Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemurnian Vitamin E dari Berbagai Sumber Bahan Alami dan Limbah Agroindustri Amelia Naomi Agustina
Jurnal Agrifoodtech Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/9n1z4f03

Abstract

Pemurnian vitamin E dari berbagai sumber bahan alami dan limbah agroindustri terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan industri pangan, nutraseutikal, kosmetik, dan farmasi. Berbagai metode pemurnian telah diterapkan meliputi saponifikasi, ekstraksi menggunakan pelarut, dan distilasi molekuler. Studi ini mengkaji secara sistematis perkembangan metode pemurnian vitamin E dari berbagai sumber serta mengevaluasi keunggulan, keterbatasan, serta prospek penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan. Penelusuran literatur dilakukan terhadap publikasi dalam 10 tahun terakhir yang diperoleh dari jurnal nasional dan internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa sumber alami vitamin E banyak terdapat pada minyak nabati, sedangkan sumber dari limbah agroindustri dengan kandungan vitamin E tertinggi diperoleh pada Palm Fatty Acid Distillate (PFAD). Kandungan vitamin E yang bervariasi tergantung dari jenis bahan baku, kondisi proses, dan metode pemurnian yang digunakan. Studi komparatif terkait potensi kandungan vitamin E pada bahan alam dan limbah agroindustri lokal Indonesia masih terbatas, khususnya yang mempertimbangkan variasi varietas genetik. Dari aspek teknik pemurnian, metode ekstraksi konvensional memerlukan beberapa tahapan proses sehingga perlu ditinjau dari sisi efisiensi operasional dan keekonomian. Hasil kajian menunjukkan penggunaan green solvent seperti ekstraksi dengan scCO2 dan DES yang berpotensi meningkatkan keamanan proses dan keberlanjutan lingkungan. Pengembangan metode pemurnian yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan menjadi kunci dalam mendukung pemanfaatan berbagai sumber vitamin E secara berkelanjutan.
Karakterisasi Kandungan Karbohidrat dan Protein pada Berbagai Bahan Pangan Menggunakan Uji Kualitatif Benedict, Biuret, dan Fehling Maghfira Arum Lestari; Dennis Farina Nury; Puji Rahayu; Amelia Naomi Agustina; Muhamad Iqbal Putra; Rizky Ibnufaatih Arvianto; Adna Ivan Ardian; Diva Yustika; Mahesa Niko; Fajar Dwi
Jurnal Agrifoodtech Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Agrifoodtech
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/0vzsx757

Abstract

Karbohidrat dan protein merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Penelitian ini diarahkan untuk melakukan identifikasi kualitatif karbohidrat (gula pereduksi) dengan uji benedict dan uji fehling, serta melakukan identifikasi/konfirmasi protein dengan uji biuret pada berbagai sampel pangan, serta mendiskusikan interpretasi hasil uji. Pada uji biuret, perubahan warna menjadi ungu / violet menandakan adanya protein (ikatan peptida). Pada uji benedict, perubahan warna menjadi hijau berarti terdapat sedikit gula reduksi, kuning berarti sedang, oren berarti signifikan, dan terberntuk endapan merah bata berarti banyak terdapat gula reduksi. Pada uji fehing, hasil positif ditandai dengan berubahnya warna larutan biru menjadi hijau dan terdapat endapan merah bata. Pangan yang signifikan mengandung protein adalah tempe, ayam, nugget, sosis, dan telur mentah. Pangan yang mengandung protein tetapi tidak begitu siginifikan adalah roti tawar dan croissant. Bahan pangan yang tidak terdeteksi adanya kandungan protein pada uji biuret adalah mie dan jeruk nipis. Bahan pangan yang signifikan mengandung gula pereduksi adalah nasi, mie, croissant, dan roti tawar. Bahan pangan yang tidak begitu signifikan mengandung gula pereduksi adalah jeruk nipis, tempe, nugget, dan telur mentah. Bahan pangan yang tidak mengandung gula pereduksi pada penelitian ini adalah ayam dan sosis.
PREDATORY PRICING DALAM KEGIATAN PENJUALAN BARANG BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTIK MONOPOLI Denny Hendrik Nainggolan; Amelia Naomi Agustina
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Industri dan Rantai Pasok Vol. 6 No. 1 (2025): Prosiding Seminar Nasional Manajemen Industri dan Rantai Pasok 6th, Tangerang 2
Publisher : Politeknik APP Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaku monopoli sering kali menggunakan taktik yang tidak adil untuk menyingkirkan pesaing dari pasar. Salah satu metode yang umum digunakan adalah predatory pricing, di mana pelaku monopoli menetapkan harga sangat rendah untuk sementara waktu untuk mengalahkan pesaing. KPPU mengeluarkan putusan atas PT. Conch South Kalimantan Cement, putusan tersebut dikuatkan oleh Mahkamah Agung tentang perkara pelanggaran praktik jual rugi atau penetapan harga yang sangat rendah oleh PT Conch South Kalimantan1Cement dalam penjualan semen di Kalimantan Selatan telah dikuatkan Mahkamah Agung RI melalui Putusan Kasasi Nomor 951 K/Pdt.Sus- KPPU/2021 yang dikeluarkan pada 12 Agustus 2021. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif berupa yuridis normative dengan pendekatan statue approach yang mana sumber data didapatkan dari studi pustaka atau studi literatur, hasil penelitian menemukan bahwa predatory pricing dianggap sebagai bentuk persaingan tidak sehat dan dilarang di banyak negara. Regulasi dan penegakan hukum yang ketat diperlukan untuk mencegah dan menindak praktik ini guna memastikan pasar yang sehat dan kompetitif, yang pada akhirnya bermanfaat bagi konsumen dan perekonomian secara keseluruhan. Dampak negatif dari predatory pricing adalah strategi penetapan harga yang merusak persaingan, menghambat inovasi, mengurangi pilihan konsumen, dan menciptakan monopoli. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 secara tegas melarang praktik predatory pricing melalui Pasal 20 dan mengatur berbagai sanksi administratif dan pidana yang dapat dikenakan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan ini melalui Pasal 47, Pasal 48, dan Pasal 49. Kasus predatory pricing yang melibatkan PT Conch South Kalimantan Cement merupakan contoh penting dari penegakan hukum persaingan usaha di Indonesia. Dengan menguatkan putusan KPPU, Mahkamah Agung menunjukkan komitmennya untuk mendukung persaingan usaha yang sehat dan melindungi pasar dari praktik bisnis yang merugikan. Kasus ini juga menegaskan pentingnya peran KPPU dalam mengawasi dan menindak pelanggaran terhadap undang-undang persaingan usaha, demi terciptanya iklim usaha yang adil dan kompetitif di Indonesia. Kata kunci: Predatory pricing, Persaingan Usaha Tidak Sehat, Monopoli
Karakterisasi Bioplastik Berbasis Pati Singkong, Jagung, dan Biji Nangka dengan Filler Cangkang Telur dan Zinc Oxide Amelia Naomi Agustina; Denny Hendrik Nainggolan; Jonathan Ernest Sirait; Maghfira Arum Lestari
UNISTEK Vol. 13 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Februari 2027
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM SYEKH YUSUF TANGERANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33592/unistek.v13i2.8624

Abstract

The development of starch-based bioplastics is an innovative strategy for diversifying petrochemical industry products toward bio-based materials while simultaneously contributing to reducing the accumulation of persistent conventional plastic waste in the environment. Furthermore, the development can enhance the utilization of biological resources and agro-industrial waste more sustainably within a circular economy framework. However, starch-based bioplastics generally have weaknesses in mechanical properties and swelling capability. This study aims to synthesize starch-based bioplastics by modifying the type of filler and strach to improve physical, mechanical, and stability characteristics. The synthesis is carried out by mixing and gelatinizing starch with the addition of sorbitol as plasticizer with several types of starch and filler with certain compositions. Characterization is carried out on mechanical and physical properties. In addition, swelling capacity test and biodegradability test are conducted. The results showed that variations in types of starch and fillers affect the characteristics of the resulting bioplastics and optimization is needed so that the resulting material has the potential to be applied to environmentally friendly and sustainable packaging materials.