Penciptaan ruang aman bagi anak usia dini di satuan PAUD saat ini sering kali didelegasikan secara sepihak kepada sekolah, sementara keluarga hanya dianggap sebagai pihak penitip anak. Ketidakselarasan pola pengasuhan ini berisiko memicu kebingungan karakter dan menurunkan efektivitas perlindungan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menyintesis bentuk kolaborasi antara orang tua dan pihak sekolah dalam menciptakan ruang aman yang multi-dimensi (fisik, psikologis, dan sosial) bagi anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur (literatur review). Data sekunder dikumpulkan secara sistematis melalui penelusuran digital pada basis data akademik, dengan kriteria inklusi jurnal ilmiah dan regulasi formal lima tahun terakhir yang dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi yang terstruktur dan setara menjadi determinan utama dalam membangun jaring pengaman berlapis (multi-layered safety). Sinkronisasi nilai melalui komunikasi dua arah, program parenting, dan pelibatan orang tua terbukti berdampak signifikan dalam menurunkan kecemasan anak serta memaksimalkan deteksi dini kekerasan. Meskipun di lapangan terdapat hambatan berupa keterbatasan waktu dan ekspektasi sepihak, tantangan tersebut dapat diatasi melalui strategi rekonstruktif seperti formulasi Kontrak Kerja Sama Belajar, optimalisasi teknologi informasi untuk edukasi daring, dan program kunjungan rumah (home visit) secara humanis. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa sinergi yang kokoh antara rumah dan sekolah merupakan kebutuhan mutlak demi menjamin keselamatan, kesejahteraan (well-being), dan perlindungan hakiki anak pada fase usia emas.