Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ILLNESS PERCEPTION DAN SENSE OF COHERENCE (SOC) PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Christiani Natasya Miru; Krismi Diah Ambarwati
PSIKOVIDYA Vol 24 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37303/psikovidya.v24i1.141

Abstract

This study aims to determine whether or not there is a relationship between illness perception and Sense of Coherence (SOC) in patients with type 2 diabetes mellitus. Sense of Coherence (SOC) is a global orientation that states the extent to which a person has feelings of confidence that are persuasive, lasting, and dynamic that stimulus that comes from a person's internal and external environment in his life is something that is structured, predictable, and can be explained; resources available to someone to meet demands arising from the stimulus;claims are challenges and attachment to life, with one of the factors which affect SOC, namely illness perception. Participants in the study were 58 type 2 DM patients at the Kedungmundu Health Center, Semarang City. Data was collected using quantitative methods with a purposive sampling model. Based on the research results obtained correlation coefficient 〖(r〗_xy) = 0.536 with a significance value of 0.000 (p <0.05) which means there is a significant positive relationship between illness perception and Sense of Coherence in patients with type 2 Diabetes Mellitus in Kedungmundu Health Center Semarang City.
SELF-COMPASSION, PERSEPSI PENYAKIT, DAN KUALITAS HIDUP ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) Miru, Christiani Natasya; Siswanto, Siswanto
Jurnal Psikologi Vol 16, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2023.v16i2.7859

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan persepsi penyakit terhadap kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Partisipan dalam penelitian ini adalah 72 orang dengan HIV/AIDS dari Yayasan Tanpa Batas Kupang yang menjalani terapi antiretroviral selama ≥ 1 tahun dan berusia 18-60 tahun. Instrumen penelitian menggunakan tiga alat ukur yaitu World Health Organization Quality of Life-HIV BREF (WHOQOL-HIV BREF), Self-Compassion Scale Short-Form (SCS-SF), dan Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ). Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan uji korelasi berganda. Hasil memperlihatkan hubungan simultan antara self-compassion dan persepsi penyakit terhadap kualitas hidup ODHA (R_x1x2y= 0.832; p < 0.01). Selain itu, terdapat hubungan positif antara self-compassion dengan kualitas hidup (r_x1y= 0.616; p < 0.05). Hasil lebih lanjut juga menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara persepsi penyakit dan kualitas hidup (r_x2y= 0.790; p < 0.05). Ketika ODHA memiliki self-compassion dan persepsi penyakit tinggi, maka kualitas hidup akan tinggi, begitu pula sebaliknya. Sumbangan efektif kedua variabel tersebut terhadap kualitas hidup sebesar 69.3%
GAMBARAN FORGIVENESS PADA REMAJA AKHIR BROKEN HOME DI KOTA KUPANG Sarah Marchella Letelay; Marylin Susanti Junias; Christiani Natasya Miru; Mariana Dinah Charlota Lerik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12602

Abstract

This study was motivated by the high number of parental divorce cases in Kupang City, which affect the psychological condition of late adolescents from broken home families, especially in the process of forgiveness. This study aimed to identify and describe in depth the picture of forgiveness among late adolescents from broken home families due to parental divorce in Kupang City. This study used a descriptive qualitative approach with purposive sampling. The participants were five late adolescents aged 18-22 years from broken home families due to parental divorce. Data were collected through semi-structured interviews and documentation and then analyzed using thematic analysis based on Enright’s four stages of forgiveness: the uncovering phase, the decision phase, the work phase, and the deepening phase. The findings showed that the forgiveness process among participants unfolded gradually, beginning with anger, sadness, and feelings of unfairness, then moving toward acceptance, understanding the reasons behind the divorce, and efforts to reconcile with the situation. In the final stage, participants experienced relief, peace, and greater positive meaning in life. In conclusion, forgiveness among late adolescents from broken home families is a complex yet important psychological process that helps adolescents accept parental divorce experiences and build better emotional well-being. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus perceraian orang tua di Kota Kupang yang berdampak pada kondisi psikologis remaja akhir dari keluarga broken home, khususnya dalam proses pemaafan atau forgiveness. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara mendalam gambaran forgiveness pada remaja akhir broken home akibat perceraian orang tua di Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah lima orang remaja akhir usia 18-22 tahun yang berasal dari keluarga broken home akibat perceraian orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan empat tahap forgiveness menurut Enright, yaitu uncovering phase, decision phase, work phase, dan deepening phase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses forgiveness pada partisipan berlangsung secara bertahap, diawali dengan kemarahan, kesedihan, dan rasa tidak adil, kemudian berkembang menjadi penerimaan, pemahaman terhadap alasan perceraian, dan usaha untuk berdamai dengan keadaan. Pada tahap akhir, partisipan merasakan kelegaan, ketenangan, serta pemaknaan hidup yang lebih positif. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa forgiveness pada remaja akhir broken home merupakan proses psikologis yang kompleks tetapi penting dalam membantu remaja menerima pengalaman perceraian orang tua dan membangun kesejahteraan emosional yang lebih baik.
Efektivitas Cognitive Behavior Therapy dengan Teknik Self-Instruction Terhadap Penurunan Stres pada Pekerja Seks Komersial (Studi Eksperimen Pra-Pasca) Christiani Natasya Miru
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v3i1.95-104

Abstract

Stigma dan tantangan bekerja sebagai seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) memunculkan distres psikologis atau stres pada PSK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pemberian cognitive behavior therapy dengan teknik self-instruction terhadap penurunan stres pada pekerja seks komersial. Partisipan dalam penelitian ini adalah lima orang perempuan berumur 23 tahun hingga 37 tahun yang aktif bekerja sebagai PSK dan mengalami stres dalam tingkat sedang dan berat. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, serta secara kuantitatif dengan menggunakan perceived stress scale (PSS-10). Teknik analisis dilakukan secara kualitatif berdasarkan hasil proses terapi, sedangkan data kuantitatif dengan uji analisis wilcoxon signed rank test. Hasil analisis data menunjukkan nilai z sama dengan - 2.060 dengan signifikansi 0.039 (p kurang dari 0.05) yang artinya terdapat perbedaan antara tingkat stres sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Hasil kualitatif di mana partisipan mampu mengenali emosi positif, mengubah pikiran negatif menjadi positif serta menemukan coping stres yang adaptif. Dengan demikian, menunjukkan bahwa intervensi CBT dengan teknik self-instruction efektif terhadap penurunan stres pada pekerja seks komersial.
Psikoedukasi Pengelolaan Kecemasan Melalui Teknik Relaksasi Napas dalam Pada Lansia dengan Penyakit Kronis Christiani Natasya Miru
Devotion: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/devotion.v3i1.75-84

Abstract

Salah satu permasalahan psikologis yang dialami oleh para lansia dengan penyakit kronis adalah kecemasan. Kecemasan yang dialami oleh lansia juga dapat menyebabkan kesulitan tidur serta dapat mempengaruhi konsentrasi dan kesiagaan, dan juga meningkatkan resiko-resiko kesehatan, serta dapat merusak fungsi sistem imun. Salah satu teknik intervensi yang mudah dilakukan lansia untuk menurunkan gejala-gejala kecemasan adalah teknik relaksasi napas dalam. Kegiatan psikoedukasi merupakan bagian dari pengabdian masyarakat dengan tujuan memberikan pemahaman terkait dengan pengelolaan kecemasan. Kegiatan ini melibatkan 21 orang lansia didampingi oleh penanggungjawab kegiatan Prolanis, kader kegiatan Prolanis serta dokter dari kegiatan Prolanis bertempat di Puskesmas Oesapa Kota Kupang. Metode yang digunakan berupa pemberian ice breaking, materi psikoedukasi tentang kecemasan dan kualitas tidur dalam bentuk leaflet, latihan teknik relaksasi napas dalam, dan sesi sharing. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan ini dimana menambah pemahaman akan kecemasan, pengelolaan kecemasan, serta mampu menerapkan teknik relaksasi napas untuk membantu mengelola kecemasan pada lansia dengan penyakit kronis. Pemberian psikoedukasi pengelolaan kecemasan melalui teknik relaksasi napas pada lansia dengan penyakit kronis mampu meningkatkan pemahaman terkait kecemasan serta menurunkan gejala kecemasan yang dialami lansia secara subjektif.
STUDI FENOMENOLOGI: PEMAKNAAN TERHADAP PENGALAMAN KEKERASAN DALAM BERPACARAN (DATING VIOLENCE) PADA REMAJA AKHIR DI KOTA KUPANG Filomena Since; Christiani Natasya Miru; Diana Aipipidely; M.K.P. Abdi Keraf
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12407

Abstract

Dating violence is an increasingly concerning phenomenon among late adolescents, particularly in Kupang City. This study aims to gain an in-depth understanding of the meaning-making of dating violence experiences among late adolescents in Kupang City, as well as to describe the meaning-making process experienced by victims, encompassing the aspects of meaning discrepancy, searching for meaning, cognitive reappraisal, finding meaning, and psychological adjustment based on Park's meaning-making theory. This study employed a qualitative research design with a descriptive phenomenological approach. Participants consisted of five late adolescents aged 18–22 years who had experienced dating violence in Kupang City, selected through purposive sampling and snowball sampling techniques. Data were collected through semi-structured interviews. Data analysis followed Colaizzi's phenomenological analysis procedure through seven stages. Data validity was established through member checking and audit trail. The results revealed six main themes: the ideal relationship concept, experiences of violence, responses and perceptions toward violence, the process of searching for and transforming meaning, meaning-making of the violence experience, and post-violence adjustment. All participants experienced more than one form of violence, including verbal and emotional violence, psychological violence, physical violence, sexual violence, and excessive control and monitoring. Participants initially tended to deny the violence, justify their partner's behavior, and engage in self-blame. Over time, with social support from those closest to them, participants began to recognize themselves as victims, found meaning in their experiences, and achieved more adaptive adjustment. The violence experience was ultimately interpreted as a valuable lesson regarding self-worth, relational boundaries, and personal growth. ABSTRAK Dating violence merupakan fenomena mengkhawatirkan pada remaja akhir di Kota Kupang yang membutuhkan pemahaman kualitatif mendalam. Penelitian fenomenologi deskriptif ini bertujuan menggambarkan proses pemaknaan pengalaman kekerasan berpacaran berdasarkan teori meaning-making Park mencakup ketidaksesuaian makna hingga penyesuaian psikologis. Subjek terdiri atas lima remaja akhir berusia 18–22 tahun korban kekerasan yang dipilih melalui purposive dan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur yang dianalisis melalui tujuh tahapan kualitatif Colaizzi dengan member check. Hasil penelitian mengungkap enam tema utama: gambaran hubungan ideal, pengalaman kekerasan, respons emosional, pencarian makna, pemaknaan baru, dan penyesuaian pasca-kejadian. Partisipan mengalami kekerasan verbal, fisik, psikologis, dan kontrol berlebihan yang awalnya direspons dengan penyangkalan serta self-blame. Seiring berjalannya waktu dan hadirnya dukungan sosial, terjadi pergeseran kognitif menuju kesadaran diri sebagai penyintas. Pengalaman traumatis dimaknai sebagai pelajaran berharga mengenai penguatan harga diri, penetapan batasan hubungan, dan pendewasaan pribadi. Kesimpulannya, analisis meaning-making terbukti efektif memfasilitasi transformasi kognitif dan penyesuaian psikologis adaptif bagi korban kekerasan dalam berpacaran.