Muhammad Adrianes Bachnas
Maternal-Fetal Medicine Division, Department of Obstetrics and Gynecology, Medical Faculty of Sebelas Maret University, Dr. Moewardi Hospital, Solo, Surakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Precision Chromosomal Surgery before Birth: Allele-Specific CRISPR-Cas9 Editing for Trisomy 21 in Perinatal Medicine I Nyoman Hariyasa Sanjaya; Wiku Andonotopo; Muhammad Adrianes Bachnas; Wisnu Prabowo; Eric Edwin Yuliantara; Efendi Lukas; Julian Dewantiningrum; Mochammad Besari Adi Pramono; Anak Agung Gede Putra Wiradnyana; Ryan Saktika Mulyana; Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma; Evert Solomon Pangkahila; Khanisyah Erza Gumilar; Ernawati Darmawan; Muhammad Ilham Aldika Akbar; Cut Meurah Yeni; Dudy Aldiansyah; Nuswil Bernolian; Adhi Pribadi; Anita Deborah Anwar; Aloysius Suryawan; Ridwan Abdullah Putra; Harry Kurniawan Gondo; Laksmana Adi Krista Nugraha; Waskita Ekamaheswara Kasumba Andanaputra; Wibisana Andika Krista Dharma; Dovy Djanas; Milan Stanojevic
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.965

Abstract

Objective: Trisomy 21 remains the most common live-born aneuploidy and a major contributor to perinatal morbidity. Although prenatal screening, particularly non-invasive prenatal testing (NIPT), has advanced substantially, clinical management offers no corrective options. Emerging allele-specific genome-editing approaches propose targeted removal or silencing of the extra chromosome 21. This review summarizes current evidence and evaluates the translational relevance of these technologies in perinatal medicine.Methods: A narrative review was conducted following PRISMA-aligned procedures. A structured search of PubMed, Scopus, and Web of Science (January 2000–July 2025) identified 1,242 records. After duplicate removal, title/abstract screening, and full-text assessment based on predefined inclusion criteria, 54 studies met eligibility requirements. Data were synthesized across four domains: mechanistic strategies, developmental applicability, translational feasibility, and ethical–regulatory considerations.Results: Allele-specific CRISPR-Cas9 studies demonstrated selective cleavage of the supernumerary chromosome 21 in cellular models, with partial restoration of near-euploid transcriptional patterns. Additional approaches—XIST-mediated silencing and centromere destabilization—provided alternative mechanisms with varying stability and specificity. Evidence remains limited to in vitro systems, with no validated embryo or fetal applications. Key challenges include mosaicism, delivery barriers, individualized SNP targeting, and ethical governance.Conclusions: Allele-specific chromosome editing represents a promising but still experimental direction for future perinatal therapeutics. Current findings justify continued multidisciplinary investigation while emphasizing cautious interpretation and rigorous ethical oversight prior to any clinical translation. Abstrak Tujuan: Trisomi 21 tetap menjadi aneuploidi yang paling sering ditemukan pada kelahiran hidup dan merupakan kontributor utama terhadap morbiditas perinatal. Meskipun skrining prenatal—khususnya non-invasive prenatal testing (NIPT)—telah mengalami kemajuan yang signifikan, penatalaksanaan klinis hingga kini belum menawarkan opsi korektif. Pendekatan pengeditan genom spesifik alel yang mulai berkembang mengusulkan penghilangan atau penghambatan terarah terhadap salinan ekstra kromosom 21. Tinjauan ini merangkum bukti terkini serta mengevaluasi relevansi translasional teknologi tersebut dalam kedokteran perinatal.Metode: Tinjauan naratif dilakukan dengan mengikuti prosedur yang selaras dengan PRISMA. Pencarian terstruktur terhadap PubMed, Scopus, dan Web of Science (Januari 2000–Juli 2025) mengidentifikasi 1.242 rekaman. Setelah penghapusan duplikasi, penyaringan judul/abstrak, dan penilaian teks lengkap berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan, sebanyak 54 studi memenuhi persyaratan kelayakan. Data disintesis ke dalam empat domain: strategi mekanistik, aplikabilitas perkembangan, kelayakan translasional, serta pertimbangan etika dan regulasi.Hasil: Studi CRISPR-Cas9 spesifik alel menunjukkan pemotongan selektif terhadap kromosom 21 supernumerari pada model seluler, dengan pemulihan parsial pola transkripsi menuju profil ekspresi gen yang menyerupai kondisi euploid. Pendekatan lain—seperti penghambatan berbasis XIST dan destabilisasi sentromer—menyediakan mekanisme alternatif dengan tingkat kestabilan dan spesifisitas yang bervariasi. Bukti saat ini terbatas pada sistem in vitro, tanpa aplikasi yang tervalidasi pada embrio maupun janin. Tantangan utama meliputi mosaikisme, hambatan pengantaran, kebutuhan penargetan SNP individual, serta tata kelola etis.Kesimpulan: Pengeditan kromosom spesifik alel merupakan arah yang menjanjikan, namun masih bersifat eksperimental bagi terapi perinatal di masa mendatang. Temuan saat ini mendukung keberlanjutan penelitian multidisipliner, sekaligus menekankan perlunya interpretasi yang hati-hati dan pengawasan etika yang ketat sebelum penerapannya dalam praktik klinis.Kata Kunci: Bedah genom janin; CRISPR-Cas9; Penyuntingan gen perinatal; Terapi kromosom; Trisomi 21
Cadmium Exposure and Preeclampsia: A Systematic Review of Environmental Risk in Pregnancy I Nyoman Hariyasa Sanjaya; Wiku Andonotopo; Muhammad Adrianes Bachnas; Julian Dewantiningrum; Mochammad Besari Adi Pramono; Ryan Saktika Mulyana; Evert Solomon Pangkahila; Muhammad Ilham Aldika Akbar; Cut Meurah Yeni; Dudy Aldiansyah; Nuswil Bernolian; Anak Agung Gede Putra Wiradnyana; Adhi Pribadi; Sri Sulistyowati; Milan Stanojevic; Asim Kurjak
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.951

Abstract

Objective: To systematically evaluate current scientific evidence on the association between cadmium (Cd) exposure and the risk of preeclampsia in pregnant women, and to explore underlying mechanisms and population-specific patterns.Methods: This systematic review was conducted according to PRISMA guidelines. Comprehensive literature searches were performed across PubMed, Scopus, Web of Science, ScienceDirect, and Google Scholar without time restriction, focusing on the past 15 years. Inclusion criteria encompassed original human studies measuring cadmium exposure—biological, dietary, or environmental—and reporting preeclampsia as an outcome. Risk of bias was assessed using the Newcastle-Ottawa Scale.Results: Twenty-five eligible studies were included, spanning case-control, cohort, and cross-sectional designs across diverse geographic regions. Most studies found a positive association between cadmium exposure and increased preeclampsia risk, though methodological heterogeneity exists. Proposed mechanisms include cadmium-induced oxidative stress, endothelial dysfunction, placental insufficiency, and hormonal dysregulation. Evidence also highlights differences in risk based on diet, region, and environmental regulation. However, inconsistencies in exposure metrics and population stratification remain.Conclusion: The cumulative evidence suggests cadmium is a plausible environmental risk factor for preeclampsia. Future research must standardize exposure assessments and address population-specific modifiers. This review provides critical groundwork for hypothesis-driven studies and policy frameworks addressing toxic metal exposure in maternal health.Paparan Kadmium dan Preeklampsia: Tinjauan Sistematis terhadap Risiko Lingkungan pada KehamilanAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan sistematis terhadap bukti ilmiah terkini mengenai hubungan antara paparan kadmium (Cd) dan risiko preeklampsia pada ibu hamil, serta mengeksplorasi mekanisme biologis yang mendasari dan pola risiko spesifik populasi.Metode: Tinjauan sistematis ini disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan secara menyeluruh melalui basis data PubMed, Scopus, Web of Science, ScienceDirect, dan Google Scholar tanpa batasan waktu, dengan fokus pada publikasi 15 tahun terakhir. Kriteria inklusi meliputi penelitian asli pada manusia yang mengukur paparan kadmium—baik secara biologis, dietetik, maupun lingkungan—dan melaporkan preeklampsia sebagai luaran. Risiko bias dinilai menggunakan Newcastle-Ottawa Scale.Hasil: Sebanyak 25 studi memenuhi kriteria dan dianalisis, mencakup desain studi kasus-kontrol, kohort, dan potong lintang dari berbagai wilayah geografis. Mayoritas studi menunjukkan adanya hubungan positif antara paparan kadmium dan peningkatan risiko preeklampsia, meskipun terdapat heterogenitas metodologis. Mekanisme yang diusulkan meliputi stres oksidatif akibat kadmium, disfungsi endotel, insufisiensi plasenta, dan disregulasi hormonal. Bukti juga menunjukkan perbedaan risiko berdasarkan pola diet, lokasi geografis, dan tingkat pengawasan lingkungan. Namun, masih terdapat ketidakkonsistenan dalam metrik paparan dan stratifikasi populasi.Kesimpulan: Bukti kumulatif mendukung bahwa kadmium merupakan faktor risiko lingkungan yang potensial terhadap preeklampsia. Penelitian selanjutnya perlu menstandarkan metode pengukuran paparan dan mempertimbangkan faktor-faktor spesifik populasi. Tinjauan ini memberikan landasan penting bagi studi berbasis hipotesis dan penyusunan kebijakan terkait paparan logam toksik dalam kesehatan maternal.Kata kunci: Komplikasi kehamilan; paparan kadmium; preeklampsia; stres oksidatif; toksikologi lingkungan