Restu Rizki Amanda
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Self-Reflection Strategy Based on Spiritual Journals in Improving Students' Religious Attitudes in Islamic Religious Education Learning Restu Rizki Amanda; Munawar Rahmat; Mohamad Rindu Fajar Islamy
Tarbawi : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 21 No. 2 (2025): Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/tarbawi.v21i2.6812

Abstract

This study aims to analyze the implementation of self-reflection strategies through spiritual journals in Islamic Religious Education (PAI) learning and examine its effect on improving students' religious attitudes. The study used a mixed-methods approach with a Classroom Action Research (CAR) design based on the Kemmis and McTaggart model, conducted over two cycles. The research subjects consisted of 26 grade X students at SMA YWKA Bandung. Data were collected through observation, spiritual journals, interviews, religious attitude questionnaires, and documentation, and then analyzed using the Miles and Huberman interactive model, descriptive statistics, and a paired-samples t-test. The results showed that implementing spiritual journals significantly improved students' religious attitudes, as evidenced by an increase in indicator achievement from 50% at the beginning of the cycle to 100% at the end of cycle II. Quantitatively, the average score of religious attitudes increased from 129.35 to 137.73, with t-test results indicating a significant difference (p < 0.05) and an effect size of 0.74 (medium-large category). Qualitatively, student reflection progressed from a descriptive stage to analytical and personal reflection, indicating increased self-awareness and internalization of religious values. These findings confirm that spiritual journals can serve as reflective learning strategies to strengthen students' affective, spiritual, and moral dimensions and to bridge the gap between religious understanding and daily life practices.
Epistimologi Immanuel Kant sebagai perspektif dalam pengembangan Pendidikan Islam Restu Rizki Amanda; Selena Aulia
Journal of Islamic Education and Innovation Vol 6, No.1: January - June 2025 (In Press)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Immanuel Kant dalam filsafatnya berusaha menjembatani dua aliran utama dalam epistemologi rasionalisme dan empirisme. Immanuel kant berpendapat bahwa baik rasionalisme, yang menekankan peran akal dalam memperoleh pengetahuan, maupun empirisme, yang menekankan pentingnya pengalaman inderawi memiliki kelemahan jika dipahami secara terpisah. Di sisi lain, pendidikan Islam menekankan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan, yang dalam beberapa hal menimbulkan perbedaan mendasar dengan epistemologi yang dideskripsikan oleh Kant. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi epistemologi Kant sebagai perspektif dalam pengembangan Pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber yang relevan, seperti buku, artikel ilmiah, serta penelitian terdahulu. Tahapan analisis data meliputi identifikasi topik, pencarian dan seleksi literatur yang relevan, evaluasi kritis, serta pengorganisasian berdasarkan tema. Peneliti kemudian mensintesis data dari berbagai sumber untuk menarik kesimpulan dan mengidentifikasi celah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi kritisme yang diusung oleh Kant dapat diintegrasikan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang lebih terbuka terhadap analisis kritis. Meskipun wahyu tetap menjadi sumber utama kebenaran, pendekatan transendental Kant memungkinkan peserta didik memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap ajaran agama. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menerima wahyu secara dogmatis, tetapi juga mampu memahaminya dengan menggunakan pemikiran rasional. Implikasinya, pendidikan Islam dapat dikembangkan menjadi lebih holistik dengan mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual, serta lebih siap menghadapi tantangan zaman modern.
Epistemologi Immanuel Kant dalam Konteks Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Restu Rizki Amanda; Selena Aulia; Muhamad Parhan
AT-TAJDID Vol 9 No 2 (2025): JULI-DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v9i2.3760

Abstract

Immanuel Kant dalam filsafatnya berusaha menjembatani dua aliran utama dalam epistemologi rasionalisme dan empirisme. Immanuel kant berpendapat bahwa baik rasionalisme, yang menekankan peran akal dalam memperoleh pengetahuan, maupun empirisme, yang menekankan pentingnya pengalaman inderawi memiliki kelemahan jika dipahami secara terpisah. Di sisi lain, pendidikan Islam menekankan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan, yang dalam beberapa hal menimbulkan perbedaan mendasar dengan epistemologi Immanuel kant. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsep epistemologi Kant dapat diintegrasikan atau justru berkonflik dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber yang relevan, seperti buku, artikel ilmiah, serta penelitian terdahulu. Tahapan analisis data studi literatur meliputi identifikasi topik, pencarian dan seleksi literatur yang relevan, evaluasi kritis, serta pengorganisasian berdasarkan tema. Peneliti kemudian mensintesis data dari berbagai sumber untuk menarik kesimpulan dan mengidentifikasi celah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa epistemologi kritisme yang diusung oleh Kant dapat diintegrasikan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang lebih terbuka terhadap analisis kritis. Meskipun wahyu tetap menjadi sumber utama kebenaran, pendekatan transendental Kant memungkinkan peserta didik memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap ajaran agama. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menerima wahyu secara dogmatis, tetapi juga mampu memahaminya dengan menggunakan pemikiran rasional. Implikasinya, pendidikan Islam dapat menjadi lebih holistik dengan mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual, serta lebih siap menghadapi tantangan zaman modern.Immanuel Kant in his philosophy tried to bridge two main schools of thought in epistemology, namely rationalism and empiricism. Immanuel Kant argued that both rationalism which emphasizes the role of reason in gaining knowledge, and empiricism which emphasizes the importance of sensory experience, have weaknesses if understood separately. On the other hand, Islamic education emphasizes revelation as the main source of knowledge, which in some ways creates fundamental differences with Immanuel Kant's epistemology. This article aims to explore how Kant's epistemological concept can be integrated or contradicted with the principles of Islamic education. This study uses a literature study method to collect and analyze data from various relevant sources, such as books, scientific articles, and previous research. The stages of literature study data analysis include topic identification, searching and selecting relevant literature, critical evaluation, and organizing by theme. The researcher then synthesizes data from various sources to draw conclusions and identify research gaps. The results of this study indicate that the critical epistemology promoted by Kant can be integrated in the development of Islamic education that is more open to critical analysis. Although revelation remains the primary source of truth, Kant's transcendental approach allows students to have a deeper understanding of religious teachings. Thus, students not only receive revelation dogmatically, but are also able to understand it using rational thinking. The implication is that Islamic education can be more holistic by integrating intellectual, moral, and spiritual aspects, and be better prepared to face the challenges of the modern era. 
Aktualisasi konsep muhasabah melalui jurnal spiritual: Analisis mixed-methods terhadap peningkatan sikap religius siswa Restu Rizki Amanda; Jenuri; Dina Mayadiana Suwarma; Aulia Tegar Wicaksono; Helmy Abdullah Helmy
Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education Vol. 7 No. 7 (2026)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/itjmie.v7i7.24113

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) frequently encounters a pedagogical gap between students' cognitive mastery and their lack of inner self-awareness in daily religious behaviors. This study aims to implement and analyze the effectiveness of a self-reflection strategy through the development of an analytical "spiritual journal" integrated directly into the Teaching Module to enhance the religious attitudes of secondary school students. This research employed a Classroom Action Research (CAR) design based on the Kemmis and McTaggart model, utilizing an embedded mixed-methods approach. It was conducted in two cycles involving 26 tenth-grade students (Class X-1) at SMA YWKA Bandung. Data collection combined qualitative methods—comprising observations, interviews, and spiritual journals—with quantitative methods using a religious attitude questionnaire adapted from Glock and Stark’s five dimensions of religiosity. Qualitative findings revealed a behavioral transformation; students progressed from a mechanistic and administrative approach to journal completion toward a profound moral evaluation (muhasabah) process, achieving a 100% success rate for classroom observation indicators by the end of Cycle II. Quantitative analysis corroborated these findings, demonstrating an increase in the mean religious attitude score from 129.35 (high category) in the pretest to 137.73 (very high category) in the posttest. A Paired Sample t-test indicated a statistically significant difference (Sig. 0.001 < 0.05), with a Cohen's d effect size of 0.74, classified as a moderate-to-large effect. It is concluded that the actualization of the muhasabah concept through the spiritual journal instrument effectively bridges the cognitive and affective dimensions, successfully fostering autonomous religious behavior among students. Abstrak Pendidikan Agama Islam (PAI) sering dihadapkan pada kesenjangan pedagogis antara penguasaan kognitif siswa dan minimnya kesadaran batin (self-awareness) dalam perilaku religius sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menganalisis efektivitas strategi refleksi diri melalui pengembangan "jurnal spiritual" analitik yang terintegrasi langsung dalam Modul Ajar guna meningkatkan sikap religius siswa tingkat menengah. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dengan pendekatan embedded mixed methods, yang dilaksanakan dalam dua siklus terhadap 26 siswa kelas X-1 di SMA YWKA Bandung. Proses pengumpulan data mengombinasikan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan jurnal spiritual, serta kuantitatif melalui angket sikap religius yang diadaptasi dari lima dimensi religiusitas Glock dan Stark. Hasil kualitatif memperlihatkan adanya transformasi perilaku; siswa beranjak dari pengisian jurnal yang mekanistik administratif menjadi proses evaluasi moral (muhasabah) mendalam, dengan persentase ketercapaian indikator observasi kelas mencapai 100% di akhir Siklus II. Analisis kuantitatif memperkuat temuan tersebut melalui peningkatan skor rata-rata sikap religius dari 129,35 (kategori tinggi) saat pretest menjadi 137,73 (kategori sangat tinggi) pada tahap posttest. Uji Paired Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik (Sig. 0,001 < 0,05) dengan perolehan effect size Cohen's d sebesar 0,74 yang tergolong dalam kategori sedang menuju besar. Disimpulkan bahwa aktualisasi konsep muhasabah melalui instrumen jurnal spiritual berpotensi menjembatani dimensi kognitif dan afektif, serta mampu menumbuhkan kemandirian perilaku religius yang otonom pada peserta didik.