Perdagangan batubara Indonesia tetap memiliki posisi strategis bagi penerimaan negara, ketahanan energi, dan pasokan komoditas global. Namun, praktik penjualan yang terfragmentasi, lemahnya daya tawar kolektif, potensi kebocoran penerimaan, serta meningkatnya tekanan transisi energi global mendorong pemerintah memperkuat pengendalian ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Penelitian ini bertujuan menganalisis rasionalitas ekonomi pembentukan DSI sebagai instrumen tata kelola ekspor terpusat serta menilai implikasinya terhadap daya tawar, perolehan rente sumber daya, efisiensi pasar, tata kelola kelembagaan, dan risiko operasional perdagangan batubara Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui analisis kebijakan dan analisis berbasis praktik. Data sekunder dikumpulkan melalui telaah dokumen, kajian literatur, dan observasi pasar, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi dan analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DSI berpotensi memperkuat posisi tawar Indonesia, mengurangi penjualan terfragmentasi, meningkatkan transparansi ekspor, serta memperoleh nilai ekonomi tambahan melalui margin perdagangan dan biaya transaksi. Namun, sentralisasi juga berisiko menimbulkan hambatan pada penetapan harga, transisi kontrak, pembiayaan, penjadwalan kapal, logistik, sengketa kargo, dan kepercayaan pembeli. Penelitian menyimpulkan bahwa DSI dapat memperkuat kedaulatan sumber daya apabila pengendalian negara diseimbangkan dengan efisiensi pasar, fleksibilitas operasional, akuntabilitas, dan kepercayaan pasar internasional.