Yono Sugi Anom Darmawan
Airlangga University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonstruksi Keadilan Kontraktual dalam Perjanjian Kemitraan BUMDesa Sebagai Instrumen Penguatan Ketahanan Pangan Ridwanto Igirisa; Budi Santoso; Ery Agus PRiyono; Yono Sugi Anom Darmawan
Private Law Vol 6 No 2 (2026): Private Law Universitas Mataram
Publisher : Faculty of Law, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/5mh74s63

Abstract

Penelitian ini membahas peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung ketahanan pangan desa melalui penguatan kelembagaan, pemanfaatan Dana Desa, dan optimalisasi potensi ekonomi lokal. BUMDes tidak hanya diposisikan sebagai instrumen ekonomi desa, tetapi juga sebagai badan hukum yang memiliki fungsi strategis dalam menghubungkan kebijakan pembangunan desa dengan kebutuhan pangan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan regulasi desa, khususnya melalui Undang-Undang Desa, Peraturan Pemerintah tentang BUMDes, serta kebijakan penggunaan Dana Desa, telah memberikan dasar hukum yang lebih kuat bagi BUMDes untuk berperan dalam program ketahanan pangan. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala berupa lemahnya tata kelola, keterbatasan kapasitas manajerial, potensi elite capture, belum optimalnya partisipasi masyarakat, serta belum kuatnya perlindungan hukum dalam hubungan usaha dengan petani, konsumen, dan mitra bisnis. Selain itu, banyak BUMDes belum memiliki model bisnis pangan yang terintegrasi dengan data produksi, kebutuhan pasar, dan mekanisme pengawasan desa. Oleh karena itu, penguatan BUMDes perlu diarahkan pada tata kelola yang transparan, akuntabel, berbasis partisipasi, dan berorientasi pada keberlanjutan ekonomi lokal. BUMDes juga perlu didorong untuk membangun rantai nilai pangan desa melalui pengelolaan produksi, distribusi, penyimpanan, dan pemasaran produk lokal. Dengan demikian, BUMDes dapat menjadi instrumen hukum dan ekonomi yang efektif dalam memperkuat kemandirian desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendukung agenda nasional swasembada pangan. 
A Critical Constitutional Analysis of Expanding the State Budget Deficit Limit through a Government Regulation in Lieu of Law (Perppu): Assessing the “Compelling Urgency” Requirement Yono Sugi Anom Darmawan; Amelia Karima Eliana; Jennifer Kristian Mantiri
Adagium: Jurnal Ilmiah Hukum Vol 4 No 2 (2026): Adagium: Jurnal Ilmiah Hukum
Publisher : PT. Meja Ilmiah Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70308/yzgspc12

Abstract

This study examines the discourse surrounding the proposed increase in Indonesia’s state budget (APBN) deficit beyond the statutory ceiling of 3% of GDP through a Government Regulation in Lieu of Law (Perppu). The research is motivated by intensifying global economic pressures arising from geopolitical tensions in the Middle East, particularly disruptions to global energy supply chains that may significantly affect Indonesia as a net oil-importing country. Nevertheless, this study argues that external shocks alone do not account for fiscal deficit pressures, as internal fiscal inefficiencies and policy choices may also contribute to the deterioration of the fiscal position. From a constitutional and legal perspective, the proposed policy must be assessed against Law No. 17 of 2003 on State Finance and Article 22 of the 1945 Constitution, as interpreted by Constitutional Court Decision No. 138/PUU-VII/2009, which establishes the constitutional parameters for the issuance of a Perppu based on the existence of a “compelling urgency.” This research employs a normative juridical method complemented by statistical analysis of global oil price movements, fiscal deficit developments, and capital outflow indicators. The analysis focuses on whether the proposed expansion of the deficit ceiling is attributable exclusively to external economic shocks and whether the issuance of a Perppu satisfies the constitutional requirements of a “compelling urgency.” The study argues that the proposed policy may not fully satisfy this constitutional criterion because a portion of the fiscal pressure derives from internally generated inefficiencies, creating what may be characterized as a form of “self-inflicted urgency.” Accordingly, mechanisms provided under the existing budgetary framework, particularly an amendment to the APBN (APBN-P), may constitute a more constitutionally appropriate and procedurally accountable alternative to the issuance of a Perppu.