Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pandangan Fiqih Kontemporer Terhadap Kebebasan Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) Devi Indah Sari; Indah Pratiwi; Nur Sa’adah Pulungan; Ahmad Shiddiq; Ali Imran Sinaga
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.921

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membuka ruang perdebatan serius dalam diskursus fiqih kontemporer, khususnya menyangkut batas-batas kebebasan penggunaannya oleh umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan pandangan fiqih kontemporer terhadap kebebasan penggunaan AI, mengidentifikasi landasan metodologis yang digunakan para ulama kontemporer, serta merumuskan kerangka hukum Islam yang koheren dan adaptif dalam merespons tantangan AI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) melalui analisis isi (content analysis) terhadap fatwa, karya fiqih kontemporer, dan literatur akademis relevan dari tahun 2015 hingga 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan fiqih kontemporer terpetakan ke dalam tiga arus utama: permisif-kondisional yang mengedepankan maslahah mursalah, kehati-hatian ketat berbasis sadd al-dzari'ah, dan reformis-progresif yang menekankan ijtihad kolektif. Penelitian ini menemukan bahwa belum ada konsensus (ijma') ulama tentang status hukum AI, namun mayoritas ulama menekankan bahwa AI tidak memiliki agensi moral (taklif) sehingga tanggung jawab hukum sepenuhnya berada pada penggunanya. Kontribusi penelitian ini adalah menawarkan kerangka analitik baru berbasis maqasid syariah lima dimensi yang dapat digunakan sebagai peta jalan penentuan hukum AI secara komprehensif.
The Aims of Islamic Education and the Mental Health Crisis Among the Younger Generation: A Revitalization Agenda in the Digital Era Ahmad Shiddiq; Ade Irma Manurung; Azizah Hanum OK
EDU-RILIGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam dan Keagamaan Vol 10, No 2 (2026): April -Juni (In press....)
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47006/er.v10i2.30832

Abstract

The advancement of digital technology has brought various conveniences to human life. However, it has simultaneously given rise to psychological and spiritual issues, particularly among the younger generation. The mental health crisis experienced by young people is increasingly becoming a matter of concern within the educational sphere. Various pressures—such as academic demands, the influence of social media, shifting social environments, and the erosion of spiritual values—contribute to rising stress, anxiety, identity crises, and diminished mental resilience. These conditions indicate that education should not merely focus on academic achievement but must also address character building, as well as the mental and spiritual well-being of students. This study aims to analyze the relevance of spirituality in Islamic education as a solution to the mental health crisis facing the digital generation. It examines Islamic educational thought emphasizing adab (proper conduct/etiquette), purification of the soul, the educator as a role model, and a transcendental orientation to cultivate individuals of noble character. Character education is implemented to enhance the quality of educational outcomes by fostering good personality traits in alignment with graduate competency standards. This study employs a qualitative approach, specifically library research, utilizing books, research journals, and supporting articles. The findings demonstrate that educational spirituality plays a strategic role in establishing an intellectual, emotional, and spiritual balance among students. Values such as adab, exemplary conduct, and transcendental awareness prove relevant in strengthening mental resilience, mitigating the negative impacts of digital culture, and fostering a deeper sense of meaning in life.