Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendampingan Pelayanan Pengguna Jasa Pelabuhan Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk pada Momen Angkutan Lebaran 2026 Saiful Rohman; Geri Damayanto; Jovie Candra Purnama; Arman Hari Prasetyo; Moehammad Robith Nahdi
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/wrgxfc53

Abstract

Lintas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk merupakan jalur transportasi vital yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali. Pada setiap momen Angkutan Lebaran (Angleb), jalur ini mengalami lonjakan volume kendaraan dan penumpang yang sangat signifikan, mengakibatkan penumpukan di area buffer zone, meningkatnya waktu tunggu (waiting time), dan munculnya kendala teknis pada sistem e-ticketing Ferizy. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan membantu pihak ASDP dalam mengurai kepadatan lalu lintas pelabuhan, meningkatkan literasi digital tiket penyeberangan, serta memastikan kelancaran arus mudik dan balik melalui kolaborasi lintas sektor. Metode yang diterapkan adalah Participatory Action Researce (PAR) yang dikombinasikan dengan pendekatan Service Learning dengan menerjunkan tim yang terdiri atas 5 dosen pembimbing lapangan dan 80 taruna. Personel dibagi ke dalam dua wilayah operasional, yakni Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk, dengan sistem piket 2 shift selama 24 jam penuh. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa kehadiran tim PkM mampu mempercepat proses pengisian kapal (loading time) dari 30 menit menjadi 15-20 menit perkapal melalui penataan saf kendaraan yang teratur dan sistematis. Pendampingan proaktif di area toll gate juga secara signifikan menekan angka kegagalan transaksi tiket digital Ferizy. Selain memberikan dampak nyata pada kelancaran pelayanan publik sektor transportasi, kegiatan ini menjadi experiental learning yang berhasil mengonversi pemahaman teoritis taruna menjadi kompetensi praktis di lingkungan kerja bertekanan tinggi.
FEAR OF MISSING OUT (FOMO) AS A CONSUMPTION DETERMINANT IN THE DIGITAL ECONOMY AMONG AKABA CADETS: Fear of Missing Out (FOMO) sebagai Consumption Determinant dalam Ekonomi Digital di Kalangan Taruna AKABA Jovie Candra Purnama; Geri Damayanto
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 10 No 2 (2026): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v10i2.7848

Abstract

The escalation of the digital economy has reconstructed the consumption patterns of the younger generation, particularly through the psychological influence of Fear of Missing Out (FOMO). This qualitative study aims to explore the determinants of impulsive buying behavior among AKABA Cadets, a unique social group within a semi-military educational environment. Utilizing purposive sampling of 10 respondents, data were analyzed thematically through systematic reduction and categorization. The findings confirm that TikTok dominates consumption exposure at 60%, where social media algorithms trigger a purchase desire of up to 90% through scarcity marketing strategies. There is a significant disconnection between cognitive awareness of negative financial impacts and behavioral control; impulsive purchases are still executed to mitigate the risk of digital social isolation. This study fills a literature gap by shifting the focus from general consumers (the broader Gen Z) to a specific social group within a disciplined educational institution, a unique cultural environment previously under-explored in the context of the digital economy. Theoretically, this research maps the interaction between psychological determinants and the disciplinary structure of vocational education. It concludes that FOMO functions as a psychological consumption trigger capable of overriding economic rationality. The practical implications emphasize the urgency of strengthening financial and digital literacy as instruments to mitigate consumptive behavior within maritime educational institutions.