responsible behavior. However, the self-control aspect is still categorized as sufficient, requiring further reinforcement in developing students' self-regulation. It can be concluded that positive discipline is effective in shaping students’ independent character, but it requires consistent implementation, continuous positive reinforcement, and more varied and adaptive classroom management strategies.Keywords: Positive Discipline, Independent Character, Student Behavior, Character EducationAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Gerakan Disiplin Positif dalam membentuk karakter mandiri peserta didik di SMAN 3 Rantau Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif guna menggambarkan secara komprehensif proses dan dampak penerapan disiplin positif dalam kegiatan pembelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap peserta didik kelas X dengan menggunakan instrumen penilaian yang mencakup lima aspek utama, yaitu kepatuhan terhadap aturan, sikap terhadap guru, tanggung jawab, kerja sama, dan kontrol diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi disiplin positif memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter mandiri peserta didik. Aspek sikap terhadap guru berada pada kategori sangat baik melalui penerapan budaya 5S secara konsisten. Sementara itu, aspek kepatuhan terhadap aturan, tanggung jawab, dan kerja sama berada pada kategori baik, yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik telah mampu menunjukkan perilaku disiplin dan tanggung jawab. Namun demikian, aspek kontrol diri masih berada pada kategori cukup, sehingga memerlukan penguatan lebih lanjut dalam pengembangan regulasi diri peserta didik. Disimpulkan bahwa disiplin positif efektif dalam membentuk karakter mandiri peserta didik, tetapi memerlukan konsistensi implementasi, penguatan positif yang berkelanjutan, serta strategi pengelolaan kelas yang lebih variatif dan adaptif.Kata Kunci: Disiplin Positif, Karakter Mandiri, Prilaku Peserta Didik, Pendidikan Karakter
Peran dan Strategi Guru dalam Pendidikan Nilai untuk Generasi Alpha Ahmad Arif; Cici Syaidatun Amalya; Rahmadani Indah Nasution; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The moral crisis among young people, especially Generation Alpha (born 2010–2024), is exacerbated by digital disruption, technological dependence, and low empathy. Teachers play a central role in value education but need adaptive strategies. This study uses a descriptive qualitative literature review, analyzing twelve relevant sources on teacher roles, strategies, and competencies in value education for Generation Alpha.  Generation Alpha has unique characteristics: digital natives, visual learners, critical thinkers, but vulnerable to digital addiction and low interpersonal empathy. Teachers perform three main roles: as educators (linking materials with values), as teachers (selecting appropriate learning models), and as trainers (providing direct examples). The most effective strategy is consistent teacher role modeling. The combination of transmission approaches (direct value inculcation through habituation) and construction approaches (value development through reflection, moral dilemmas) is essential. Required teacher competencies include pedagogical, professional, personality, and social competencies, shaped through formal education, non‑formal training, and teaching experience. Successful value education for Generation Alpha requires synergy among three pillars (family, school, community) and continuous teacher professional development. This study contributes an integrative model of teacher roles and strategies for character building in the digital era.Keywords: Value Education; Generation Alpha; Teacher Roles; Teacher Strategies; Character EducationAbstrak: Krisis moral di kalangan anak muda, khususnya Generasi Alpha (lahir 2010–2024), diperparah oleh disrupsi digital, ketergantungan teknologi, dan rendahnya empati. Guru memainkan peran sentral dalam pendidikan nilai tetapi membutuhkan strategi adaptif. Studi ini menggunakan tinjauan literatur kualitatif deskriptif, menganalisis dua belas sumber relevan tentang peran, strategi, dan kompetensi guru dalam pendidikan nilai untuk Generasi Alpha. Generasi Alpha memiliki karakteristik unik: penduduk asli digital, pembelajar visual, pemikir kritis, tetapi rentan terhadap kecanduan digital dan rendahnya empati interpersonal. Guru menjalankan tiga peran utama: sebagai pendidik (menghubungkan materi dengan nilai-nilai), sebagai pengajar (memilih model pembelajaran yang tepat), dan sebagai pelatih (memberikan contoh langsung). Strategi yang paling efektif adalah pemodelan peran guru yang konsisten. Kombinasi pendekatan transmisi (penanaman nilai langsung melalui pembiasaan) dan pendekatan konstruksi (pengembangan nilai melalui refleksi, dilema moral) sangat penting. Kompetensi guru yang dibutuhkan meliputi kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan sosial, yang dibentuk melalui pendidikan formal, pelatihan non-formal, dan pengalaman mengajar. Pendidikan nilai yang sukses untuk Generasi Alpha membutuhkan sinergi antara tiga pilar (keluarga, sekolah, masyarakat) dan pengembangan profesional guru yang berkelanjutan. Studi ini memberikan kontribusi berupa model integratif peran dan strategi guru untuk pembentukan karakter di era digital.Kata Kunci: Pendidikan Nilai; Generasi Alpha; Peran Guru; Strategi Guru; Pendidikan Karakter
Peran Empati dalam Design Thinking untuk Pembelajaran Efektif pada Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fazlan Ade Umri; Rahmadani Indah Nasution; Novi Fitriandika Sari; Nurlina Ariani Hrp
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the role of empathy in design thinking in enhancing the effectiveness of Civic Education (PPKn) learning. The method used is a qualitative approach with a literature review based on various scientific sources from the last ten years. The findings indicate that empathy is a fundamental element in design thinking, serving as a foundation for understanding students’ needs, experiences, and social contexts. The integration of empathy in Civic Education learning shifts the instructional paradigm from a normative and teacher-centered approach to a more participatory, reflective, and experience-based learning process. In addition, empathy contributes to strengthening students’ civic identity and civic responsibility by enhancing their ability to understand social perspectives and improve collaborative skills. In the context of Society 5.0, this approach is highly relevant in shaping citizens who are inclusive, democratic, and responsible. Therefore, empathy in design thinking plays an important role in improving the quality and effectiveness of more humanistic and contextual Civic Education learning.Keywords: Empathy, Design Thinking, Civic Education (PPKn), Civic Identity, Human-Centered Learning.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran empati dalam design thinking terhadap efektivitas pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (literature review) dari berbagai sumber ilmiah 10 tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa empati merupakan elemen fundamental dalam design thinking yang berfungsi sebagai fondasi untuk memahami kebutuhan, pengalaman, dan konteks sosial peserta didik. Integrasi empati dalam pembelajaran PPKn mampu menggeser paradigma pembelajaran dari yang bersifat normatif dan teacher-centered menjadi lebih partisipatoris, reflektif, dan berbasis pengalaman nyata. Selain itu, empati juga berkontribusi dalam penguatan civic identity dan civic responsibility peserta didik melalui peningkatan pemahaman perspektif sosial dan kemampuan kolaboratif. Dalam konteks Society 5.0, pendekatan ini menjadi relevan untuk membentuk warga negara yang inklusif, demokratis, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, empati dalam design thinking terbukti berperan penting dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran PPKn yang lebih humanis dan kontekstual.Kata Kunci: Empati, Design Thinking, Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn), Identitas Kewarganegaraan, Pembelajaran Berpusat pada Manusia.