Digitalisasi dakwah telah membawa transformasi fundamental dalam lanskap keberagamaan Indonesia, namun pada saat yang sama memicu fenomena polarisasi keagamaan yang mengancam ketahanan sosial. Penelitian ini menganalisis peran moderasi beragama sebagai strategi ketahanan sosial dalam menghadapi polarisasi keagamaan pasca digitalisasi dakwah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-analitis dan kerangka analisis multidimensi yang mencakup dimensi teologis, sosiologis, digital, institusional, dan kultural, penelitian ini mengembangkan model transformasi berfase empat yakni identifikasi, mitigasi, resiliensi, dan transformasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa algoritma media sosial menciptakan enklave digital yang memperkuat segregasi keagamaan, sementara otoritas keagamaan tradisional mengalami delegitimasi oleh munculnya dai selebritas dan ustadz influencer. Framework yang dikembangkan mengidentifikasi lima dimensi integratif dengan indikator terukur untuk menilai tingkat moderasi beragama di ruang digital. Studi kasus terhadap tiga lembaga keagamaan di Indonesia menunjukkan variasi signifikan dalam respons institusional terhadap polarisasi digital. Penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi digital keagamaan, reformulasi otoritas dakwah berbasis kompetensi, dan pembangunan ekosistem digital yang inklusif sebagai strategi ketahanan sosial berkelanjutan
Copyrights © 2026