Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah paradigma pendidikan melalui peningkatan akses terhadap informasi, personalisasi pembelajaran, dan efisiensi proses akademik. Namun, perkembangan tersebut juga memunculkan berbagai tantangan bagi pendidikan Islam, seperti dominasi informasi atas internalisasi nilai, berkurangnya interaksi edukatif antara guru dan peserta didik, krisis otoritas moral, serta potensi dehumanisasi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi konsep ta'dib dalam merespons perkembangan AI serta merumuskan model konseptual Ta’dib digital sebagai kerangka pendidikan Islam pada era kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai literatur primer dan sekunder yang membahas ta'dib, pendidikan nilai Islam, dan AI dalam pendidikan, kemudian dianalisis menggunakan content analysis melalui proses identifikasi, interpretasi, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama pendidikan Islam pada era AI bukan terletak pada kemajuan teknologinya, melainkan pada kesenjangan antara perkembangan teknologi dan pembentukan adab. Sebagai kontribusi konseptual, penelitian ini menawarkan model Ta’dib digital, yaitu integrasi antara penguasaan teknologi dan pembentukan adab melalui empat dimensi utama: adab kepada Allah SWT, adab terhadap ilmu, adab terhadap sesama manusia, dan adab terhadap lingkungan digital. Model ini menempatkan AI sebagai instrumen yang mendukung proses pembelajaran, sedangkan ta'dib menjadi landasan etik yang mengarahkan tujuan, batas, dan tanggung jawab penggunaannya. Temuan ini memperkuat relevansi ta'dib sebagai paradigma pendidikan Islam yang adaptif terhadap transformasi digital tanpa mengabaikan nilai-nilai moral dan spiritual.