Suci Rahmadina
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Maqāṣid sebagai Tujuan Teks dan Hukum: Analisis Komparatif dalam Studi Tafsir M. Ridho Baihaki; Suci Rahmadina; Faris Naufal; Hanif Dawamah; Sholahuddin Ashani
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/t96me488

Abstract

Penelitian ini berupaya menganalisis konsep maqāṣid sebagai orientasi tujuan teks dan hukum dalam studi tafsir melalui pendekatan komparatif. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan yang memanfaatkan berbagai sumber literatur sebagai data utama dan dianalisis secara kualitatif. Data diperoleh dari berbagai sumber yang relevan dalam bidang tafsir, usul fikih, dan maqāṣid al-syarī‘ah. Selanjutnya, data yang telah terkumpul dikaji melalui analisis komparatif guna mengungkap persamaan dan perbedaan pandangan para ulama terkait peran maqāṣid dalam memahami teks Al-Qur’an serta dalam perumusan hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maqāṣid berfungsi sebagai kerangka interpretatif yang penting dalam menghubungkan makna tekstual wahyu dengan tujuan yang memiliki ruang lingkup lebih luas dibandingkan syariat Islam. Sebagian ulama memandang maqāṣid sebagai tujuan yang secara inheren terkandung dalam teks, sementara yang lain menekankan perannya sebagai prinsip dasar dalam penalaran dan pengembangan hukum. Meskipun terdapat perbedaan metodologis, kedua pandangan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan kemaslahatan (maṣlaḥah) dan menjaga nilai-nilai fundamental syariat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa integrasi antara analisis tekstual dan pendekatan berbasis maqāṣid memungkinkan lahirnya penafsiran yang lebih kontekstual dan dinamis tanpa mengurangi otoritas teks Al-Qur’an. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian tafsir dan hukum Islam kontemporer dengan menawarkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara makna teks, tujuan penetapan hukum, dan kondisi sosial masyarakat.
Perkembangan Tafsir di Nusantara Farid Adnir; Suci Rahmadina; Hanif Triansyah; M. Ridho Baihaki
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/p9txmq23

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sejarah, karakteristik metodologi, dan periodisasi perkembangan tafsir Al-Qur'an di Nusantara, serta melacak kontribusi penting para mufasir lokal beserta karya-karyanya. Sebagai wilayah dengan keragaman budaya dan kebahasaan non-Arab, tradisi tafsir di Indonesia melewati proses pribumisasi yang panjang melalui adaptasi ke dalam bahasa daerah dan nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan historis-kontekstual berbasis studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan tafsir di Nusantara bertransformasi melalui empat periode utama. Pertama, Periode Klasik (Abad 8–15 M), dicirikan oleh penyampaian lisan, praktis-integral dengan ilmu keislaman lain, dan ber-metode ijmali. Kedua, Periode Tengah (Abad 16–18 M), ditandai dengan mulainya kodifikasi tertulis dalam bahasa lokal (Melayu-Jawi) seperti karya perintis Tarjuman al-Mustafid karya Abdurrauf as-Sinkili. Ketiga, Periode Pramodern (Abad 19 M), ditandai dengan sistem pengajaran halaqah, penulisan syarah, dan lahirnya tafsir berbahasa Arab Marah Labid karya Nawawi al-Bantani. Keempat, Periode Modern (Abad 20 M hingga sekarang), yang dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam Timur Tengah, pelembagaan akademik di perguruan tinggi (IAIN/UIN), serta lahirnya ragam tafsir berbahasa daerah (Jawa dan Sunda) hingga tafsir kontemporer komparatif seperti Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi tafsir di Indonesia memiliki jalur orisinalitasnya sendiri yang sangat adaptif dalam mendialogkan teks suci Al-Qur'an dengan realitas sosial, bahasa, dan budaya lokal masyarakat Nusantara.