I Wayan Mudana
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Estetika Fotografi Ipphos Selama Periode Revolusi Fisik (1945-1949) Di Indonesia Sebagai Media Propaganda Dan Alat Diplomasi Melalui Pembacaan Semiotik Ferdiansyah; I Wayan Adnyana; I Wayan Mudana; I Made Bayu Pramana
Kartala Virtual Studies Vol 5 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/kvs.v5i2.390

Abstract

Photography has a very significant role in the course of Indonesian history. Initially, photography was only seen as a form of documentation, but over time, it transformed into a medium of propaganda and a tool of diplomacy. The focus of this study is photographs produced by IPPHOS (Indonesia Press Photo Service), which primarily include photos of the reading of the proclamation text, the raising of the red and white flag on August 17, 1945, and Soekarno-Hatta embracing Soedirman. The purpose of this study is to explore the power and potential of photography as a medium of propaganda and a tool of diplomacy. Based on its function, photography was considered a form of aesthetics during the physical revolution. This study will analyze the role of photography as a tool of propaganda and diplomacy of the Indonesian government during the revolution by highlighting the aesthetic elements in IPPHOS photographs, which reflect the strategy of the struggle to maintain independence between 1945 and 1949. The methodology used in this study is a qualitative approach, with a semiotic analysis of photographs identified as a medium of propaganda and a tool of diplomacy by the Indonesian government during the Physical Revolution period. This study aims to understand how photographs from the Physical Revolution period function as visual codes that convey messages, both verbally and non-verbally. By analyzing the meaning of signifiers-signified, it is hoped that the postcolonial generation can understand and analyze the history of Indonesian photography. Keywords: Photography, Propaganda, Diplomacy, IPPHOS, Physical Revolution, Semiotics.
Layudan Banten dan Dampak Ekologi di Bali Melalui Fotografi Dokumenter I Kadek Agus Mahardika; I Made Gede Arimbawa; I Wayan Mudana
Retina Jurnal Fotografi Vol 6 No 2 (2026): Retina Jurnal Fotografi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/rjf.v6i2.6570

Abstract

Banten merupakan sarana persembahan suci dalam tradisi keagamaan Hindu Bali yang mengandung nilai spiritual, estetika, dan ekologis sebagai perwujudan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun, perkembangan zaman dan modernisasi telah mendorong perubahan dalam praktik pembuatan banten, khususnya penggunaan material non-organik yang berdampak pada meningkatnya layudan banten dan permasalahan ekologis di Bali. Penciptaan ini bertujuan untuk merepresentasikan fenomena layudan banten dan dampak ekologinya melalui pendekatan fotografi dokumenter. Metode penciptaan karya meliputi studi pustaka, observasi partisipatif, dan wawancara, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk buku foto berjudul “Mewali – dari Alam Kembali ke Alam”. Pendekatan fotografi dokumenter digunakan sebagai media untuk merekam realitas sosial dan budaya secara jujur, sekaligus membangun narasi visual yang reflektif terhadap hubungan antara tradisi, modernisasi, dan lingkungan. Buku foto berjudul “Mewali – dari Alam Kembali ke Alam” diharapkan mampu menjadi dokumentasi visual, media refleksi, serta sarana peningkatan kesadaran ekologis masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan layudan banten yang selaras dengan nilai-nilai Tri Hita Karana.