Dikotomi ilmu agama dan ilmu umum telah menjadi problem epistemologis yang mengakar dalam tradisi akademik Islam kontemporer, menghasilkan fragmentasi keilmuan yang menghambat pengembangan paradigma integratif. Penelitian ini menganalisis paradigma baru keilmuan Islam yang mengintegrasikan ilmu, teknologi, dan spiritualitas sebagai respons terhadap tantangan epistemologis era Society 5.0 dan Industry 5.0. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dan kerangka analisis multidimensi yang mencakup dimensi epistemologis, kurikular, teknologis, spiritual, dan institusional, penelitian ini mengembangkan model transformasi berfase empat yakni dekonsruksi, reorientasi, integrasi, dan institutionalisasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemikiran Al-Attas tentang dewesternization, Al-Faruqi tentang Islamisasi ilmu, dan Amin Abdullah tentang integrasi-interkoneksi memberikan fondasi epistemologis yang saling melengkapi bagi paradigma baru ini. Framework yang dikembangkan mengidentifikasi lima dimensi integratif dengan indikator terukur untuk menilai tingkat integrasi ilmu-teknologi-spiritualitas dalam lembaga pendidikan Islam. Studi kasus terhadap tiga universitas Islam di Indonesia menunjukkan variasi signifikan dalam implementasi paradigma integratif. Penelitian ini merekomendasikan reformulasi epistemologi keilmuan Islam, pengembangan kurikulum transdisipliner berbasis tauhid, dan penguatan infrastruktur teknologi-spiritualitas sebagai strategi transformasi keilmuan Islam kontemporer