Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PROMOSI KESEHATAN MELALUI PEMANFAATAN APLIKASI SMART EXERCISE DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KESEHATAN MASYARAKAT TENTANG KONDISI JANTUNG Raden Ayu Tanzila; Ni Made Elva Mayasari; Miranti Dwi Hartanti; Lilis Khairani; Bilqiis Aanisah; Suci Abelia
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 8, No 1 (2026): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v8i1.3193

Abstract

Program Smart Exercise dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi masyarakat terkait pemantauan aktivitas fisik sesuai usia dan kondisi jantung serta risiko kardiovaskular. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan olahraga yang aman melalui edukasi dan pemantauan sederhana. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan dan praktik pada 47 peserta di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang berusia 30–65 tahun, yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 47 orang. Tahapan kegiatan mencakup pre-penilaian, edukasi teori, demonstrasi teknik pemantauan denyut nadi manual, latihan fisik terstruktur, serta evaluasi pasca intervensi. Variabel evaluasi meliputi pengetahuan olahraga aman, keterampilan pengukuran denyut nadi, pemahaman intensitas latihan, identifikasi gejala bahaya, dan parameter fisiologis (denyut nadi dan tekanan darah). Instrumen berupa kuesioner dan lembar pengukuran denyut nadi dan tekanan darah. Analisis data dilakukan dengan perbandingan pre–post menggunakan statistik deskriptif dan analisis perbedaan rerata. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan, keterampilan pemantauan, pemahaman gejala bahaya, serta perbaikan ringan pada denyut nadi istirahat dan tekanan darah. Kesimpulannya, intervensi edukatif-praktik ini efektif dalam memberdayakan masyarakat untuk melakukan olahraga aman sesuai kondisi jantung. Rekomendasi program serupa perlu dijalankan secara berkala dan dengan tindak lanjut jangka panjang agar keterampilan pemantauan dan pemahaman kesehatan jantung tetap dipertahankan
PROMOSI PENYAKIT TIDAK MENULAR MELALUI EDUKASI, SKRINING, DAN KONSELING GAYA HIDUP SEHAT Miranti Dwi Hartanti; Lilis Khairani; Raden Ayu Tanzila; Ni Made Elva Mayasari; Aqila Meisya Putri Nurfauza; Rizky Andelina
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 8, No 1 (2026): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v8i1.3191

Abstract

Penyakit diabetes melitus terus meningkat pada kelompok usia dewasa dan lansia sehingga diperlukan upaya preventif berbasis komunitas yang mampu meningkatkan pengetahuan serta mendeteksi individu dengan risiko tinggi. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi mengenai penyakit DM, mengukur risiko peserta melalui instrumen terstruktur, serta mendorong perubahan perilaku melalui konseling gaya hidup. Pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan promotif dan preventif melalui kegiatan edukasi kesehatan, skrining faktor risiko, serta konseling gaya hidup sehat pada kelompok masyarakat berisiko penyakit tidak menular (PTM), yaitu diabetes melitus. Kegiatan dilaksanakan di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang pada Kamis, 30 Oktober 2025 dengan melibatkan 50 (lima puluh) peserta berusia 45-60 tahun yang direkrut secara purposive dari masyarakat yang tinggal di sekitar klinik. Kegiatan dilaksanakan dalam satu sesi selama kurang lebih 3 (tiga) jam yang terdiri atas beberapa tahapan kegiatan. Tahapan pertama berupa sosialisasi dan edukasi mengenai faktor risiko, pencegahan, serta deteksi dini diabetes melitus menggunakan metode ceramah interaktif dan diskusi tanya jawab dengan media presentasi. Tahap kedua berupa pelaksanaan skrining faktor risiko diabetes melitus melalui pengisian kuesioner penilaian faktor risiko yang diadaptasi dari instrumen Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC) yang telah divalidasi secara internasional. Tahap ketiga adalah pemeriksaan kesehatan sederhana yang meliputi pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) menggunakan timbangan digital dan mikrotoise untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT), serta pemeriksaan tekanan darah menggunakan sphygmomanometer digital terkalibrasi. Variabel yang diamati dalam kegiatan ini meliputi tingkat pengetahuan peserta mengenai diabetes melitus, faktor risiko perilaku, serta kategori risiko diabetes melitus berdasarkan hasil skrining. Peserta yang teridentifikasi memiliki kategori risiko sedang dan tinggi selanjutnya diberikan konseling indivdu mengenai modifikasi gaya hidup sehat, termasuk pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, serta pengendalian faktor risiko lainnya yang dilakukan secara individual oleh dokter ahli penyakit dalam bagi peserta yang teridentifikasi memiliki kategori risiko sedang dan tinggi. Konseling dilakukan secara tatap muka selama kurang lebih 10-15 menit per peserta dengan pendekatan komunikasi interpersonal berbasis edukasi kesehatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan peserta, profil faktro risiko diabetes melitus, kategori risiko kesehatan, serta kecenderungan perubahan perilaku kesehatan setelah intervensi edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah edukasi dengan nilai rerata 78,6 ± 9,4 dan nilai median 80, dengan nilai minimal 52 dan maksimal 96 . Sebagian besar peserta berada pada kategori risiko sedang dan tinggi, di mana 38,2% berada pada kategori risiko sedang dan 20,7% berada pada kategori risiko tinggi.  Mayoritas peserta yang menerima konseling melaporkan peningkatan aktivitas fisik serta perubahan pola makan menjadi lebih sehat dengan rerata 71,3 ± 8,1 dan median 72, serta rentang nilai minimal 55 hingga maksimal 89 . Kegiatan ini menyimpulkan bahwa edukasi yang terstruktur dan skrining berbasis komunitas efektif meningkatkan kesadaran dan perilaku pencegahan penyakit DM. Program serupa direkomendasikan untuk diterapkan secara berkala pada layanan primer guna memperkuat deteksi dini dan pencegahan penyakit tidak menular.
The Relationship Between the Level of Husband Support and The Incidence of Baby Blues In Postpartum Mothers At The Practice of Independent Midwives In Jakabaring District, Palembang City Dea Ananda Aisyah Aisyah; Mitayani Purwoko; Lilis Khairani; Kurniawan
Indonesian Journal of Medical Anthropology Vol. 7 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Medical Anthropology
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/ijma.v7i1.24341

Abstract

Baby blues is an emotional disorder that appears in the first week of postpartum and is characterized by mood swings, anxiety, easy crying, and inability to take care of the baby. One of the factors that affect this condition is the support of the husband as the mother's main companion after childbirth. This study aims to determine the relationship between husband support and the incidence of baby blues in postpartum mothers at the Independent Midwifery Practice, Jakabaring District, Palembang City. The research design used cross-sectional analytical observational with a sample of 75 postpartum mothers who met the inclusion and exclusion criteria. The status of baby blues in respondents showed that severe baby blues was experienced by 26 respondents (34.7%), medium category 29 respondents (38.7%), and mild category 20 respondents (26.7%). Meanwhile, the level of husband support was divided into three categories, namely low support for 22 respondents (29.3%), medium support for 26 respondents (34.7%), and high support for 27 respondents (36.0%). The analysis of the Chi-Square test obtained a p-value = 0.000 so that there was a significant relationship between husband support and the incidence of baby blues.