Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluating The Efficacy of Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation In Treating Neurodegenerative Cerebellar Ataxia: A Systematic Review and Meta-Analysis Angelina Wandana; Jeanne Alexandra; Agung Junnata; Daniel Natanael; Raisa Kireyna Nurfajrina; Michelle Valencia Bunjamin
Lumina : Indonesian Journal of Neurology Vol. 1 No. 3 (2025): December: Lumina: Indonesian Journal of Neurology
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/lijn.v1i3.10400

Abstract

Introduction: Neurodegenerative diseases such as multiple system atrophy (MSA), spinocerebellar ataxia (SCA), and Friedreich’s ataxia (FRDA) progressively impair the nervous system, affecting approximately 15% of the global population. Repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS), a non-invasive method, may promote neuroplasticity. The cerebellum, central to motor control and neural connectivity, is a promising rTMS target. Therefore, this research aims to evaluate the efficacy of rTMS in treating neurodegenerative cerebellar ataxia. Methods: A systematic review and meta-analysis was conducted per PRISMA guidelines, searching ten databases (to August 9, 2025). Eligible studies were RCTs comparing rTMS with sham in cerebellar ataxia. The review was registered on PROSPERO (CRD420251127471). Study quality was assessed with Cochrane RoB 2.0; meta-analysis used Review Manager 5.4.1, and meta-regression was performed in JASP 0.19.3. Results: Seven RCTs involving a total of 256 patients were included. rTMS significantly improved SARA (SMD = -0.84, p = 0.004, I² = 73%). ICARS showed no significant difference (SMD = -0.82, p = 0.43, I² = 96%). Meta-regression and sensitivity analysis were done to find key heterogeneity sources. Most studies had low bias. Conclusions: rTMS significantly improves SARA scores in neurodegenerative cerebellar ataxia if compared to sham, while ICARS shows insignificant differences. Further research is needed.Keywords: Neurodegenerative ataxia, Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation, Sham-controlled
Pemeriksaan Kepadatan Mineral Tulang dan Penyuluhan Osteoporosis di Posbindu Delima, Sawangan, Depok Nurfitri Bustamam; Cut Fauziah; Daniel Natanael
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v7i3.18049

Abstract

Osteoporosis adalah penyakit yang sering kali tidak terdeteksi hingga terjadi patah tulang (fraktur). Dampak osteoporosis tidak hanya sebatas fraktur, tetapi juga menyebabkan nyeri kronis, disabilitas, dan meningkatkan risiko kematian. Di Indonesia, prevalensi osteoporosis diperkirakan mencapai 10,3%. Meningkatnya populasi lanjut usia di Kota Depok memperkuat pentingnya skrining dan penyuluhan osteoporosis di masyarakat. Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kepadatan mineral tulang, meningkatkan pengetahuan tentang osteoporosis, dan mendorong penerapan gaya hidup sehat untuk menjaga kesehatan tulang. Program PKM dilakukan di Posbindu Delima RW 11 Kelurahan Bedahan, Sawangan, Depok, mencakup: identifikasi faktor risiko osteoporosis, pengukuran indeks massa tubuh, pemeriksaan kepadatan mineral tulang menggunakan quantitative ultrasound kalkaneus, dan penyuluhan tentang osteoporosis. Kegiatan PKM diikuti oleh 88 warga yang mayoritas (88,6%) perempuan dengan rentang usia 45-59 tahun dan 39,6% obese 1. Hasil pemeriksaan didapatkan sebagian besar warga mengalami penurunan kepadatan mineral tulang, yaitu 63,6% osteopenia dan 28,4% osteoporosis. Selanjutnya, warga diberikan edukasi dan anjuran terkait hasil pemeriksaan kepadatan mineral tulang. Kegiatan PKM ini terbukti meningkatkan pengetahuan warga tentang osteoporosis dari 30% menjadi 70%, dan kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat sebagai upaya mencegah osteoporosis dan dampaknya.