Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Kualitas Penanganan Ikan Tunas dan Rantai Dingin Berkelanjutan melalui Pembelajaran Partisipatif Hani Widhianata; Fidela Dzatadini Wahyudi; Sri Wahyuni; Sri Rahmawati
Educate: Journal of Community Service in Education Vol 6 No 1 (2026): Educate: Journal of Community Service in Education
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan tuna merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi yang rentan terhadap penurunan kualitas tanpa penerapan rantai dingin yang tepat. Namun, keterbatasan pengetahuan masyarakat dalam penanganan ikan masih menjadi tantangan, termasuk pada aktivitas di sekitar fasilitas cold storage yang berjarak 38 km dari Tempat Penangkapan Ikan (TPI). Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pembelajaran partisipatif dalam monitoring kualitas ikan tuna berbasis pengelolaan rantai dingin. Kegiatan dilaksanakan selama lima bulan dengan melibatkan 45 peserta dan mencakup empat tahap, yaitu penilaian awal, pelatihan Good Handling Practices (GHP), implementasi monitoring suhu pada setiap titik kritis rantai dingin, serta analisis kualitas ikan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan kualitas ikan tuna, ditandai dengan kenaikan skor sensorik dari 5,2 menjadi 7,8, penurunan pH dari 6,8 menjadi 6,1, serta peningkatan kepatuhan suhu dari 12% menjadi 89%. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran partisipatif efektif dalam meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus memperkuat kinerja rantai dingin, yang berdampak pada penurunan kehilangan hasil pascapanen dan peningkatan nilai ekonomi produk perikanan. Selain itu, program ini juga memperkuat kolaborasi antaraktor rantai pasok dalam membangun sistem distribusi ikan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berbasis bukti lapangan di wilayah mitra yang dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi di lapangan setempat.
GREEN TRANSITION, UNEQUAL BURDENS: GENDER INEQUALITY AND THE JUSTICE GAP IN ASEAN Fidela Dzatadini Wahyudi; Si Yusuf Al Hafiz; Muhamad Irwan; Angger Dimas Bayu Sadewo
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol. 5 No. 7 (2026)
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/sibatik.v5i7.5214

Abstract

The green transition is expected to reduce environmental burdens and widen social justice, yet these gains do not necessarily advance together. This study examines whether renewable-energy progress across ASEAN has been accompanied by comparable improvements in environmental conditions and gender equality. Using a comparative longitudinal design, country-level data from Our World in Data for 2016–2023 were analyzed in Python through Sen’s slope estimation, standardized directional trends, and cross-country trajectory mapping. The results reveal an asynchronous green transition, in which energy, environmental, and gender trajectories move at substantially different speeds. Malaysia demonstrates the most relatively aligned trajectory, whereas Cambodia, Indonesia, Laos, and Thailand record renewable-energy progress without comparable improvements in PM2.5 exposure. Gender inequality improves across the observed countries, but its pace varies considerably and does not consistently correspond with either renewable-energy growth or environmental improvement. These findings challenge the assumption that technological progress naturally translates into broader justice outcomes. This study conceptualizes such divergence as the green transition–justice gap: the distance between progress in energy transformation and its translation into environmental and gender-justice outcomes. The findings reposition law and institutions as critical mechanisms for connecting technological change with the distribution of environmental and social benefits. For ASEAN, the quality of green transition should therefore be judged not only by how rapidly energy systems become greener, but by how consistently that progress reduces environmental burdens and advances social justice.