Aldomi Putra
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ANALISIS DOMINASI CORAK FALSAFI DALAM TAFSIR MAFÂTÎH AL-GAYB Ostrada Pahlawan; Jun Firmansyah; Aldomi Putra
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 3 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i3.1586

Abstract

Tafsir Mafâtîh al-Gayb karya Fakhruddin al-Razi diklasifikasikan Al-Dzahabi sebagai tafsîr bi al-ra`yi dengan corak filsafat. Akan tetapi, ia tidak memberikan contoh konkret dari penafsiran dalam karyanya yang menggunakan pendekatan falsafi. Hal tersebut merupakan sesuatu yang penting diperhatikan agar pembaca mengetahui penafsiran mana dalam kitab Mafâtîh al-Gayb yang menggunakan pendekatan falsafi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan investigasi terhadap berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal, dan materi lain yang relevan dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya tafsir Mafâtîh al-Gayb mengadopsi pendekatan interdisipliner yang mencakup berbagai disiplin ilmu seperti teologi, filsafat, tasawwuf, fiqh, qiraat, bahasa, dan ilmu-ilmu lainnya. Al-Razi menerapkan beberapa pendekatan secara simultan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur`an. Meskipun demikian, pendekatan filsafat mendominasi pada ayat-ayat yang berkaitan dengan entitas ketuhanan, sifat-sifat Allah Swt., dan Kenabian, yang diwarnai dengan elemen-elemen teologis dalam penafsirannya. Ini mengindikasikan bahwa pendekatan filosofis tidak terlalu mendominasi dalam tafsirnya, melainkan hanya mendominasi pada pembahasan ayat-ayat tertentu. Al-Razi Menggunakan pendekatan filosofis dalam tafsir untuk mengkritik pandangan-pandangan filosof yang tidak sesuai dalam penafsiran, yang mana hal tersebut berbeda dengan ulama lain yang mencoba menyelaraskan pandangan filosofis dengan teks-teks agama.
ORIENTASI TAFSIR RAMAH GENDER DI MAJLIS TA’LIM MASJID AN-NUR, BABELAN BEKASI Aldomi Putra; Salman Faris; Muslimah Paxia Ilyas; Muhammad Hariyadi; Ahmad Zulki; Panggih Widodo
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sharia law found in the Qur'an still requires interpretation and has the potential to evolve. Abdullahi Ahmed An-Na'im answers the gap between sharia and issues of modernity. The deconstruction of sharia is used in the problem of Islamic law with current issues using an analytical knife in the form of Mahmud Thaha's theory of legal evolution, the theory of nasikh mansukh, Makiyyah and Madaniyyah, the meaning of gender texts and the concept of sharia on human rights. All Muslims in the world have the right to apply Islamic law as long as it does not violate the rights of other people, other groups or other religions
TRAINING ISLAM DAN BUDAYA LOKAL: TAFSIR QS AL-BAQARAH:177 DALAM GAGASAN PRIBUMISASI ISLAM ABDURRAHMAN WAHID DI HIMPUNAN MAHASISWA YAYASAN AL-KAHFI Kholilurrohman Kholilurrohman; Nur Fitriana; Amira Fauziah; Sunarto Sunarto; Aldomi Putra; Enok Ghosiyah
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study explores the integration of universal Islamic values with local culture through an analysis of the interpretation of QS Al-Baqarah verse 177 within the framework of Islamic indigenization (pribumisasi Islam) as conceptualized by Abdurrahman Wahid (Gus Dur). The verse is chosen for its emphasis on the principles of al-birr (righteousness), which encompasses not only theological aspects but also social and humanistic dimensions. Using a qualitative approach through literature review, this research examines how Gus Dur interprets righteousness as concrete social action and how he articulates these values within the pluralistic context of Indonesian society. The findings indicate that Gus Dur views QS Al-Baqarah:177 as theological justification for the integration of Islamic teachings and local culture, where values such as justice, equality, and solidarity with the marginalized serve as the foundation of social ethic
PRINSIP-PRINSIP KONSERVASI LINGKUNGAN DI DALAM AL-QUR’AN Hasan Ayatullah; Aldomi Putra; Nurbaiti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 13 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr
Publisher : Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jimrf.v13i1.11259

Abstract

The global ecological crisis has sparked widespread debate about the human-nature relationship since the 1960s. Lynn White, Jr. criticized the anthropocentric tendencies in Judeo-Christian traditions, which he argued contributed to environmental degradation. In contrast, the principles of environmental conservation in the Qur’an remain underexplored. This study addresses this gap by examining ecological concepts in the Qur’an and their implications for environmental sustainability. Using a qualitative literature review methodology, we systematically analyze relevant Qur’anic verses and scientific interpretations to elucidate these principles. Our findings reveal two key concepts: first, the Qur’an integrates environmental stewardship with faith, asserting that true belief necessitates environmental responsibility. Second, the Qur’an designates humans as stewards (khalīfah) of the Earth, tasked with its wise management and care. This study contributes to the discourse on religion and ecology by highlighting the potential role of the Qur’an in promoting sustainable environmental practices
Criticism of Positivism and Its Relevance to Az-Zahabi's Criticism of Ibn 'Arabi's Interpretation Asnadi Asnadi; Aldomi Putra
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i3.14554

Abstract

Since the 19th century, positivism has prevailed in modern science via empirical observation, sensory verification, and objective reason. Although it has propelled advancements in science and technology, positivism fosters reductionism, thereby marginalizing unquantifiable entities, including spiritual and metaphysical realities. This constraint is particularly manifest in Islamic studies, notably in Sufi exegesis of the Qur'an, which depends on symbolism, inner signs, and spiritual experiences. Ibn ‘Arabi, a distinguished Sufi philosopher, offers speculative and figurative exegeses in texts such as al-Futūḥāt al-Makkiyyah and Fuṣūṣ al-Ḥikam, sometimes criticised for straying from literal orthodoxy. Az-Zahabi, a distinguished hadith scholar, denounced these interpretations as perilous, emphasising textual integrity and rational criteria over spiritual insights. These discussions highlight epistemological challenges between empirical rigor and transcendent sources of knowledge. This study uses a qualitative library research methodology to epistemologically examine Az-Zahabi’s critique of Ibn ‘Arabi’s interpretations of the Qur’an. An interdisciplinary approach integrates the philosophy of science with Qur’anic exegesis. Primary sources encompass Az-Zahabi’s Siyar Aʿlām al-Nubalā’ and Mizān al-Iʿtidal, in addition to the principal works of Ibn ‘Arabi. Secondary sources offer theoretical and contextual assistance. Data analysis employs descriptive and interpretive methodologies, including literature reviews, textual analyses to reveal interpretive assumptions, epistemological evaluations, and comparative syntheses. The findings demonstrate the insufficiency of positivism for esoteric religious knowledge, mirroring Az-Zahabi's argument centered on orthodoxy. Ibn ‘Arabi’s approach prioritises spiritual realisation above empirical constraints, facilitating a more profound understanding of texts. Critiquing positivism fosters an awareness of multiple Islamic epistemologies and methodological diversity, facilitating a comprehensive study of sacred texts.
LGBTQ+ dalam Al-Qur’an: Studi Penafsiran Siti Musdah Mulia Muhammad Zen Habibie; Abd. Muid N.; Aldomi Putra
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 2 (2026): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/ye7wnd21

Abstract

Penelitian ini menganalisis penafsiran Siti Musdah Mulia terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan isu LGBTQ+ serta membandingkannya dengan kecenderungan penafsiran lain. Penelitian bertujuan mengidentifikasi konstruksi, sumber, metode, dan implikasi kritis dari penafsirannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya-karya Siti Musdah Mulia, kitab tafsir, buku, artikel jurnal, dan penelitian terdahulu, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis dengan pola induktif. Hasil penelitian menunjukkan enam konstruksi utama, yaitu orientasi seksual dipahami sebagai kondisi yang tidak sepenuhnya merupakan pilihan, sedangkan perilaku seksual diposisikan sebagai tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan; homoseksualitas dibedakan dari liwāṭ; kaum Nabi Luth a.s. dipahami memiliki kecenderungan biseksual; perilaku tercela mereka tidak direduksi hanya pada homoseksualitas; pemberian azab ditempatkan sebagai hak prerogatif Allah; serta martabat manusia dan perlindungan dari diskriminasi ditekankan. Penafsirannya menggunakan metode tematik (maudhū’i), holistik, dan kontekstual-sosiohistoris dengan memanfaatkan Al-Qur’an, hadis, tafsir terdahulu, rasio, pengalaman empiris, dan pengetahuan kontemporer. Perbandingan dengan penafsiran lain menunjukkan perbedaan mengenai fitrah, tujuan seksualitas, makna pasangan, serta hubungan antara orientasi dan perilaku seksual. Analisis kritis menempatkan seksualitas sebagai zīnah, matā’, dan libās, sebagai sarana menjaga keberlanjutan manusia, serta sebagai jalan menuju sakīnah. Penelitian menyimpulkan bahwa perbedaan penafsiran terhadap isu LGBTQ+ sangat dipengaruhi oleh perbedaan epistemologi dan metodologi tafsir. Temuan ini memperkaya kajian tafsir kontemporer, terutama dalam memahami hubungan antara teks, konteks, ilmu pengetahuan, dan nilai kemanusiaan, sekaligus memberikan dasar akademik bagi pembahasan seksualitas dalam pendidikan Islam yang lebih argumentatif dan bertanggung jawab.
AL-TAFSIR AL-TARBAWIY LI AL-QUR’AN AL-KARIM DAN DESIGN THINKING : KONSTRUKSI MODEL ENAM EVOLUSI SOSIAL PENDIDIKAN TAUHID ANAK USIA DINI Lidya Fahrika Syaputri; Abd Aziz; Aldomi Putra
Jurnal Studi Islam Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/jsi.v15i1.13900

Abstract

Tawhid education in early childhood is an essential foundation in the formation of spiritual identity, moral orientation, and Islamic character. QS. Luqman 13 is one of the most representative verses in describing the process of monotheistic education because it features dialogical, affective, and transformative educational interactions between parents and children. On the other hand, the development of contemporary pedagogical theory shows the need for a learning approach that is not only normative but also constructive and experiential. Design thinking, grounded in the framework of 6 social evolution models, offers a new perspective on learning as a process of consciousness evolution that involves empathy, exploration, meaning formation, and behavioural transformation. This study aims to map the design thinking model of six social evolution in early childhood monotheistic education in QS. Luqman 13 is based on Tarbawi's interpretation. The research uses a qualitative approach and a literature review. The data were analysed through thematic analysis, then conceptually mapped to the stages of the social evolution model of learning. The results of the study show that monotheistic education in the verse reflects a process of learning evolution, starting with relational empathy, the exploration of the meaning of monotheism, the elaboration of faith values, exposure to spiritual awareness, the implementation of monotheistic behaviour, and the expansion of values in children's social lives. The integration of Tarbawi interpretation with design thinking produces an innovative, holistic, and contextual pedagogical framework for early childhood monotheistic education. Abstrak: Pendidikan tauhid pada anak usia dini merupakan fondasi esensial dalam pembentukan identitas spiritual, orientasi moral, dan karakter keislaman. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana konsep pendidikan tauhid dalam QS. Luqman (31): 13 dipahami melalui perspektif tafsir Tarbawi serta dipetakan dalam kerangka design thinking model enam evolusi sosial sebagai model pedagogis anak usia dini. Penelitian ini bertujuan memetakan model design thinking evolusi sosial pada pendidikan tauhid anak usia dini dalam QS. Luqman (31): 13 berdasarkan perspektif tafsir Tarbawi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur; data primer Al-Tafsīr Al-Tarbawī Li Al-Qur’ān Al-Karīm karya Anwar al-Baz, data sekunder buku dan jurnal pendidikan Islam, PAUD, dan design thinking; teknik analisis melalui reduksi, interpretasi, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan tauhid dalam ayat tersebut mencerminkan proses evolusi pembelajaran yang dimulai dari empati relasional, eksplorasi makna tauhid, elaborasi nilai keimanan, eksposur kesadaran spiritual, implementasi perilaku tauhid, hingga ekspansi nilai dalam kehidupan sosial anak. Implikasi penelitian integrasi tafsir Tarbawi dengan design thinking menghasilkan kerangka pedagogis yang inovatif, holistik, dan kontekstual untuk pendidikan tauhid anak usia dini. Kontribusi penelitian ini pengembangan paradigma pendidikan Islam yang integratif antara nilai wahyu dan teori pendidikan modern. Penelitian selanjutnya uji empiris model enam sosial evolusi pada konteks PAUD. Kata kunci: pendidikan tauhid, anak usia dini, design thinking, tafsir tarbawi, QS. Luqman: 13