Abd. Muid N.
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TEO-ANTROPOSENTRISME DALAM PARADIGMA HUKUM ISLAM: REORIENTASI FIKIH SOSIAL INKLUSIF Muhammad Aulal Fikri Al-hasani; Abd. Muid N.; Kerwanto Kerwanto
J-Alif : Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah dan Budaya Islam Vol 10, No 2 (2025): J-Alif, Volume 10, Nomor 2, November 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jalif.v10i2.6821

Abstract

In contemporary discourse, Islamic legal reasoning is often the primary focus of in-depth study. Philosophical studies of Islamic legal reasoning, especially the classical approaches, are often considered outdated by some contemporary thinkers. This argument arises because legal reasoning in the classical paradigm tends to be literalistic and static. As a result, the products of ijtihād in the classical paradigm often struggle to find relevance in the contemporary legal landscape. Therefore, it is crucial to seek a conception of Islamic legal reasoning that can integrate various fields of knowledge without marginalizing God's Sharia as the absolute authority. This is where theo-anthropocentrism becomes relevant. This research is a literature review on the concept of theo-anthropocentrism within the Islamic legal paradigm. As an analytical tool, the author employs integrative-interconnective theory as a basis for systematically constructing arguments. As a result, the principles of theo-anthropocentrism can, to a certain extent, become a new axis for progressive and inclusive Islamic legal reasoning. In its epistemological construction, theo-anthropocentrism emphasizes three core foundations. First, it places sacred texts as the primary object of study. Second, it considers various fields of knowledge holistically, including both religious and general sciences. Finally, it integrates these two dimensions harmoniously and comprehensively by emphasizing the principle of benefit (maslaḥah).
LGBTQ+ dalam Al-Qur’an: Studi Penafsiran Siti Musdah Mulia Muhammad Zen Habibie; Abd. Muid N.; Aldomi Putra
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 2 (2026): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/ye7wnd21

Abstract

Penelitian ini menganalisis penafsiran Siti Musdah Mulia terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan isu LGBTQ+ serta membandingkannya dengan kecenderungan penafsiran lain. Penelitian bertujuan mengidentifikasi konstruksi, sumber, metode, dan implikasi kritis dari penafsirannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya-karya Siti Musdah Mulia, kitab tafsir, buku, artikel jurnal, dan penelitian terdahulu, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis dengan pola induktif. Hasil penelitian menunjukkan enam konstruksi utama, yaitu orientasi seksual dipahami sebagai kondisi yang tidak sepenuhnya merupakan pilihan, sedangkan perilaku seksual diposisikan sebagai tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan; homoseksualitas dibedakan dari liwāṭ; kaum Nabi Luth a.s. dipahami memiliki kecenderungan biseksual; perilaku tercela mereka tidak direduksi hanya pada homoseksualitas; pemberian azab ditempatkan sebagai hak prerogatif Allah; serta martabat manusia dan perlindungan dari diskriminasi ditekankan. Penafsirannya menggunakan metode tematik (maudhū’i), holistik, dan kontekstual-sosiohistoris dengan memanfaatkan Al-Qur’an, hadis, tafsir terdahulu, rasio, pengalaman empiris, dan pengetahuan kontemporer. Perbandingan dengan penafsiran lain menunjukkan perbedaan mengenai fitrah, tujuan seksualitas, makna pasangan, serta hubungan antara orientasi dan perilaku seksual. Analisis kritis menempatkan seksualitas sebagai zīnah, matā’, dan libās, sebagai sarana menjaga keberlanjutan manusia, serta sebagai jalan menuju sakīnah. Penelitian menyimpulkan bahwa perbedaan penafsiran terhadap isu LGBTQ+ sangat dipengaruhi oleh perbedaan epistemologi dan metodologi tafsir. Temuan ini memperkaya kajian tafsir kontemporer, terutama dalam memahami hubungan antara teks, konteks, ilmu pengetahuan, dan nilai kemanusiaan, sekaligus memberikan dasar akademik bagi pembahasan seksualitas dalam pendidikan Islam yang lebih argumentatif dan bertanggung jawab.