Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EDUKASI EKSTRAK BUAH KAPUL (Baccaurea macrocarpa) SEBAGAI MINUMAN PENAMBAH GIZI DAN BERPERAN MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH Aliful Karim; Maria Eka Suryani; Sulthon Abdul Aziz; Dewi Saraswati
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 32 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/2b405618

Abstract

Diabetes merupakan penyakit yang ditandai dengan terganggunya produksi hormon insulin, salah satunya akibat kerusakan pankreas. Terganggunya produksi insulin akan menyebabkan glukosa dalam darah menjadi tinggi (hiperglikemia). Diabetes tipe 2 adalah diabetes yang paling umum dan 90% dari penyakit diabetes. Permasalahan utama yaitu berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia, Kalimantan Timur merupakan provinsi dengan penderita diabetes terbanyak ketiga di Indonesia dengan prevalensi 2,3% dan data Dinas Kesehatan Kota Samarinda sebanyak 6442. Penanganan diabetes dapat dilakukan dengan mengontrol pola makan sehingga gula darah stabil. Salah satu makanan yang dapat membantu menjaga gula darah adalah buah kapul atau tampoi (Baccaurea macrocarpa). Daging buah kapul memiliki rasa asam segar rasa ini dapat ditambahkan dengan gula agar membuat banyak masyarakat suka, namun tujuan dari pengabdian ini adalah memanfaatkan buah sebagai penurun kadar glukosa darah sehingga penggunaan pemanis alternatif sebagai substitusi gula pasir adalah pilihan terbaik. aspartam adalah pemanis buatan yang dibuat dari senyawa golongan aspartat, fenilalanin, dan metanol. Aspartam tidak berbahaya bagi kesehatan, tidak menaikkan gula darah, serta tidak menyebabkan kanker. Metode pelaksanaan dengan mitra adalah melakukan koordinasi dengan Kelurahan dan Mitra untuk mengetahui gambaran glukosa darah dan edukasi ekstrak kapul sebagai penambah gizi dan penurun glukosa darah. Kegiatan ini mendapat kesimpulan meingkatkanya antusias warga setelah mengetahui manfaat dan cara pengolahan kapul dengan mengambil buah kapul sebagai buah tangan
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Daun Salam Tua (Syzygium polyanthum) terhadap Escherichia coli secara In Vitro Agus Evendi; Maria Eka Suryani; Nurul Anggrieni
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.849

Abstract

ABSTRAK. Infeksi yang disebabkan oleh Escherichia coli masih menjadi salah satu penyebab utama diare di Indonesia. Penggunaan antibiotik sintetis secara berlebihan dapat memicu resistensi, sehingga diperlukan alternatif antibakteri alami. Daun salam (Syzygium polyanthum) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol daun salam tua terhadap E. coli secara in vitro. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Uji fitokimia dilakukan untuk identifikasi senyawa aktif, uji antioksidan menggunakan metode DPPH, dan uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran pada media Mueller Hinton Agar dengan variasi konsentrasi ekstrak 25, 50, 100, 200, dan 400 µg/well. Hasil uji fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan karbohidrat. Aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh pada konsentrasi 50 ppm dengan penghambatan 73,48%. Uji antibakteri menunjukkan zona hambat terbesar pada konsentrasi 100 µg/well sebesar 12,78 mm yang termasuk kategori sedang–kuat. Mekanisme penghambatan diduga melalui kerusakan membran sel oleh flavonoid dan tanin. Simpulan penelitian ini adalah ekstrak metanol daun salam tua memiliki aktivitas antibakteri sedang terhadap E. coli dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan antibakteri alami untuk mencegah infeksi akibat bakteri Gram-negat
Erythrocyte Sedimentation Rate and Complete Blood Count Parameters among Female Students of DIII Medical Laboratory Technology, Poltekkes Kemenkes East Kalimantan Dewi Saraswati; Maria Eka Suryani; Yuliansyah Rianur
Afiyatun Journal of Health Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): March
Publisher : PT. Edukasi Ahmad Kirang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) is a non-specific indicator of systemic inflammation widely used in clinical laboratory practice. Physiological factors including menstrual cycle phase, anemia, and hormonal influences can affect ESR values in women of reproductive age. Female medical laboratory technology students represent an ideal population for studying physiological variation in hematological parameters. This study aimed to describe ESR values and complete blood count (CBC) parameters among female DIII Medical Laboratory Technology students at Poltekkes Kemenkes Kaltim and to analyze their correlation. Methods: This descriptive observational study with a cross-sectional design was conducted at the Hematology Laboratory of Poltekkes Kemenkes Kaltim. A total of 31 female students aged 18–25 years who met the inclusion criteria were enrolled. Blood samples were collected by venipuncture; CBC was examined using a Hematology Analyzer and ESR was measured using the Westergren method. Data were analyzed using descriptive statistics and Spearman correlation (α=0.05). Informed consent was obtained from all participants. Results: The mean ESR was 20.74 ± 16.38 mm/h (median 18.00 mm/h, IQR 11.5–28.5, range 1–76 mm/h); Shapiro-Wilk test confirmed non-normal distribution (W=0.8937; p=0.005). Based on the Westergren reference value for adult women (≤20 mm/h), 58.1% of subjects had normal ESR and 41.9% had elevated ESR. Mean hemoglobin was 13.01 g/dL with 12.9% classified as mildly anemic. Mean leukocyte count was 8,143 cells/µL with a normal differential. Spearman correlation analysis revealed no statistically significant correlation between ESR and all CBC parameters (p>0.05), although a borderline correlation was found between ESR and lymphocytes (rho=0.343; p=0.059). Conclusion: ESR values in apparently healthy female students showed wide variability, with 41.9% exceeding the normal reference limit, reflecting the influence of physiological factors—particularly menstrual cycle phase and hormonal status—rather than pathological processes. No significant correlation was found between ESR and CBC parameters, likely due to the narrow hemoglobin range in the study population. These findings emphasize the importance of considering physiological context when interpreting ESR in women of reproductive age. Longitudinal studies recording menstrual cycle phases are recommended.