Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hubungan Antara Neutrophil Lymphocyte Ratio dan HCV RNA pada Pasien Hepatitis C Menjalani Hemodialisis yang Mendapatkan Terapi DAA di RSMH Palembang Lilis Khairani; Suyata Suyata; Novadian Novadian; Taufik Indra Jaya
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i6.8668

Abstract

ABSTRACT Hepatitis C is an inflamamatory disease of the liver caused by Hepatitis C Virus (HCV) infection. Inflammatory markers are quite large in assessing the course of an infectious or inflammatory disease, one of which is the Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) and the Total Viral Load of HCV RNA which combine neutrophils as active inflammatory components and lymphocytes as regulatory and protective components in a single parameter. Research on the relationship between NLR and HCV RNA in Hepatitis C outpatients undergoing hemodialysis is still limited. Therefore, this study was conducted to determine the relationship between NLR and HCV RNA in Hepatitis C patients undergoing hemodialysis who received DAA therapy who went to the outpatient clinic at Mohammad Hoesin Hospital, Palembang. Observational analytic study with a cross-sectional design with 35 Hepatitis C patients undergoing hemodialysis as subjects who were treated at the outpatient polyclinic at Mohammad Hoesin Hospital Palembang in August – November 2022. Data were obtained by recording from medical records. The data is on a categorical scale and tested using the Sperman correlation method using the SPSS version 22 application. The average NLR of Hepatitis C patients undergoing hemodialysis who had not received DAA therapy at RSMH Palembang with a high HCV RNA viral load and high NLR was 17 (12.6%) and those with low viral load and high NLR were 4 (8.4%). In addition, it is also known that the average NLR of Hepatitis C patients undergoing hemodialysis who received DAA therapy for 12 weeks at RSMH Palembang whose HCV RNA Viral Load was undetectable and the NLR was normal was 24 (24.9%) and the Viral Load was still detectable and the NLR was normal was 6 ( 5.1%). The results of the analysis showed a p value = 0.000 with a value of r = 0.738 for the relationship between NLR and HCV RNA values in patients who had not started DAA therapy and the results of the analysis showed a p value = 0.005 with a value of r = 0.50 for the relationship between NLR and HCV RNA values in patients who have received DAA therapy for 12 weeks to correlate NLR and HCV RNA values in Hepatitis C patients undergoing hemodialysis. This study showed that there was a moderately significant relationship between NLR and HCV RNA values in Hepatitis C patients undergoing hemodialysis who received DAA therapy at Mohammad Hoesin Hospital, Palembang. Keywords: Hepatitis C, Hemodialysis,  NLR, HCV RNA                                          ABSTRAK Hepatitits C adalah  penyakit inflamasi pada hati yang disebabkan infeksi Virus Hepatitis C (HCV). penanda inflamasi cukup besar dalam menilai perjalanan penyakit infeksi atau inflamasi, salah satunya Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) dan Jumlah Viral Load HCV RNA yang menggabungkan neutrofil sebagai komponen inflamasi aktif serta limfosit sebagai regulator dan komponen protektif dalam satu kesatuan parameter. Penelitian mengenai hubungan antara NLR dan HCV RNA pasien rawat jalan Hepatitis C yang menjalani hemodialisis masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara NLR dan HCV RNA pada pasien Hepatitis C yang menjalani hemodialisis yang mendapat terapi DAA yang berobat ke poli rawat jalan di RS Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian observasional analitik dengan desain Crossectional dengan subjek sebanyak 35 orang pasien Hepatitis C yang menjalani hemodialisis yang berobat di poli rawat jalan jalan di RS Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Agustus - November 2022. Data diperoleh melalui pencatatan dari rekam medis. Data berskala kategorik dan diuji dengan metode korelasi spearman menggunakan aplikasi SPSS versi 22. Didapatkan Rerata NLR pasien Hepatitis C yang menjalani hemodialysis yang belum mendapat terapi DAA di RSMH Palembang yang Viral Load HCV RNA tinggi dan NLR tinggi adalah 17 (12.6%) dan yang Viral Load rendah serta NLR tinggi adalah 4 (8.4%). Selain itu juga diketahui rerata NLR pasien Hepatitis C yang menjalani hemodialysis yang mendapat terapi DAA 12 minggu di RSMH Palembang yang yang Viral Load HCV RNA tidak terdeteksi dan NLR normal adalah 24 (24.9%) dan yang Viral Load masih terdeteksi serta NLR normal adalah 6 (5.1%).  Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,000 dengan nilai r = 0,738 untuk hubungan antara nilai NLR dan HCV RNA pada pasien yang belum memulai terapi DAA dan Hasil analisis nilai p = 0,005 dengan nilai r = 0,50 untuk hubungan antara nilai NLR dan HCV RNA pada pasien yang sudah mendapat terapi DAA 12 minggu untuk menghubungkan antara nilai NLR dan HCV RNA pada pasien Hepatitis C yang menjalani hemodialysis. Penelitian ini menunjukan terdapat hubungan bermakna hubungan sedang antara nilai NLR dan HCV RNA pada pasien Hepatitis C yang menjalani hemodialisis yang mendapat terapi DAA di RS Mohammad Hoesin Palembang Kata Kunci: Hepatitis C, Hemodialysis, NLR; HCV RNA 
Hubungan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Dengan Kadar Trigliserida Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Poliklinik RS Muhammadiyah Palembang khairani, lilis; Permana, Adhi; Fadilah, Yudi; Saraswati, Nia Ayu
MESINA (Medical Scientific Journal) Vol 5, No 2 (2025): MESINA (Medical Scientific Journal)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/msj.v5i2.9757

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sensitivitas insulin dan insufisiensi produksi insulin oleh pancreas. Penderita diabetes mellitus tipe 2 mellitus tipe 2 dituntut untuk melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan pengontrolan glukosa darahagar metabolismenya dapat terkendali dengan baik. Trigliserida merupakan salah satu jenis lemak didalam tubuh yang beredar didalam darah dan berbagai organ tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar glukosa darah sewaktu dengan kadar Trigliserida pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di poliklinik RS Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Penelitian ini akan dilakukan di RS Muhammadiyah Palembang pada bulan januari 2025. Sampel penelitian ini adalah pasien diabetes mellitus tipe 2 yang di rawat jalan di RS Muhammadiyah Palembang pada periode Desember 2024-Januari 2025. Besar sampel minimal pada penelitian ini adalah 108 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rerata gula darah sewaktu pada pasien DM Tipe 2 di RS Muhammadiyah Palembang dalam penelitian ini adalah 192 mg/dL. Kadar rerata Trigliserida pada pasien DM Tipe 2 di RS Muhammadiyah Palembang dalam penelitian ini adalah 227 mg/dL.
Edukasi Mengenai Aspek Genetik Pengobatan Kesehatan Mental dan Pola Asuh yang Mengurangi Tingkat Stres Pada Anak Miranti Dwi Hartanti; Liza Chairani; Lilis Khairani; Denova Putri Apriliana Gumesna; Adharia Yogustri
PaKMas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/pakmas.v5i2.3905

Abstract

The psychological and emotional state of children's mental health include mental stability, stress tolerance, and the capacity to manage everyday challenges. In essence, parents want what's best for their child, which includes not making parenting blunders. This activity seeks to educate youngsters about the hereditary components of mental health treatment and parental techniques that lower stress levels in kids. The implementation strategy consists of in-person seminars and assessments of parents' understanding using pretests and posttests. The waiting room at Muhammadiyah Hospital Palembang's Children's Polyclinic served as the venue for this counselling session. The average knowledge of parents/caregivers among participants increased, according to the findings of the pre-post counselling test, both on parenting techniques that lower children's stress levels and genetic aspects of mental health therapy. Mental diseases can occur as a result of genetic variables like polymorphism and epigenetics. Apart from genetic considerations, extrinsic variables like parenting and family dynamics can also have an impact on children's mental health. The conclusion of the course on the genetics of mental health treatment and stress-reduction parenting is highly helpful for parents/caregivers.
KORELASI KONTROL GULA DARAH SEWAKTU DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA PASIEN LANSIA DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG khairani, lilis; Permana, Adhi; Fadillah, Yudi
Syifa'Medika Vol 16, No 1 (2025): Syifa Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v16i1.10412

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that commonly affects the elderly. Hyperglycemia can accelerate cerebral vascular damage and increase the risk of cognitive impairment. Random blood glucose (RBG) testing is frequently used to monitor glycemic control in daily clinical practice. The purpose of this study was to determine the correlation between random blood glucose levels and cognitive function in elderly patients with type 2 DM. This was an observational analytical study with a cross-sectional design. Subjects were elderly patients with type 2 DM. Random blood glucose levels were measured using an enzymatic method, while cognitive function was measured using the Mini-Cog questionnaire. Statistical analysis used the spearman/pearson corerelation test. Results: The majority of patients with BG levels ?200 mg/dL had lower cognitive impairment scores than those with BG levels <200 mg/dL. There was a significant positive correlation between random blood glucose levels and cognitive scores (r=0.445;p<0.001). So it can be concluded that high random blood sugar levels are associated with decreased cognitive function in elderly people with type 2 diabetes. GDS examintaion can be an early indicator for detecting the risk of cognitive impairment in elderly type 2 diabetes patients.
Pengaruh Daun Salam terhadap Penurunan Kadar Asam Urat pada Mencit Mus musculus dengan Hiperurisemia Hartanti, Miranti Dwi; Febriani, Ratika; Fitriani, Nyayu; Tanzila, Raden Ayu; Khairani, Lilis; Arthamevia, Mitha
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 22 No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperurisemia merupakan kondisi patologis yang ditandai dengan peningkatan kadar asam urat darah akibat ketidakseimbangan antara produksi dan ekskresi asam urat. Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi menghambat enzim xanthine oxidase, sehingga dapat menurunkan kadar asam urat. Mengetahui efektivitas ekstrak daun salam dalam menurunkan kadar asam urat pada mencit jantan (Mus musculus) model hiperurisemia. Penelitian eksperimental dengan desain pre- and post-test control group. Sebanyak 30 mencit jantan galur Swiss Webster diinduksi hiperurisemia menggunakan kalium oksonat (250 mg/kgBB) dan homogenat hepatik ayam, kemudian dibagi menjadi lima kelompok: kontrol negatif (aquadest), kontrol positif (allopurinol 100 mg/kgBB), serta tiga kelompok perlakuan ekstrak daun salam (200, 300, dan 400 mg/kgBB). Kadar asam urat diukur pada hari ke-0, ke-7, ke-9, ke-12, dan ke-15. Analisis data menggunakan Pair T-Test, One Way ANOVA, dan uji Post Hoc. Terdapat penurunan kadar asam urat yang bermakna (p<0,05) pada kelompok allopurinol dan ekstrak daun salam (semua dosis), sedangkan kelompok kontrol negatif tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p>0,05). Dosis 400 mg/kgBB memberikan penurunan terbesar (5,2 mg/dl). Uji Post Hoc menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan (p<0,05), tetapi tidak ada perbedaan bermakna antara allopurinol dengan ekstrak daun salam dosis 200 dan 300 mg/kgBB (p>0,05). Ekstrak daun salam efektif menurunkan kadar asam urat pada mencit hiperurisemia, dengan dosis 400 mg/kgBB menunjukkan efek optimal.
Intervensi Perilaku dan Aktivitas Fisik pada Pasien Gangguan Bipolar dengan Obesitas dan Emotional Eating: Laporan Kasus Meidian Sari; Abdullah Sahab; Lilis Khairani; Ahmad Ghiffari; Raden Ayu Tanzila
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026): September: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i3.7057

Abstract

Obesity is a growing global health problem. Obesity is more common among patients with bipolar disorder than in the general population and has been associated with greater clinical burden, including depressive symptoms, impaired functioning, poorer quality of life, and metabolic complications. Case Presentation: A 38-year-old woman with a five-year history of bipolar III disorder presented with a 15 kg weight gain over two years. She had a history of manic episodes followed by depressive episodes. During depressive phases, she reported fatigue, low motivation, emotional eating, increased appetite, and preference for high-carbohydrate foods. She had been treated with valproate 750 mg/day and olanzapine 10 mg/day. Management included pharmacotherapy review, switching olanzapine to lurasidone due to lower metabolic risk, nutritional counselling, structured physical activity, cognitive behavioral strategies for emotional eating, sleep routine education, and family support. Conclusion: Behavioral intervention combined with regular physical activity may be a relevant adjunctive approach for patients with bipolar disorder, obesity, and emotional eating. This case highlights the need to assess eating behavior, sleep routine, physical activity, metabolic risk, and adaptive coping strategies in patients with bipolar disorder and obesity.
Bilateral Papilledema with Sixth Cranial Nerve Palsy Complication: A Case Report Septiani Nadra Indawaty; Lilis Khairani; Ahmad Ghiffari; Fera Yunita Rodhiaty; Hasmeinah Hasmeinah; Ibrahim Ibrahim
MESINA (Medical Scientific Journal) Vol 6, No 2 (2026): Medical Scientific Journal (MESINA)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/msj.v6i2.11032

Abstract

Papilledema is swelling of the optic disc due to increased intracranial pressure (ICP) which can cause neurological symptoms such as headache, nausea, vomiting, and progressive visual impairment and can lead to permanent blindness if not treated appropriately. This condition must be differentiated from disc edema due to other etiologies because it has a different pathophysiology and management. This case report discusses a 32-year-old woman who presented with complaints of blurred vision such as shadows in the left eye for five days, accompanied by frontal headache radiating to the retrobulbar, nausea, intermittent fever, and impaired eye movement. Ophthalmological examination showed decreased vision, limited mediolateral movement of both eyes indicating paresis of the sixth nerve, and fundoscopic images of bilateral blurred papilla borders with more severe swelling in the left eye accompanied by hard exudate. The patient was diagnosed with papilledema with diplopia ODS ec. paresis of the sixth nerve and was given supportive therapy in the form of cendo lyteers and mecobalamin as well as regular check-up education. This case emphasizes the importance of early detection of papilledema through history taking, clinical examination, and fundoscopy to prevent permanent visual complications and determine comprehensive and timely management.
PROMOSI KESEHATAN MELALUI PEMANFAATAN APLIKASI SMART EXERCISE DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KESEHATAN MASYARAKAT TENTANG KONDISI JANTUNG Raden Ayu Tanzila; Ni Made Elva Mayasari; Miranti Dwi Hartanti; Lilis Khairani; Bilqiis Aanisah; Suci Abelia
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 8, No 1 (2026): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v8i1.3193

Abstract

Program Smart Exercise dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi masyarakat terkait pemantauan aktivitas fisik sesuai usia dan kondisi jantung serta risiko kardiovaskular. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan olahraga yang aman melalui edukasi dan pemantauan sederhana. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan dan praktik pada 47 peserta di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang berusia 30–65 tahun, yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 47 orang. Tahapan kegiatan mencakup pre-penilaian, edukasi teori, demonstrasi teknik pemantauan denyut nadi manual, latihan fisik terstruktur, serta evaluasi pasca intervensi. Variabel evaluasi meliputi pengetahuan olahraga aman, keterampilan pengukuran denyut nadi, pemahaman intensitas latihan, identifikasi gejala bahaya, dan parameter fisiologis (denyut nadi dan tekanan darah). Instrumen berupa kuesioner dan lembar pengukuran denyut nadi dan tekanan darah. Analisis data dilakukan dengan perbandingan pre–post menggunakan statistik deskriptif dan analisis perbedaan rerata. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan, keterampilan pemantauan, pemahaman gejala bahaya, serta perbaikan ringan pada denyut nadi istirahat dan tekanan darah. Kesimpulannya, intervensi edukatif-praktik ini efektif dalam memberdayakan masyarakat untuk melakukan olahraga aman sesuai kondisi jantung. Rekomendasi program serupa perlu dijalankan secara berkala dan dengan tindak lanjut jangka panjang agar keterampilan pemantauan dan pemahaman kesehatan jantung tetap dipertahankan
PROMOSI PENYAKIT TIDAK MENULAR MELALUI EDUKASI, SKRINING, DAN KONSELING GAYA HIDUP SEHAT Miranti Dwi Hartanti; Lilis Khairani; Raden Ayu Tanzila; Ni Made Elva Mayasari; Aqila Meisya Putri Nurfauza; Rizky Andelina
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 8, No 1 (2026): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v8i1.3191

Abstract

Penyakit diabetes melitus terus meningkat pada kelompok usia dewasa dan lansia sehingga diperlukan upaya preventif berbasis komunitas yang mampu meningkatkan pengetahuan serta mendeteksi individu dengan risiko tinggi. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi mengenai penyakit DM, mengukur risiko peserta melalui instrumen terstruktur, serta mendorong perubahan perilaku melalui konseling gaya hidup. Pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan promotif dan preventif melalui kegiatan edukasi kesehatan, skrining faktor risiko, serta konseling gaya hidup sehat pada kelompok masyarakat berisiko penyakit tidak menular (PTM), yaitu diabetes melitus. Kegiatan dilaksanakan di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang pada Kamis, 30 Oktober 2025 dengan melibatkan 50 (lima puluh) peserta berusia 45-60 tahun yang direkrut secara purposive dari masyarakat yang tinggal di sekitar klinik. Kegiatan dilaksanakan dalam satu sesi selama kurang lebih 3 (tiga) jam yang terdiri atas beberapa tahapan kegiatan. Tahapan pertama berupa sosialisasi dan edukasi mengenai faktor risiko, pencegahan, serta deteksi dini diabetes melitus menggunakan metode ceramah interaktif dan diskusi tanya jawab dengan media presentasi. Tahap kedua berupa pelaksanaan skrining faktor risiko diabetes melitus melalui pengisian kuesioner penilaian faktor risiko yang diadaptasi dari instrumen Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC) yang telah divalidasi secara internasional. Tahap ketiga adalah pemeriksaan kesehatan sederhana yang meliputi pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) menggunakan timbangan digital dan mikrotoise untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT), serta pemeriksaan tekanan darah menggunakan sphygmomanometer digital terkalibrasi. Variabel yang diamati dalam kegiatan ini meliputi tingkat pengetahuan peserta mengenai diabetes melitus, faktor risiko perilaku, serta kategori risiko diabetes melitus berdasarkan hasil skrining. Peserta yang teridentifikasi memiliki kategori risiko sedang dan tinggi selanjutnya diberikan konseling indivdu mengenai modifikasi gaya hidup sehat, termasuk pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, serta pengendalian faktor risiko lainnya yang dilakukan secara individual oleh dokter ahli penyakit dalam bagi peserta yang teridentifikasi memiliki kategori risiko sedang dan tinggi. Konseling dilakukan secara tatap muka selama kurang lebih 10-15 menit per peserta dengan pendekatan komunikasi interpersonal berbasis edukasi kesehatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan peserta, profil faktro risiko diabetes melitus, kategori risiko kesehatan, serta kecenderungan perubahan perilaku kesehatan setelah intervensi edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah edukasi dengan nilai rerata 78,6 ± 9,4 dan nilai median 80, dengan nilai minimal 52 dan maksimal 96 . Sebagian besar peserta berada pada kategori risiko sedang dan tinggi, di mana 38,2% berada pada kategori risiko sedang dan 20,7% berada pada kategori risiko tinggi.  Mayoritas peserta yang menerima konseling melaporkan peningkatan aktivitas fisik serta perubahan pola makan menjadi lebih sehat dengan rerata 71,3 ± 8,1 dan median 72, serta rentang nilai minimal 55 hingga maksimal 89 . Kegiatan ini menyimpulkan bahwa edukasi yang terstruktur dan skrining berbasis komunitas efektif meningkatkan kesadaran dan perilaku pencegahan penyakit DM. Program serupa direkomendasikan untuk diterapkan secara berkala pada layanan primer guna memperkuat deteksi dini dan pencegahan penyakit tidak menular.
The Relationship Between the Level of Husband Support and The Incidence of Baby Blues In Postpartum Mothers At The Practice of Independent Midwives In Jakabaring District, Palembang City Dea Ananda Aisyah Aisyah; Mitayani Purwoko; Lilis Khairani; Kurniawan
Indonesian Journal of Medical Anthropology Vol. 7 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Medical Anthropology
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/ijma.v7i1.24341

Abstract

Baby blues is an emotional disorder that appears in the first week of postpartum and is characterized by mood swings, anxiety, easy crying, and inability to take care of the baby. One of the factors that affect this condition is the support of the husband as the mother's main companion after childbirth. This study aims to determine the relationship between husband support and the incidence of baby blues in postpartum mothers at the Independent Midwifery Practice, Jakabaring District, Palembang City. The research design used cross-sectional analytical observational with a sample of 75 postpartum mothers who met the inclusion and exclusion criteria. The status of baby blues in respondents showed that severe baby blues was experienced by 26 respondents (34.7%), medium category 29 respondents (38.7%), and mild category 20 respondents (26.7%). Meanwhile, the level of husband support was divided into three categories, namely low support for 22 respondents (29.3%), medium support for 26 respondents (34.7%), and high support for 27 respondents (36.0%). The analysis of the Chi-Square test obtained a p-value = 0.000 so that there was a significant relationship between husband support and the incidence of baby blues.