Enung Nurhayati
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MODEL KEPEMIMPINAN SITUASIONAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Enung Nurhayati; Tia Atikah; Nurkhairina Nurkhairina
Ta'dibiya Vol 6 No 1 (2026): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v6i1.252

Abstract

Penelitian ini membahas tentang implementasi model kepemimpinan situasional dalam konteks pendidikan Islam. Kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard menekankan pada fleksibilitas pemimpin dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan berdasarkan tingkat kematangan (maturity) bawahan. Dalam perspektif pendidikan Islam, model ini tidak hanya ditinjau dari aspek manajerial semata, tetapi juga harus diintegrasikan dengan nilai-nilai ketauhidan, akhlak karimah, dan tujuan pendidikan Islam yang bersifat holistik (jasmani, akal, dan ruhani). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan (library research) untuk menganalisis relevansi dan modifikasi model kepemimpinan situasional agar selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan situasional sangat relevan diterapkan di lembaga pendidikan Islam, terutama dalam menghadapi keberagaman karakter peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. Namun, diperlukan penambahan dimensi spiritual dan moral sebagai filter utama, sehingga pemimpin tidak hanya bertindak berdasarkan situasi, tetapi juga berdasarkan nilai-nilai ilahiyah. Model yang diusulkan dalam penelitian ini adalah Integrated Situational Leadership Model yang menggabungkan gaya instruktif, konsultatif, partisipatif, dan delegatif dengan nilai-nilai Islam seperti syura (musyawarah), tawadhu' (rendah hati), dan amanah. Kesimpulannya, kepemimpinan situasional dalam pendidikan Islam bukanlah sekadar strategi teknis, melainkan bentuk ibadah dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, pemimpin pendidikan Islam dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara seimbang.
MODEL KEPEMIMPINAN SITUASIONAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Enung Nurhayati; Tia Atikah; Nurkhairina Nurkhairina
Ta'dibiya Vol 6 No 1 (2026): Ta'dibiya: Jurnal Agama dan Pendidikan Islam
Publisher : Staisman Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61624/japi.v6i1.252

Abstract

Penelitian ini membahas tentang implementasi model kepemimpinan situasional dalam konteks pendidikan Islam. Kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard menekankan pada fleksibilitas pemimpin dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan berdasarkan tingkat kematangan (maturity) bawahan. Dalam perspektif pendidikan Islam, model ini tidak hanya ditinjau dari aspek manajerial semata, tetapi juga harus diintegrasikan dengan nilai-nilai ketauhidan, akhlak karimah, dan tujuan pendidikan Islam yang bersifat holistik (jasmani, akal, dan ruhani). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan (library research) untuk menganalisis relevansi dan modifikasi model kepemimpinan situasional agar selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan situasional sangat relevan diterapkan di lembaga pendidikan Islam, terutama dalam menghadapi keberagaman karakter peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. Namun, diperlukan penambahan dimensi spiritual dan moral sebagai filter utama, sehingga pemimpin tidak hanya bertindak berdasarkan situasi, tetapi juga berdasarkan nilai-nilai ilahiyah. Model yang diusulkan dalam penelitian ini adalah Integrated Situational Leadership Model yang menggabungkan gaya instruktif, konsultatif, partisipatif, dan delegatif dengan nilai-nilai Islam seperti syura (musyawarah), tawadhu' (rendah hati), dan amanah. Kesimpulannya, kepemimpinan situasional dalam pendidikan Islam bukanlah sekadar strategi teknis, melainkan bentuk ibadah dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, pemimpin pendidikan Islam dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara seimbang.
A Women’s Inclusive Leadership Model for Islamic Education Enung Nurhayati; Eneng Muslihah; Machdum Bachtiar
Journal of Teacher Training and Educational Research Vol. 4 No. 1 (2026): August 2026
Publisher : Yayasan Sahabat Literasi Edukasi dan Publikasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71280/jotter.v4i1.637

Abstract

This study addresses the limited scholarly and practical attention given to women's leadership and inclusive practices in Islamic education, where patriarchal norms and structural barriers often constrain female leaders and marginalize diverse learners. The research aims to analyze the experiences, strategies, and institutional conditions that shape women's leadership and to construct an inclusive leadership model suitable for Islamic educational settings. A qualitative multiple case study design was employed in three Islamic schools. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and document analysis. The population comprised female principals, vice principals, teachers, students, and foundation members, while the sample was selected purposively based on leadership experience, institutional commitment to inclusion, and gender representation. Findings indicate that women leaders combine spiritual, transformational, participatory, and culturally responsive approaches. They negotiate patriarchal expectations, build trust through empathy and collaboration, and promote inclusive policies for gender, disability, and socioeconomic diversity. The resulting model emphasizes shared vision, ethical-spiritual grounding, participatory decision making, capacity building, safe and equitable learning environments, and community engagement. The study recommends that Islamic educational institutions adopt gender-sensitive recruitment, leadership training, inclusive curricula, and monitoring systems; policymakers should provide legal and budgetary support; and future research should test the model across broader contexts and quantitative measures