Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Literature Review on the Use of Technology-Based Learning Media in the Context of Distance Learning Lufita Sari Sitorus; Muhammad Ilyas Sipahutar; Saidatun Nisa Nasution; Leli Purnama; Topan Iskandar
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/bkxg7355

Abstract

Perubahan sistem pendidikan akibat pandemi COVID-19 telah mendorong lembaga pendidikan untuk beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat utama dalam proses belajar mengajar. Metode ini dilakukan melalui studi literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai artikel jurnal nasional maupun internasional yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir (2020–2025). Analisis difokuskan pada tren, efektivitas, dan tantangan dalam implementasi media pembelajaran tersebut dalam konteks pendidikan modern. Temuan kajian menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis teknologi seperti Learning Management System (LMS), video pembelajaran, aplikasi interaktif, dan media sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran jarak jauh. Namun, efektivitas media ini sangat bergantung pada kesiapan guru, ketersediaan infrastruktur, serta kemampuan literasi digital peserta didik. Kajian ini merekomendasikan pengembangan program pelatihan teknologi bagi pendidik serta perancangan media yang lebih adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Temuan dari kajian pustaka ini diharapkan tidak hanya menjadi landasan teoritis, tetapi juga sebagai acuan praktis bagi para pembuat kebijakan, pendidik, dan pengembang kurikulum dalam merancang strategi pembelajaran berbasis teknologi yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Dengan memahami tren, tantangan, dan potensi berbagai media pembelajaran dalam konteks PJJ, para pemangku kepentingan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang responsif terhadap kemajuan teknologi.
Transformasi Evaluasi Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan Generatif: Kajian Pustaka Atas Redesain Asesmen Otentik, Validitas-Reliabilitas Instrumen, dan Pergeseran ke Evaluasi Formatif di Pendidikan Tinggi Saidatun Nisa Nasution
Tarbiyah : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran Vol 5 No 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : DIKLINKO JOURNALS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i2.269

Abstract

The proliferation of generative artificial intelligence (generative AI) tools has shaken the fundamental assumptions of learning evaluation in higher education, particularly the premise that a piece of writing submitted by a student reliably reflects that individual's own competence. This study employs a qualitative design with a library research approach to examine how the field of learning evaluation is responding to this disruption, focusing on three areas: (1) the redesign of assessment instruments toward AI-resistant authentic tasks; (2) the validity and reliability of AI detection instruments used to safeguard evaluation integrity; and (3) the paradigm shift from summative toward formative evaluation enabled by generative AI-based feedback. Data were collected from indexed journals, one international-scale multi-tool empirical study, and classical evaluation theory literature published between 2011 and 2025, and were subsequently analyzed thematically. The findings indicate that the assessment redesign literature converges on process-oriented and higher-order thinking tasks that are structurally difficult to fully automate, in line with constructive alignment theory. However, empirical testing of AI detection tools reveals serious reliability issues, with accuracy rates below 80% for the majority of tools tested, as well as documented risks of false accusation, rendering such tools unsuitable as the sole evidence in high-stakes evaluation decisions. Meanwhile, automated feedback based on generative AI shows potential for scaling rapid formative feedback, although its pedagogical quality remains variable and continues to require human oversight. This study concludes that an accountable evaluation system in the era of generative AI must simultaneously redesign the object being assessed, treat detection technology as supporting rather than definitive evidence, and redirect the culture of evaluation from summative gatekeeping toward sustainable and dialogic formative practice.
Rekonstruksi Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Islam: Integrasi Landasan Filosofis-Teologis, Asesmen Autentik, Dan Transformasi Digital Saidatun Nisa Nasution
TARBIYAH: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5 No. 1 (2026): Tarbiyah
Publisher : STAI UISU Pematangsiantar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) selama ini banyak dikritik karena masih berorientasi dominan pada ranah kognitif, sementara dimensi afektif, psikomotorik, dan spiritual, yang justru menjadi inti dari pendidikan Islam, cenderung termarjinalkan. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep evaluasi pembelajaran PAI melalui tiga fokus kajian, yaitu: (1) landasan filosofis-teologis evaluasi yang holistik, (2) implementasi asesmen autentik sebagai jawaban atas keterbatasan evaluasi konvensional, dan (3) peluang serta tantangan transformasi digital dalam evaluasi pembelajaran di era Kurikulum Merdeka dan Society 5.0. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), di mana data dikumpulkan dari artikel jurnal nasional dan internasional bereputasi serta buku akademik, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa paradigma evaluasi holistik, yang mengintegrasikan ranah kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual, memberikan legitimasi teologis yang lebih kuat dalam menilai keberhasilan pembelajaran PAI. Asesmen autentik, melalui teknik observasi, portofolio, penilaian diri, dan jurnal reflektif, terbukti mampu menangkap internalisasi nilai keagamaan yang tidak dapat diukur oleh tes konvensional. Sementara itu, transformasi digital menawarkan efisiensi dan transparansi penilaian, namun sekaligus memunculkan tantangan terkait literasi digital guru, kesenjangan infrastruktur, dan risiko tereduksinya makna spiritual asesmen menjadi sekadar otomatisasi teknis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model ideal evaluasi pembelajaran PAI harus mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut secara sinergis untuk menghasilkan penilaian yang tidak hanya valid secara akademik, tetapi juga bermakna secara spiritual.