Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Kadar Protein Urine Pada Atlet Sepakbola Berdasarkan Frekuensi Latihan Vivi Oktapia; Nurul Inayati; Siti Zaetun; Agrijanti
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.132

Abstract

Latar Belakang: Latihan berlebihan dapat meningkatkan kadar protein urine, menandakan proteinuria. Permainan sepakbola memerlukan kebugaran fisik yang tinggi, maka pada atlet sepakbola perlu dilakukan skreening funsi ginjal.Protein urine merupakan salah satu parameter fungsi ginjal pada urine.Pada penelitian ini akan dilakukan pengamatan hubungan frekuensi latihan terhadap protein urine. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola yang latihan selama 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4 minggu, dan 5 minggu setelah latihan, serta menganalisa gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola tersebut. Metode Penelitian: Pada penelitian ini bersifat observasional analitik dengan teknik pengambilan sampel purposive. Sampel penelitian berjumlah 30 atlet sepakbola, kadar protein urine pada penelitian ini dipriksa menggunakan metode carik celup. Hasil Penelitian: Rata-rata kadar protein urine atlet sepakbola pada minggu pertama adalah 15,5 mg/dl,minggu kedua 47,17 mg/dl, minggu ketiga yaitu 60,3 mg/dl, minggu keempat 59 mg/dl dan minggu kelima 62,67 mg/dl. Kesimpulan: Gambaran kadar protein urine pada atlet sepakbola dengan kadar tertinggi 86 mg/dl dan kadar terendah pada 21 mg/dl.
Analisis Hubungan Hasil Pemeriksaan IgG dan IgM Dengue, Leukosit dan Trombosit Dengan Keputusan Perawatan Pada Pasien Terduga Demam Berdarah di RSUD Kabupaten Lombok Utara Avirda Ariyati; Agrijanti; Lalu Srigede; Erna Kristinawati; Pancawati Ariami
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.381

Abstract

Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi akibat virus dengue yang gejalanya bisa sangat beragam, mulai dari ringan hingga berat. Untuk membantu menentukan tingkat keparahan penyakit dan langkah perawatan yang tepat, pemeriksaan laboratorium seperti IgG dan IgM Dengue, jumlah leukosit, dan trombosit sangat dibutuhkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara hasil pemeriksaan IgG dan IgM dengue, jumlah leukosit, serta trombosit, dengan keputusan dokter dalam merawat pasien DBD, apakah pasien dirawat inap atau cukup rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik. Sebanyak 28 pasien yang dicurigai menderita DBD di RSUD Kabupaten Lombok Utara diikutkan sebagai sampel, yang dipilih secara kebetulan (accidental sampling) selama periode April sampai juni 2025. IgG dan IgM diperiksa menggunakan rapid test, sementara jumlah leukosit dan trombosit diperiksa menggunakan alat hematology analyzer otomatis. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Dari hasil analisis, ditemukan bahwa jumlah trombosit memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan keputusan perawatan (r = -0,805; p = 0,000). Artinya, semakin rendah jumlah trombosit, semakin besar kemungkinan pasien dirawat inap. Sementara itu, IgG menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan (r = 0,347; p = 0,083), sedangkan jumlah leukosit dan IgM tidak menunjukkan hubungan yang berarti dengan keputusan perawatan. Kesimpulan: Dari keempat parameter yang diteliti, jumlah trombosit menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan perawatan pasien DBD. Oleh karena itu, pemeriksaan trombosit sangat penting untuk membantu dokter dalam menentukan apakah pasien perlu dirawat inap atau bisa dirawat jalan.
Marine-Derived Antimitotic Potential of Lombok Fucus vesiculosus: Dose-Dependent Cleavage Arrest in Diadema antillarum Embryos Maruni Wiwin Diarti; Yudha Anggit Jiwantoro; Agrijanti
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol. 13 No. 02 (2026): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Brown macroalgae are increasingly investigated as sources of antiproliferative metabolites, but phenotypic evidence linking crude algal extracts to stage-specific mitotic disruption remains limited. This study re-evaluates an exploratory laboratory experiment examining the effect of an ethanol extract of brown alga identified as Fucus vesiculosus from Lombok coastal waters on early development of the sea urchin Diadema antillarum. Adult sea urchins were conditioned separately by sex; gametes were obtained and fertilized, and embryos were exposed to five extract concentrations (1.0, 2.5, 4.0, 5.0, and 5.5 mg/100 mL). Twenty embryos were followed per condition, with progression assessed from zygote through cleavage, blastula, gastrula, and pluteus stages. A clear concentration-dependent loss of developmental progression was observed. At 1.0 mg/100 mL, 90% of embryos reached the 32-cell stage but none progressed to blastula. At 2.5 mg/100 mL, 60% reached 16 cells and development stopped before 32 cells. At 4.0 mg/100 mL, only 25% reached 8 cells. At 5.0 and 5.5 mg/100 mL, only 10% and 5%, respectively, reached the 8-cell stage, with arrest apparent from the earliest cleavages. These staged phenotypes support a dose-responsive antimitotic or embryotoxic effect of the crude ethanol extract. Updated evidence on fucoidan- and phlorotannin-rich F. vesiculosus preparations provides biological plausibility through cell-cycle arrest, apoptosis, and suppression of proliferative signaling. However, because the extract was not chemically standardized and the assay was descriptive, the results should be interpreted as a phenotypic screening signal rather than proof of anticancer efficacy. The principal novelty is the demonstration of a graded cleavage-stage arrest pattern in D. antillarum across five extract doses using locally sourced material, providing a foundation for modern fractionation, molecular identification, and mechanism-focused validation