I Gede Oka Sindhu Pribadi
Universitas Trisakti

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penataan Ruang Produksi dalam Pabrik Marmer untuk Mendukung Arsitektur Industri Berkelanjutan Alfan Rizky; I Gede Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i1.4513

Abstract

Abstract: Marble industry produces solid waste in the form of cuts and fragments that are often not handled optimally, causing environmental problems and factory layout issues. The main problems found in marble factories are production layouts that have not been integrated with a waste management system, indicated by a large distance between production machines and waste holding facilities, overlapping material circulation flows, and a non-linear water circulation and water treatment system. The research method used is descriptive-analytical with an exploratory study approach through direct observation of production flow, literature study, and facility layout analysis. The results showed that the spatial integration between the production zone, the waste holding zone, and the water treatment system was able to reduce scattered waste by up to ±20%, reduce water consumption by up to ±15%, and increase the efficiency of production workflow. These findings confirm that layout optimization plays an important role in supporting the principles of sustainable industrial architecture in marble factories. Abstrak: Industri marmer menghasilkan limbah padat berupa potongan dan pecahan yang sering tidak tertangani secara optimal sehingga menimbulkan permasalahan lingkungan dan tata ruang pabrik. Permasalahan utama yang ditemukan pada pabrik marmer adalah penataan ruang produksi yang belum terintegrasi dengan sistem penanganan limbah, ditandai dengan jarak yang jauh antara mesin produksi dan fasilitas penampungan limbah, alur sirkulasi material yang saling berpotongan, serta sistem sirkulasi air dan water treatment yang tidak linear. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan studi eksploratif melalui observasi langsung pada alur produksi, studi literatur, serta analisis tata letak fasilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi spasial antara zona produksi, zona penampungan limbah, dan sistem pengolahan air mampu mengurangi limbah tercecer hingga ±20%, menurunkan konsumsi air hingga ±15%, serta meningkatkan efisiensi alur kerja produksi. Temuan ini menegaskan bahwa optimalisasi tata ruang berperan penting dalam mendukung prinsip arsitektur industri berkelanjutan pada pabrik marmer.
TATA NILAI KOMUNITAS SEBAGAI KOMPONEN UTAMA DALAM TRANSFORMASI FASAD PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA MASJID ANGKE JAKARTA Suhartini Suhartini; Mohammad Ischak; Tulus Widiarso; I Gede Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i3.3870

Abstract

Abstract: Although the Angke Mosque is a cultural heritage building designated through the Decree of the Governor of the DKI Jakarta Provincial Government Number 1371 of 2019, in reality until now there have been changes in the shape of the building. This study aims to examine the concepts and values that are still believed in by the community that made changes to the shape of the mosque in relation to the context of cultural heritage buildings. The method used is quasi-qualitative based on the post-positivism paradigm. The observation unit is the building facade elements including stairs, doors, windows, walls, and roofs. The exploration of community values was carried out through interviews with several informants using a butterfly diagram. The study resulted in findings that the community still holds values as the basis for preserving buildings in the form of very strong ties to the shape of the facade components, especially the door and roof elements, so that it can be the basis for preserving the Angke Mosque as a cultural heritage building.Keywords: cultural heritage, concept, facade, mosque, communityAbstrak: Meskipun Masjid Angke merupakan bangunan cagar budaya yang ditetapkan melalui  SK Gubernur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1371 Tahun 2019, pada kenyataannya sampai sekarang sudah mengalami perubahan-perubahan pada bentuk bangunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dan tata nilai yang masih diyakini oleh komunitas yang melakukan perubahan pada bentuk masjid dalam kaitannya dengan konteks bangunan cagar budaya. Metode yang digunakan adalah kuasi kualitatif yang dilandasi paradigma post positivism. Unit amatan adalah elemen fasad bangunan meliputi tangga, pintu, jendela, dinding, dan atap. Penggalian tata nilai komunitas dilakukan melalui wawancara terhadap beberapa informan dengan menggunakan diagram kupu-kupu. Penelitian menghasilkan temuan bahwa komunitas masih memegang tata nilai sebagai dasar pelestarian bangunan dalam bentuk ikatan yang sangat kuat terhadap bentuk komponen fasad khususnya pada elemen pintu, dan atap sehingga dapat menjadi dasar pelestarian Masjid Angke sebagai bangunan cagar budaya.Kata Kunci: cagar budaya, konsep, fasad, masjid, komunitas