Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Indonesian Gen Z's English slang: The use and effects on digital communication Elly Nurhaliza Putri; Nanang Zubaidi; Yusnita Febrianti; Alma Huwaida Ramadhani; Sibakhul Milad Malik Hidayatulloh
Journal of Research on English and Language Learning (J-REaLL) Vol. 7 No. 2 (2026): Journal of Research on English and Language Learning (J-REaLL)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j-reall.v7i2.24528

Abstract

The rapid expansion of social media transformed communication, encouraging the emergence of slang as a creative, identity-driven linguistic practice among Generation Z (Gen Z). Previous studies extensively examined types, functions, and general impacts of slang, presenting contradictory conclusions, either its positive role or negative implications. These inconsistent findings make it difficult to understand the actual role of English slang in communication effectiveness. However, limited research examined how Indonesian Gen Z use English slang and how it affects communication effectiveness among Gen Z users with similar linguistic backgrounds and comparable English proficiency. Addressing this gap, the present study investigates the types of English slang used by Indonesian Gen Z majoring in English studies in communication and analyzes its effects on clarity and effectiveness. With a qualitative-descriptive approach, data were collected through questionnaires (N=65) and semi-structured interviews with selected participants (n=6). The collected slang was categorized using a slang taxonomy and analyzed in relation to perceived message clarity and effectiveness. The findings reveal four types of slang: fresh and creative, flippant, acronym, and clipping. Acronyms were reported as the most frequently used slang in communication. The interviews indicate participants perceive slang as having positive impacts on communication effectiveness, self-expression, vocabulary development, and strengthening solidarity. However, the use of slang causes misunderstandings for those unfamiliar with slang and may encourage its inappropriate use in formal contexts. Future research should involve more diverse participant groups and examine the long-term effects of English slang on language use and communication.
Reintegrasi Sosial dan Kemandirian Pasca-Bebas Melalui Pelatihan Pengembangan Diri dan Kewirausahaan bagi Warga Binaan Lapas Kelas I Malang Faradita Aisa Putri; Aureal Sheva Vinardi; Valingga Cicilia Lisa Andriani; Hibatul Hami Ramadhan; Sibakhul Milad Malik Hidayatulloh
Jurnal Pengabdian Barelang Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Barelang
Publisher : LPPM Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33884/jpb.v8i2.11925

Abstract

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menghadapi berbagai tantangan psikologis, sosial, dan ekonomi dalam mempersiapkan kehidupan pasca-bebas, seperti rendahnya kepercayaan diri, keterbatasan kemampuan komunikasi, serta minimnya keterampilan kewirausahaan. Kondisi tersebut melatarbelakangi pelaksanaan program Kelas Edukasi Pengembangan Diri dan Kewirausahaan di Lapas Kelas I Malang sebagai bentuk dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, 8, dan 10. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapan WBP dalam menghadapi proses reintegrasi sosial melalui penguatan self-efficacy, public speaking, dan kewirausahaan. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui tahapan koordinasi dan observasi, penyusunan modul ajar, penyuluhan dan pelatihan, partisipasi mitra, serta monitoring dan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta pada seluruh materi, ditunjukkan oleh kenaikan skor self-efficacy sebesar 41,07%, public speaking sebesar 41,51%, dan kewirausahaan sebesar 40,74%. Program ini mampu meningkatkan pengetahuan, kepercayaan diri, keterampilan komunikasi, serta wawasan kewirausahaan WBP sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan produktif setelah bebas.