Perkembangan psikologis remaja merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal dan eksternal, di mana dukungan sosial berfungsi sebagai mekanisme perlindungan yang fleksibel dan adaptif. Dukungan sosial membantu remaja menghadapi stressor dan tantangan perkembangan menjadi esensial dalam membangun psychological well-being yang baik. Data dari Dinkes Kota Banjarmasin menunjukkan prevalensi depresi mencapai 316 orang pada populasi usia ≥15 tahun. Studi pendahuluan pada 10 siswa SMA Negeri 8 Banjarmasin mengungkapkan bahwa meskipun mayoritas menerima dukungan sosial dari berbagai sumber, sebagian signifikan masih mengalami kekurangan yang berpotensi mempengaruhi psychological well-being mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being pada remaja SMA Negeri 8 Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif korelasional dengan desain cross-sectional melibatkan 175 responden dari kelas XI. Dukungan sosial diukur menggunakan Skala CASSS dengan 40 item mencakup dukungan dari orang tua, guru, teman sekelas, dan teman dekat. Psychological well-being diukur dengan Ryff's Psychological Well-Being Scale (43 item) mengukur enam dimensi: penerimaan diri, hubungan positif, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p<0,05. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden menerima dukungan sosial tinggi (53,7%), sementara psychological well-being mayoritas berada pada kategori cukup (96,6%). Analisis mengungkapkan korelasi positif signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin baik psychological well-being remaja.