Nuryeni Nuryeni
Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MAKNA SIMBOLIK TARI MANDAU KALIMANTAN TENGAH: KAJIAN ETNOKOREOLOGI DAN INTERNALISASI NILAI KARAKTER PADA SISWA Nuryeni Nuryeni; Daroe Iswatiningsih; Lisna Lisna
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11890

Abstract

ABSTRACT Mandau Dance is one of the traditional arts of the Dayak community in Central Kalimantan that embodies symbolic meanings and local wisdom, making it a potential medium for strengthening character education amid the modernization that influences younger generations. This study aims to describe the symbolic meanings of the movements and properties used in Mandau Dance and to explain the process of internalizing character values among students through cultural arts learning in schools. The study employed an ethnokoreological approach with a descriptive qualitative method to understand the relationship between dance art and the cultural life of the supporting community. The research stages included data collection through observation of Mandau Dance performances, interviews with students, and documentation, followed by data analysis through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the movements of Mandau Dance symbolize courage, heroism, respect for ancestors, unity, and the spirituality of the Dayak people. The dance properties, including the mandau (traditional sword), shield, and traditional costume, carry symbolic meanings related to cultural identity, protection, and the characteristics of the Dayak community. The internalization of character values was carried out through cultural arts learning by instilling discipline, responsibility, cooperation, courage, and appreciation for local culture through dance practice and understanding the meanings of movements and cultural symbols. Therefore, Mandau Dance functions not only as a cultural heritage but also as an effective medium for character education that helps students develop positive attitudes and behaviors, appreciate regional culture, and apply these values in their daily lives. ABSTRAK Tari Mandau merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah yang mengandung nilai simbolik dan kearifan lokal yang berpotensi menjadi sarana penguatan pendidikan karakter di tengah arus modernisasi yang memengaruhi generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik gerakan dan properti dalam Tari Mandau serta menjelaskan proses internalisasi nilai karakter siswa melalui pembelajaran seni budaya di sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan etnokoreologi dengan metode deskriptif kualitatif untuk memahami keterkaitan antara seni tari dan kehidupan budaya masyarakat pendukungnya. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data melalui observasi pertunjukan Tari Mandau, wawancara dengan siswa, dan dokumentasi, yang selanjutnya dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan Tari Mandau merepresentasikan nilai keberanian, semangat kepahlawanan, penghormatan terhadap leluhur, persatuan, dan spiritualitas masyarakat Dayak. Properti tari berupa mandau, tameng, dan kostum adat memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan identitas budaya, perlindungan, dan karakter masyarakat Dayak. Internalisasi nilai karakter dilakukan melalui pembelajaran seni budaya dengan menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, keberanian, dan kecintaan terhadap budaya lokal melalui praktik tari serta pemahaman makna gerak dan simbol budaya. Dengan demikian, Tari Mandau tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter yang efektif dalam membentuk sikap dan perilaku siswa agar lebih menghargai budaya daerah serta mampu menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
PEMBERDAYAAN GURU DALAM PEMBUATAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS DEEP LEARNING MELALUI KOLABORASI GURU PADA MGMP BAHASA INDONESIA SE-KOTA PALANGKA RAYA Nuryeni Nuryeni; Hari Windu Asrini
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.15932

Abstract

The implementation of the Deep Learning approach within the Kurikulum Merdeka framework requires teachers to design instructional modules that facilitate meaningful, mindful, and joyful learning experiences. However, a preliminary needs assessment among teachers in the Indonesian Language Subject Teachers' Consultation (MGMP) of Palangka Raya revealed that their pedagogical competence in embedding Deep Learning principles remained suboptimal. This community empowerment service aimed to improve teachers' professional competence through collaborative workshops and intensive mentoring in designing Deep Learning-based teaching modules. The intervention engaged 60 junior high school Indonesian language teachers through systematic stages comprising needs analysis, conceptual reinforcement, design workshops, clinical mentoring, peer review, product presentations, revisions, and evaluation. Program evaluation revealed an increase in conceptual comprehension scores from a pre-test average of 54.20 to a post-test average of 86.45, alongside a validation feasibility score of 88.75% (highly feasible category) for the developed modules. The tangible outputs comprise three complete Phase D Indonesian language teaching modules for Grades VII, VIII, and IX deposited in a digital cloud repository for instructional adoption. Consequently, this collaborative MGMP-based empowerment framework serves as an effective, sustainable capacity-building model adaptable to other teacher learning communities. ABSTRAK Penerapan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru memiliki keterampilan menyusun modul ajar yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful), dan menyenangkan (joyful). Berdasarkan analisis kebutuhan awal terhadap guru dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Se-Kota Palangka Raya, kemampuan mengintegrasikan prinsip-prinsip pedagogis Deep Learning ke dalam modul ajar masih belum optimal. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi profesional guru melalui lokakarya dan pendampingan penyusunan modul ajar berbasis Deep Learning secara kolaboratif. Program ini melibatkan 60 guru Bahasa Indonesia jenjang SMP dengan tahapan pelaksanaan meliputi analisis kebutuhan, penguatan konseptual, lokakarya perancangan, pendampingan intensif, peer review, presentasi produk, revisi, dan evaluasi. Evaluasi program menunjukkan peningkatan skor pemahaman konsep guru dari rata-rata pre-test sebesar 54,20 menjadi 86,45 pada post-test, serta capaian skor kelayakan modul ajar sebesar 88,75% (kategori sangat layak). Luaran nyata kegiatan berupa tiga modul ajar Bahasa Indonesia Fase D untuk kelas VII, VIII, dan IX yang terunggah dalam repositori digital dan siap diterapkan dalam pembelajaran. Dengan demikian, model pemberdayaan kolaboratif berbasis MGMP ini terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi profesional guru sekaligus berpotensi direplikasi pada komunitas belajar di daerah lain.    
BENTUK DUKUNGAN DALAM KOMENTAR NETIZEN PADA AKUN TIKTOK KANG DEDI MULYADI : KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Nuryeni Nuryeni; Hari Windu Asrini
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15830

Abstract

Social media has evolved into an interactive space that enables people to express their attitudes and perspectives toward public figures through various forms of language use. This phenomenon is evident in the comment section of Kang Dedi Mulyadi's TikTok account, where users frequently express different forms of supportive discourse. This study aims to describe the forms of support expressed by netizens in the comment section of Kang Dedi Mulyadi's TikTok account from a sociolinguistic perspective. The study employed a qualitative approach using a descriptive method. The data source consisted of comments posted on the official TikTok account of Kang Dedi Mulyadi (@dedimulyadiofficial), while the research data comprised linguistic units in the form of words, phrases, clauses, and sentences containing expressions of support. Data were collected through documentation, observation, and note-taking techniques and were analyzed using the interactive analysis model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. Data trustworthiness was ensured through prolonged observation and theoretical triangulation. The findings revealed six forms of support identified from 100 comments: appreciation (42%), prayers (18%), agreement (16%), expectations (10%), motivation (7%), and solidarity (7%). Appreciation emerged as the most dominant form of support, whereas motivation and solidarity were the least frequent. These findings indicate that language used in TikTok comment sections functions not only as a medium for responding to content but also as a means of expressing social evaluation, religious values, collective expectations, moral encouragement, and social solidarity toward public figures. Therefore, this study reinforces the view that language practices on social media constitute a sociolinguistic phenomenon reflecting the interrelationship between language, society, and communication dynamics within the digital public sphere. ABSTRAK Media sosial telah berkembang menjadi ruang interaksi yang memungkinkan masyarakat mengekspresikan sikap dan pandangannya terhadap tokoh publik melalui berbagai bentuk penggunaan bahasa. Fenomena tersebut tampak pada kolom komentar akun TikTok Kang Dedi Mulyadi yang memuat beragam tuturan dukungan dari netizen. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk dukungan yang diungkapkan netizen dalam kolom komentar akun TikTok Kang Dedi Mulyadi berdasarkan perspektif sosiolinguistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian berupa komentar netizen pada akun TikTok resmi Kang Dedi Mulyadi (@dedimulyadiofficial), sedangkan data penelitian berupa satuan lingual berbentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mengandung unsur dukungan. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, simak, dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Keabsahan data dilakukan melalui peningkatan ketekunan pengamatan dan triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 data komentar ditemukan enam bentuk dukungan, yaitu apresiasi sebanyak 42 data (42%), doa 18 data (18%), persetujuan 16 data (16%), harapan 10 data (10%), motivasi 7 data (7%), dan solidaritas 7 data (7%). Bentuk dukungan yang paling dominan adalah apresiasi, sedangkan motivasi dan solidaritas merupakan kategori yang paling sedikit ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa dalam kolom komentar TikTok tidak hanya digunakan sebagai sarana menyampaikan tanggapan terhadap konten, tetapi juga berfungsi merepresentasikan penilaian sosial, nilai religius, harapan kolektif, penguatan moral, serta solidaritas masyarakat terhadap tokoh publik. Dengan demikian, penelitian ini mempertegas bahwa praktik berbahasa di media sosial merupakan bagian dari fenomena sosiolinguistik yang mencerminkan hubungan antara bahasa, masyarakat, dan dinamika komunikasi pada ruang publik digital.