Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

SKRINING KESEHATAN TENTANG HIPERTENSI, KOLESTROL DAN DIABETES MILITUS PADA MASYARAKAT USIA MIDLE AGE (45-59 TAHUN) WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS KOTA PADANG TAHUN 2023 Rahman, Nurhamidah; Febristi, Anisa; Lubis, Yusran
Jurnal Abdimas Saintika Vol 5, No 2 (2023): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v5i2.2144

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyakit kronis dengan durasi yang panjang dengan prosespenyembuhan atau pengendalian kondisi klinisnya yang umumnya lambat. Di tingkat komunitas telahdiinisiasi pembentukan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM dimana dilakukan deteksi dini faktorrisiko, penyuluhan dan kegiatan bersama komunitas untuk menuju Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.Kegiatan skrining kesehatan ini bertujuan untuk mendeteksi dini factor risiko yang ditimbulkan daripenyakit Hipertensi, kolesterol dan Diabetes Mellitus pada lansia di wilayah kerja Puskesmas AndalasPadang. Hasil dari pengabdian skrining kesehatan ini didapatkan sebanyak 5 (18,5%) respondenmempunyai nilai gula darah diatas normal, 19 (70,3%) responden mempunyai nilai kolesterol diatas normaldan sebanyak 9 (33.3%) responden yang nilai asam uratnya diatas normal serta dari 27 responden yangdilakukan skrining yang mempunyai tekanan darah diatas normal sebanyak (14.8%). Dari kegiatan inipeneliti dapat menarik kesimpulan pentingnya pemeriksaan dini kesehatan untuk deteksi dini kesehatanlansia, dan kepada lansia yang mempunyai hasil pemeriksaan diatas normal disaran untuk memeriksakankesehatan lebih lanjut ke puskesmas atau kepelayanan kesehatan lainnyaKata Kunci: Screening kesehatan, Hipertensi, kolesterol, Diabetes Mellitus
EDUKASI MANAJEMENT REGULASI EMOSI TERHADAP PENURUNAN TINGKAT PRILAKU MALADAPTIVE PADA REMAJA DI SMP N 16 KOTO TANGAH PADANG Febristi, Anisa; Suherlin, Nicen; rahman, Nurhamidah
Jurnal Abdimas Saintika Vol 7, No 2 (2025): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v7i2.30685

Abstract

Masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dansosial yang kompleks. Ketidakmampuan remaja dalam mengelola emosi sering kalimenimbulkan perilaku maladaptive seperti agresivitas, menarik diri, dan kesulitan dalammenyesuaikan diri di lingkungan sekolah. Kemampuan mengendalikan diri dan mampumengontrol emosi adalah bentuk ciri individu yang memiliki kematangan emosi. Proses belajarmenuju kematangan emosi melalui proses interaksi dengan lingkungan, pada kenyataannya adajuga remaja yang tidak mampu untuk mencapai kematangan emosi tersebut.Tujuan dari programini adalah untuk mengubah emosi negatif menjadi emosi positif adalah kemampuan individuuntuk menilai dan bertanggung jawab terhadap emosi-emosi yang dirasakannya, sehinggaindividu tersebut dapat membuat keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. Pkm inimenggunakan desain post-test only dengan pendekatan pra-eksperimental. Sampel penelitianberjumlah 65 siswa kelas VII yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensidiberikan dalam bentuk edukasi manajemen regulasi emosi melalui ceramah, video edukatif,dan diskusi kelompok yang berfokus pada kemampuan mengenali, mengekspresikan, danmengendalikan emosi secara positif. Setelah intervensi, responden diberikan kuesioner untukmenilai tingkat perilaku maladaptive. dengan menggunakan skala Maladaptive Behavior IndexVineland Adaptive Behavior Scale. dengan respon tidak pernah megalami (30%) kadangkadang dialami (48%) Sering dialami (22 %) contoh prilaku maladaptive yang dapat diutarakanoleh remaja adalah suka mengejek teman, Lebih suka menyendiri karna memiliki rasa tidak maudiganggu teman, Suka marah2, Tidak suka melihat keramaian, Tidak suka makan rame2, malasmakan suka dengan jajanan Junk Food, Suka sedih, Tidak bersemangat, malas untuk pergikesekolah, Implusif (bertindak tanpa berfikir), Suka diejek teman,suka mengejek teman(Bullying) , Berbohong , Keras kepala, Egois, Menyontek, Tidak sopan, kadang- kadang Sukabolos.Disarankan remaja dapat melakukan dan menilai yang (skrining) prilaku diri sendiri jikasudah mengarah ke maladaptive akan cepat malekukan intervensi yang sudah diajarkansehingga mampu mencegak prilaku maladaptive yang lebih berbahaya bagi masa depanyaKata Kunci: Remaja, Regulasi Emosi, Prilaku Maladaptive, edukasi.
PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM PENANGANAN AWAL KEGAWATDARURATAN SESAK NAPAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU MELALUI EDUKASI KESEHATAN Nurhamidah Rahman; Anisa Pebristi; Sari Setiarini; Fanisa Sriani; Fanny Lovia Bunda
Jurnal Abdimas Saintika Vol 7, No 2 (2025): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v7i2.31041

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi dengan beban kasus tertinggi kedua di dunia setelah India, dan sesak napas merupakan salah satu keluhan yang berpotensi berkembang menjadi kondisi kegawatdaruratan yang mengancam nyawa apabila tidak ditangani secara tepat. Karena sebagian besar pengobatan TB dijalani di rumah, keluarga perlu diberdayakan agar mampu mengenali tanda bahaya dan melakukan pertolongan awal saat pasien mengalami sesak napas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga pasien TB paru dalam penanganan awal kegawatdaruratan sesak napas melalui edukasi kesehatan. Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Anak Air Padang, Sumatera Barat pada tahun 2025, dengan sasaran 20 keluarga pasien TB paru yang berperan sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO). Metode kegiatan meliputi edukasi kesehatan, demonstrasi, simulasi (re-demonstrasi), pemberian leaflet dan video edukasi, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test pengetahuan dan lembar observasi keterampilan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan bermakna rerata skor pengetahuan keluarga dari 55,4 (kategori kurang) menjadi 86,7 (kategori baik) (p = 0,000), serta peningkatan capaian keterampilan praktik posisi semi fowler dari 35% menjadi 90% peserta yang mampu melakukan dengan benar. Kegiatan ini terbukti efektif meningkatkan kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi kegawatdaruratan sesak napas pasien TB paru di rumah, dan direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan serta direplikasi di wilayah kerja Puskesmas lain.Kata Kunci: pemberdayaan keluarga; kegawatdaruratan; sesak napas; tuberkulosis paru; edukasi Kesehatan
EDUKASI POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD) PADA PENYINTAS PASCA BENCANA DI PASIR PUTIH, KECAMATAN KOTO TANGAHKOTA PADANG Anisa Febristi; Nurhamidah Rahman; Alvira Dona Linda; Salwa Hafiza
Jurnal Abdimas Saintika Vol 7, No 2 (2025): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v7i2.31043

Abstract

Bencana dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, salah satunya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai PTSD dapat menyebabkan keterlambatan dalam mengenali gejala dan mencari pertolongan, sehingga diperlukan edukasi sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan mental pada penyintas pascabencana.Tujuan: Mengetahui edukasi PTSD dalam meningkatkan pengetahuan penyintas pasca bencana.Metode PKM dilaksanakan pada 5 Juli 2025 di Komplek Pasir Putih, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, dengan jumlah responden sebanyak 30 orang yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah pemberian edukasi.Dengan Hasil Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (63,3%), berusia 36–50 tahun (43,3%), berpendidikan SMA (36,7%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (36,7%). Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 11,83 pada pretest menjadi 17,27 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 5,44 poin (±46%). Proporsi responden dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 20,0% menjadi 86,7%, sedangkan kategori pengetahuan kurang menurun dari 30,0% menjadi 0%..Kesimpulan: Edukasi PTSD efektif meningkatkan pengetahuan penyintas pascabencana mengenai pengertian, gejala, faktor risiko, dan penanganan awal PTSD. Edukasi kesehatan mental perlu menjadi bagian dari upaya pemulihan psikososial pascabencana untuk meningkatkan deteksi dini, mengurangi stigma, dan mendorong pencarian bantuan secara tepat waktu.Kata kunci: edukasi, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), penyintas bencana,kesehatan mental.