Robert Dimas Sanjaya
Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Profil Pengetahuan Mahasiswa terhadap Produk Antiketombe Robert Dimas Sanjaya; Zufar Abdul Aziz; Daria Fika Meidina; Muhammad Yassin Al Ghifary; Erieka Ratmadelita; Nurin Azizah; Khansa Antarizka Mumtaz; Alfi Nadira; Afifah Minang Fajariyah; Oddyzeus Janclause Braviorta Romkeni; Rezha Arvian; Yuni Priyandani
Jurnal Farmasi Komunitas Vol. 13 No. 1 (2026): JURNAL FARMASI KOMUNITAS
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jfk.v13i1.74474

Abstract

  Ketombe (Pityriasis capitis) adalah masalah kulit kepala secara umum ditandai dengan pengelupasan kulit dan dapat memengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui profil pengetahuan mahasiswa tentang terapi antiketombe. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif yang melibatkan responden berjumlah 207 mahasiswa di Surabaya, responden dipilih melalui accidental sampling pada Maret 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi, yang kemudian dianalisis dengan Microsoft Excel 2021. Mayoritas responden berusia 20 tahun (33,82%) dan didominasi oleh perempuan (82,61%), dengan proporsi mahasiswa rumpun non-kesehatan yang lebih besar (60,39%) dibandingkan rumpun kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden (49,76%) memiliki pengetahuan “cukup” mengenai terapi antiketombe, diikuti oleh 28,50% yang memiliki pengetahuan “baik”, sedangkan 21,74% lainnya berada pada kategori “kurang”. Sebanyak 60,9%  responden mengetahui bahwa ketombe disebabkan oleh jamur dan 74,4% responden mengetahui bahwa ketombe dipengaruhi oleh cuaca panas serta kelembapan. Pengetahuan tentang produk antiketombe menunjukkan bahwa 63,8% mengetahui sampo antijamur efektif, tetapi 46,9% salah menganggap sampo antibakteri juga efektif. Kesimpulan dari peneltian ini yaitu tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai terapi antiketombe masih berada pada kategori “cukup”, sehingga diperlukan upaya edukasi lanjutan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai terapi antiketombe dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup.