Astil Harli Roslan
STIE Enam Enam Kendari, Kendari

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Manajemen Rantai Nilai Kakao Berbasis Kelembagaan Petani dalam Penguatan Posisi Tawar Petani di Kabupaten Kolaka Astil Harli Roslan; Syahra Syahra
Jurnal Ekonomi dan Manajemen Vol. 1 No. 03 (2026): ISSUE JUNI
Publisher : PT. Mifandi Mandiri Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis di Sulawesi Tenggara, termasuk Kabupaten Kolaka, namun potensi produksinya belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan rantai nilai yang mampu meningkatkan posisi tawar petani. Artikel ini bertujuan menganalisis struktur rantai nilai kakao di Kabupaten Kolaka, mengidentifikasi alur produk, alur informasi, dan alur harga, serta merumuskan kebutuhan awal penguatan tata kelola rantai nilai berbasis kelembagaan petani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian literatur sistematis terbatas dan analisis data sekunder. Kebaruan artikel terletak pada integrasi kajian literatur sistematis terbatas dengan pemetaan data sekunder lokal untuk membaca rantai nilai kakao tidak hanya dari sisi saluran pemasaran, tetapi juga dari aspek kelembagaan, posisi tawar, dan kebutuhan ketertelusuran digital. Literatur dianalisis dari artikel ilmiah, laporan kebijakan, dokumen statistik, serta sumber resmi pemerintah yang relevan dengan kakao, rantai nilai, pemasaran, kelembagaan petani, dan ketertelusuran. Data utama bersumber dari SIMDATA Sulawesi Tenggara 2024, Outlook Kakao 2025 Kementerian Pertanian, BPS Kabupaten Kolaka, serta studi pemasaran kakao di Kolaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kolaka memiliki 25.106 ha areal kakao, produksi 8.450 ton, produktivitas 509,67 kg/ha, dan 19.529 petani pada 2024. Namun, posisi tawar petani masih dibatasi oleh ketergantungan pada pembeli, keterbatasan informasi harga, mutu yang belum konsisten, dan lemahnya pencatatan produksi. Kajian ini merekomendasikan penguatan kelembagaan petani dan pengembangan dashboard ketertelusuran digital untuk memetakan aktor, produksi, mutu, harga, dan relasi pasar. Secara makro, hasil kajian ini dapat menjadi dasar kebijakan daerah dalam membangun ekosistem kakao berbasis data, kelembagaan, dan pasar berkelanjutan.
Transparansi Rantai Pasok, Kepercayaan Pembeli, dan Nilai Pemasaran Kakao Berkelanjutan Astil Harli Roslan; Ami Nurhayati
Jurnal Ekonomi dan Manajemen Vol. 1 No. 03 (2026): ISSUE JUNI
Publisher : PT. Mifandi Mandiri Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam pemasaran komoditas berkelanjutan, transparansi rantai pasok menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pembeli. Kakao tidak lagi hanya dinilai dari volume dan harga, tetapi juga dari kejelasan asal produk, konsistensi mutu, kepatuhan terhadap standar keberlanjutan, dan kemampuan aktor rantai pasok menyediakan informasi yang dapat diverifikasi. Artikel ini bertujuan menganalisis hubungan antara transparansi rantai pasok, kepercayaan pembeli, dan nilai pemasaran kakao berkelanjutan, serta mengembangkan model konseptual yang relevan bagi pengembangan dashboard ketertelusuran kakao di Kabupaten Kolaka. Penelitian menggunakan pendekatan kajian literatur naratif dan analisis data sekunder dari dokumen resmi, publikasi statistik, dan studi terdahulu tentang rantai nilai, traceability, transparansi, serta kepercayaan dalam sistem pangan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa transparansi dapat meningkatkan kepercayaan pembeli melalui tiga mekanisme utama, yaitu penyediaan informasi asal produk, jaminan mutu dan proses, serta kredibilitas kelembagaan aktor rantai pasok. Pada konteks kakao Kolaka, kebutuhan transparansi menjadi penting karena daerah ini memiliki basis petani yang besar, tetapi masih membutuhkan penguatan sistem informasi rantai pasok, pencatatan mutu, dan koordinasi pemasaran. Artikel ini mengusulkan model konseptual bahwa transparansi rantai pasok berpengaruh terhadap kepercayaan pembeli, kepercayaan pembeli berperan dalam meningkatkan nilai pemasaran, dan ketertelusuran digital menjadi mekanisme pendukung yang menghubungkan data petani, kebun, mutu, batch, harga, dan kelembagaan. Implikasi artikel ini adalah perlunya pengembangan dashboard pemasaran kakao yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pencatatan, tetapi juga sebagai instrumen membangun kepercayaan dan nilai pasar kakao berkelanjutan.
Manajemen Digitalisasi Kelompok Tani Kakao dalam Mendukung Ketertelusuran Rantai Pasok di Kabupaten Kolaka Astil Harli Roslan; Syahra Syahra
Journal of Business Evolution and Economics Vol. 1 No. 02 (2026): JUNE ISSUE
Publisher : Journal of Business Evolution and Economics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digitalisasi rantai pasok kakao semakin penting untuk mendukung transparansi, efisiensi, pencatatan mutu, dan ketertelusuran produk. Namun, adopsi sistem digital di tingkat kelompok tani tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan ketersediaan aplikasi, melainkan juga berkaitan dengan literasi digital, persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, kesiapan organisasi, ketersediaan data, dan kemauan menggunakan sistem. Penelitian ini merupakan studi konseptual yang menggunakan pendekatan kajian literatur terstruktur dan analisis data sekunder untuk merumuskan kerangka kesiapan digital kelompok tani kakao dalam mendukung sistem ketertelusuran rantai pasok, dengan fokus pada konteks Kabupaten Kolaka. Literatur dikaji dari teori penerimaan teknologi, kesiapan teknologi, kesiapan organisasi, rantai nilai, dan ketertelusuran komoditas. Data sekunder digunakan untuk memperkuat konteks, terutama data kakao Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Kolaka, data perkembangan penggunaan internet nasional, serta tuntutan ketertelusuran dalam regulasi pasar global. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan dashboard ketertelusuran kakao perlu diawali dengan pemetaan kesiapan digital pada tujuh dimensi, yaitu: perceived usefulness, perceived ease of use, digital literacy, organizational readiness, data availability, willingness to use, dan traceability readiness. Artikel ini menawarkan rancangan indeks kesiapan digital dan fitur minimum dashboard sebagai dasar awal pengembangan prototype yang realistis bagi kelompok tani, penyuluh, koperasi, dan pemangku kepentingan kakao. Temuan konseptual ini memberikan kontribusi bagi penguatan kelembagaan petani dan pengembangan sistem digital yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Kelembagaan Petani dan Pemasaran Kolektif Kakao di Kabupaten Kolaka: Sebuah Kajian Literatur Astil Harli Roslan; Syahra Syahra
Journal of Business Evolution and Economics Vol. 1 No. 02 (2026): JUNE ISSUE
Publisher : Journal of Business Evolution and Economics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelembagaan petani memiliki peran strategis dalam memperkuat daya saing kakao melalui pemasaran kolektif, pengelolaan mutu, pencatatan produksi, akses informasi harga, pembiayaan, dan kemitraan dengan pembeli. Namun, kelompok tani kakao masih sering berfungsi sebagai wadah administratif dan belum sepenuhnya berkembang sebagai lembaga ekonomi yang mampu mengonsolidasikan volume, memperkuat mutu, serta meningkatkan posisi tawar petani. Artikel ini bertujuan menganalisis peran kelembagaan petani dalam mendukung pemasaran kolektif dan peningkatan posisi tawar petani kakao di Kabupaten Kolaka. Penelitian ini merupakan kajian literatur berbasis data sekunder dengan menelaah data statistik perkebunan, dokumen kebijakan, dan penelitian terdahulu mengenai kelembagaan petani, pemasaran kakao, tindakan kolektif, akses pasar, dan ketertelusuran digital. Data sekunder menunjukkan bahwa Kabupaten Kolaka memiliki areal kakao 25.106 ha, produksi 8.450 ton, produktivitas 509,67 kg/ha, serta 19.529 petani. Produktivitas tersebut masih lebih rendah dibanding rata-rata Sulawesi Tenggara sebesar 667,20 kg/ha, sementara sekitar 34% areal kakao Kolaka berada pada kategori tanaman belum menghasilkan dan tanaman tidak menghasilkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan kelembagaan perlu diarahkan dari fungsi administratif menuju fungsi ekonomi berbasis data, meliputi pendataan anggota dan kebun, pencatatan produksi, standardisasi mutu, konsolidasi volume, pemasaran kolektif, akses pembiayaan, dan kemitraan pasar. Artikel ini merumuskan model penguatan kelembagaan petani kakao berbasis data sebagai dasar pengembangan dashboard ketertelusuran digital dan pemasaran kolektif kakao di Kabupaten Kolaka.