Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses internalisasi akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) melalui media nasyid di Pondok Pesantren Baitul Iman Kediri serta mengkaji peran media tersebut dalam membentuk karakter religius santri di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa era digital menghadirkan tantangan berupa penyebaran paham keagamaan radikal dan intoleran yang dapat memengaruhi pemahaman akidah generasi muda. Dalam menghadapi kondisi tersebut, Pondok Pesantren Baitul Iman Kediri memanfaatkan media nasyid sebagai sarana internalisasi akidah Aswaja yang efektif. Proses internalisasi berlangsung melalui tiga tahapan, yaitu transformasi, transaksi, dan trans-internalisasi. Pada tahap transformasi, nilai-nilai akidah disampaikan melalui lirik nasyid yang sederhana dan mudah dipahami. Tahap transaksi ditandai dengan interaksi edukatif antara ustadz dan santri dalam memahami serta menghayati makna nasyid. Adapun tahap trans-internalisasi menunjukkan tertanamnya nilai-nilai akidah dalam kesadaran dan perilaku santri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media nasyid tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan dan dakwah yang efektif dalam memperkuat internalisasi akidah Aswaja, membentuk karakter religius yang moderat, serta meningkatkan ketahanan ideologis santri di tengah perkembangan era digital.