Marshanda Lievia
Universitas Baturaja

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BIJAK BERMEDIA SOSIAL DALAM MENDUKUNG STABILITAS TATA KELOLA PEMERINTAHAN DESA DI DESA LEKIS REJO Marshanda Lievia; Eva Susanti; Aprilia Lestari; Agata Lively; Avira Miranda; Eem Rahmawati
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.2128

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan signifikan dalam pola interaksi sosial masyarakat, termasuk di wilayah pedesaan. Media sosial sebagai salah satu produk perkembangan teknologi memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi, pembentukan opini publik, serta interaksi antara masyarakat dan pemerintah. Namun, penggunaan media sosial yang tidak disertai dengan literasi digital yang memadai berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konflik sosial, serta menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Desa Lekis Rejo dalam menggunakan media sosial secara bijak guna mendukung stabilitas tata kelola pemerintahan desa. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2026 dengan melibatkan 20 peserta. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, penyampaian materi, diskusi interaktif, dan penyebaran kuesioner kepuasan peserta. Materi disampaikan oleh Eva Susanti, M.Si., Aprilia Lestari, M.I.P dan Marshanda Lievia. Hasil kuesioner menunjukkan tingkat kepuasan peserta sebesar 92% dengan kategori sangat baik. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa sosialisasi literasi digital mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memverifikasi informasi, menerapkan etika digital, serta memanfaatkan media sosial secara bertanggung jawab.
TRANSFORMASI KEBUDAYAAN WAYANG KULIT SUKU JAWA: DARI TRADISI KLASIK KE ERA MODERN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU Vrischa Oktaviyana; Herni Ramayanti; Marshanda Lievia; Avira Miranda; Anadia Maudy
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 03 (2026): Volume 12 No. 03, September 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i03.16252

Abstract

Wayang kulit is one of Indonesia's intangible cultural heritages that holds high historical, philosophical, religious, and educational values. However, the development of information technology, cultural globalization, and changes in people's entertainment consumption patterns have caused a transformation in the existence and function of wayang kulit, especially among the Javanese community living in Ogan Komering Ulu (OKU) Regency. This study aims to analyze the forms of cultural transformation of wayang kulit from classical tradition to the modern era and identify the factors influencing these changes. The research uses a descriptive qualitative approach with a literature study method supported by social observation of the development of wayang kulit arts in Ogan Komering Ulu Regency. The analysis is carried out through cultural transformation theory, which emphasizes changes in form, function, values, and adaptation to technological developments. The results of the study show that The transformation of wayang kulit occurs in five main aspects, namely changes in the form and appearance of performances, shifts in socio-cultural functions, adaptation to digital technology, changes in community behavior patterns, and a process of gradual and continuous change. Digitalization has become a dominant factor that allows wayang kulit to survive amid modern popular culture competition. However, this transformation also has the potential to reduce public understanding of the philosophical values contained in wayang if not balanced with systematic preservation efforts. This study concludes that cultural transformation is not a threat to the existence of wayang kulit, but rather a form of adaptation to keep the culture relevant to the needs of modern society.