Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penentuan Prakiraan Usia Luka Genital pada Kasus Kekerasan Seksual dalam Perspektif Forensik Septia Eva Lusina; Auriva Renasha Suherman; Brigitta Shinta Dewi; Bryantdary Arrafif Nasution; Ridwan Hardiansyah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i6.64182

Abstract

Kasus kekerasan seksual di Indonesia masih sering ditemukan, dan pemeriksaan forensik medikolegal berperan penting dalam menilai tanda kekerasan serta memperkirakan usia luka genital. Mukosa genital yang elastis, sangat vaskular, dan cepat mengalami epitelisasi tanpa jaringan parut membuat pembedaan luka akut dan non-akut menjadi sulit. Penelitian ini bertujuan meninjau karakteristik morfologis dan waktu penyembuhan luka hymenal serta non-hymenal pada kasus kekerasan seksual. Literature review dilakukan terhadap publikasi nasional dan internasional yang membahas proses penyembuhan luka genital pada korban kekerasan seksual. Analisis deskriptif dilakukan terhadap jenis lesi, lokasi anatomi, dan durasi penyembuhan. Luka baru (acute injury) terjadi <72 jam setelah kejadian, sedangkan luka lama (non-acute injury) >72 jam. Pada area non-hymenal seperti labia, vestibulum, fossa navicularis, posterior fourchette, dan perineum, abrasi dan kontusio umumnya menghilang dalam 2–5 hari, sedangkan robekan sembuh dalam 7–20 hari. Pada hymen, abrasi hilang dalam 4 hari, petekie dalam 48–72 jam, dan laserasi sembuh dalam 2–4 minggu tanpa jaringan parut. Lesi berupa blood blister dapat bertahan hingga minggu keempat dan menunjukkan cedera yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Luka hymenal mengalami penyembuhan sempurna dalam waktu ≤4 minggu tanpa meninggalkan jaringan parut. Luka non-hymenal umumnya sembuh lebih cepat dibandingkan luka hymenal, bergantung pada jenis dan kedalamannya. Pemahaman proses dan waktu penyembuhan luka genital penting untuk menilai usia luka secara tepat dalam pemeriksaan medikolegal kasus kekerasan seksual.
Osteogenesis Imperfecta in A Neonate with A Positive Family History: A Case Report Bryantdary Arrafif Nasution; Shinta Nareswari
Medula Vol 17 No 1 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v17i1.2010

Abstract

Osteogenesis Imperfecta (OI) is a rare genetic disorder characterized by bone fragility due to impaired type 1 collagen synthesis. This condition is generally caused by mutations in the COL1A1 and COL1A2 genes, which are inherited in an autosomal dominant or recessive manner, and are clinically heterogeneous. This report presents a case of a 5-day-old male neonate, born by cesarean section at 37 weeks of gestation, with a birth weight of 2,200 grams, who was referred to Dr. H. Abdul Moeloek Regional General Hospital, Bandar Lampung, with complaints of inactive right leg movement since 4 days of age. There was a positive family history, namely an older sibling who had been diagnosed with OI. Physical examination revealed bilateral blue sclerae, asymmetry in the lengths of the lower extremities, and pain with mobilization of the right leg. Radiological examination in the form of a right femur x-ray and bone survey showed a complete proximal fracture of the right femur, bowing of the left femur, and decreased bone density, which supports the diagnosis of OI. Serum Alkaline Phospatase (ALP) levels were within normal limits, distinguishing them from rickets or hypophosphatasia. Management included splinting immobilization, closed reduction, hip spica placement, prophylactic antibiotics and analgesics, and phototherapy for hyperbilirubinemia. The prognosis for this patient was quo ad vitam (dubia ad bonam), while quo ad functionam and quo ad sanationam (dubia ad malam) were quo ad functionam. This case report aims to raise clinical awareness of OI in the neonatal period, especially in cases with a confirmed family history.