The development of multimedia technology and Augmented reality (AR) offers significant opportunities to preserve and promote local culture. Traditional Dayak dance from East Kalimantan is a cultural heritage of high artistic value that remains under-recognised by the younger generation. This study aims to develop an AR-based animated application for introducing traditional Dayak dance as an interactive learning medium. The research method used was an experimental waterfall model, encompassing analysis, design, implementation, and testing. The application was built using Unity and Blender, with key features including 3D animations of traditional dances, brief information about the dances, and AR camera-based interactions. Black-box testing demonstrated that all functions functioned well. Measurements from 10 to 120 cm ran smoothly, while the application's tilt range from 300 to 900° was affected, with only 900° experiencing control and displaying objects. This application is expected to serve as an engaging educational medium, increase the younger generation's interest in Dayak culture, and support local cultural preservation efforts through digital technology.Perkembangan teknologi multimedia dan Augmented reality (AR) memberikan peluang besar dalam pelestarian dan pengenalan budaya lokal. Tari tradisional Dayak Kalimantan Timur merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai seni tinggi, namun masih kurang dikenal oleh generasi muda. Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi animasi pengenalan tari tradisional Dayak berbasis AR sebagai media pembelajaran interaktif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan model waterfall, meliputi tahap analisis, desain, implementasi, dan pengujian. Aplikasi dibangun menggunakan Unity dan Blender dengan fitur utama berupa animasi 3D tari tradisional, informasi singkat mengenai tarian, serta interaksi berbasis kamera AR. Pengujian dilakukan menggunakan Black Box Testing yang menunjukkan seluruh fungsi berjalan dengan baik, serta uji coba pengukuran 10 sampai 120 cm berjalan mulus sementara hasil kemeringan aplikasi dari 300 sampai 900 , hanya di angka 900 mengalami kendali selain itu menampilkan objek. Aplikasi ini diharapkan dapat menjadi media edukasi yang menarik, meningkatkan minat generasi muda dalam mengenal budaya Dayak, serta mendukung upaya pelestarian budaya lokal melalui pemanfaatan teknologi digital