Kopi merupakan komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar minum kopi. Salah satu permasalahan pada perkebunan kopi rakyat adalah tingginya laju erosi tanah dan limpasan permukaan yang mengakibatkan hilangnya unsur hara dan bahan organik tanah. Rendahnya kandungan bahan organik dan unsur hara tanah berdampak pada rendahnya produktivitas perkebunan kopi rakyat. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pemberian bahan organik pada lubang resapan biopori (BIH-30 cm) pada zona perakaran kopi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan ketersediaan unsur hara pada lapisan tanah bawah.Penelitian lapangan pada perkebunan kopi Robusta (umur 7-10 tahun) menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: P0 (Kontrol); BK (BIH Kosong); PKK1 (BIH + Pupuk Kandang Kambing 10 Mg.ha-1); PKK2 (BIH + Pupuk Kandang Kambing 20 Mg.ha-1; PK1 (BIH + Kompos 10 Mg.ha-1); PK2 (BIH + Kompos 20 Mg.ha-1). Pengamatan karakteristik tanah (K, Na, Ca, Mg, KTK, C-Organik) dan tanaman kopi (tinggi tanaman, jumlah daun, dan kandungan klorofil daun) dilakukan pada 1 dan 6 bulan setelah aplikasi perlakuan (MAA).Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kandang kambing 20 Mg.ha-1 pada BIH30 cm menghasilkan karakteristik tanah (lapisan tanah 30-60 cm) dan pertumbuhan tanaman kopi yang lebih baik dibandingkan dengan semua perlakuan lainnya. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi positif dengan kandungan K-exch dan KTK tanah pada kedalaman 30-60 cm.