Perkembangan media digital mengubah ruang dakwah dari komunikasi satu arah menjadi ruang publik yang cepat, interaktif, dan rentan terhadap pemotongan konteks. Artikel ini bertujuan menganalisis gaya retorika dai kontemporer dalam menjawab tantangan dakwah digital melalui studi komparatif atas tiga model: humor, interaktivitas, dan kelembutan pesan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi komparatif berbasis analisis isi terhadap tiga naskah kajian terdahulu tentang Ustadz Abdul Somad, Dr. Aam Amirudin, dan Prof. KH. Nasaruddin Umar. Data dianalisis melalui kategorisasi tematik berdasarkan kerangka retorika Aristoteles yang mencakup ethos, pathos, dan logos, kemudian dibandingkan dengan tantangan komunikasi digital seperti perluasan jangkauan, dialog dua arah, dan decontextualization. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ustadz Abdul Somad merepresentasikan model retorika humoris-populis yang mencairkan resistensi audiens; Dr. Aam Amirudin merepresentasikan model edukatif-interaktif yang menghubungkan dalil dengan problem keseharian melalui media sosial; sedangkan Nasaruddin Umar merepresentasikan model kelembutan-resilien yang menekankan kedalaman pesan, empati, dan ketahanan komunikasi dalam situasi post-truth. Artikel ini menyimpulkan bahwa efektivitas dakwah digital ditentukan oleh kemampuan dai mengintegrasikan otoritas keilmuan, kedekatan emosional, argumentasi logis, serta desain pesan yang adaptif terhadap ekosistem digital