Evaluasi pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) selama ini banyak dikritik karena masih berorientasi dominan pada ranah kognitif, sementara dimensi afektif, psikomotorik, dan spiritual, yang justru menjadi inti dari pendidikan Islam, cenderung termarjinalkan. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep evaluasi pembelajaran PAI melalui tiga fokus kajian, yaitu: (1) landasan filosofis-teologis evaluasi yang holistik, (2) implementasi asesmen autentik sebagai jawaban atas keterbatasan evaluasi konvensional, dan (3) peluang serta tantangan transformasi digital dalam evaluasi pembelajaran di era Kurikulum Merdeka dan Society 5.0. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), di mana data dikumpulkan dari artikel jurnal nasional dan internasional bereputasi serta buku akademik, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa paradigma evaluasi holistik, yang mengintegrasikan ranah kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual, memberikan legitimasi teologis yang lebih kuat dalam menilai keberhasilan pembelajaran PAI. Asesmen autentik, melalui teknik observasi, portofolio, penilaian diri, dan jurnal reflektif, terbukti mampu menangkap internalisasi nilai keagamaan yang tidak dapat diukur oleh tes konvensional. Sementara itu, transformasi digital menawarkan efisiensi dan transparansi penilaian, namun sekaligus memunculkan tantangan terkait literasi digital guru, kesenjangan infrastruktur, dan risiko tereduksinya makna spiritual asesmen menjadi sekadar otomatisasi teknis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model ideal evaluasi pembelajaran PAI harus mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut secara sinergis untuk menghasilkan penilaian yang tidak hanya valid secara akademik, tetapi juga bermakna secara spiritual.