Rizky Ristianto Adiputra
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN TEBAL PERKERASAN KAKU (RIGID PAVEMENT) METODE MDPJ 2017 DAN AASHTO 1993 (Studi Kasus : Jalan Lingkar Sepaku Tahap 2 Ruas 4.2 STA 0+000 s.d STA 2+350 Kabupaten Penajam Paser Utara) Andhika Maulana; Rizky Ristianto Adiputra; Soehartono; Baswindro
JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand Vol. 3 No. 1 (2026): JUTSU : Jurnal Teknik Sipil Unpand
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/q8ashk34

Abstract

Perkerasan kaku (rigid pavement) merupakan salah satu jenis perkerasan jalan yang menggunakan pelat beton semen sebagai lapisan utama yang berfungsi menyalurkan beban lalu lintas ke lapisan tanah dasar. Pemilihan tebal pelat beton yang tepat sangat berpengaruh terhadap umur rencana, kinerja struktural, serta efisiensi biaya konstruksi jalan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan tebal perkerasan kaku berdasarkan dua metode perencanaan, yaitu Metode MDPJ 2017 (Manual Desain Perkerasan Jalan) dan Metode AASHTO 1993, dengan studi kasus pada Jalan Lingkar Sepaku Tahap 2 – Ruas 4.2 STA 0+000 s.d STA 2+350, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Data yang digunakan meliputi data lalu lintas harian rata-rata (LHR), data kondisi tanah dasar (CBR), serta parameter material perkerasan. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh tebal pelat beton hasil perhitungan Metode MDPJ 2017 sebesar 25 cm, sedangkan Metode AASHTO 1993 menghasilkan tebal 35 cm. Perbedaan tebal ini disebabkan oleh perbedaan pendekatan desain, faktor keandalan, serta nilai koefisien drainase yang digunakan pada masing-masing metode.    Dari hasil evaluasi, Metode MDPJ 2017 menghasilkan desain yang lebih efisien secara ekonomi tanpa mengurangi kinerja struktural yang signifikan, sedangkan Metode AASHTO 1993 memberikan faktor keamanan yang lebih tinggi terhadap beban lalu lintas jangka panjang.