Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kenapa Bisa Sejauh Itu? Menelusuri Faktor-Faktor Bunuh Diri Pada Remaja: Literature Review Muhammad Aqshal Sallim; Cindy Tiara Adinda; Wahyu Aulizalsini Alurmei
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 1 No. 4 (2025): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v1i4.154

Abstract

Penelitian ini menelusuri faktor bunuh diri pada remaja dengan tujuan mengintegrasikan psikologis, keluarga, dan sosial. Metode kajian literatur enam jurnal terkait risiko bunuh diri pada usia remaja. Hasil menunjukkan depresi, kecemasan, stres saling memperkuat sehingga remaja kehilangan harapan dan menganggap bunuh diri pelarian; ketidakhadiran figur ayah, disharmoni keluarga, kerentanan kepribadian, isolasi sosial memperdalam kesepian dan menurunkan harga diri, meningkatkan kecanduan internet dan risiko; rendahnya harga diri berkorelasi dengan intensitas pikiran mengakhiri hidup, sedangkan resiliensi berfungsi sebagai pelindung yang harus diperkuat melalui dukungan sosial, kecerdasan emosional, dan koping adaptif. Simpulan menekankan pendekatan holistik untuk merancang intervensi pencegahan efektif dan empatik.
Examining the Relationship Between Fear of Failure and Career Indecision Among Final-Year University Students in Bekasi City Muhammad Farid Alifianto; Yuarini Wahyu Pertiwi; Wahyu Aulizalsini Alurmei
Socrates: Journal of Education, Philosophy and Psychology Vol. 2 No. 4 (2026): Socrates: Journal of Education, Philosophy and Psychology
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/socrates.v2i4.342

Abstract

Career anxiety constitutes one of the most prevalent psychological challenges encountered by final-year undergraduate students as they navigate the critical transition from higher education to the labor market. This condition has the potential to impair the process of career decision-making, particularly among individuals characterized by elevated levels of fear of failure. The present study aimed to investigate the relationship between fear of failure and career indecision among final-year undergraduate students in Bekasi City. A quantitative approach with a correlational design was employed. Participants were recruited through purposive sampling, yielding a final sample of 100 students who met the predetermined inclusion criteria. Data were collected using an adapted version of the Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI; Conroy, 2001) to assess fear of failure, and an adapted version of the Career Decision Difficulties Questionnaire (CDDQ; Gati et al., 1996) to measure career indecision. Data were analyzed using Pearson Product-Moment correlation. Results revealed a significant positive relationship between fear of failure and career indecision (r = .494; p < .001). The majority of participants exhibited high levels of fear of failure and moderate levels of career indecision. These findings indicate that higher fear of failure is associated with greater difficulty in making career decisions. The study contributes to the literature on career psychology and offers an empirical basis for developing targeted psychological interventions to support students in their career decision-making process.
Hubungan antara Kontrol Sosial dengan Perilaku Cyberbullying pada Remaja Pengguna Media Sosial Galih Adam Saputra; Yuarini Wahyu Pertiwi; Wahyu Aulizalsini Alurmei
Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Publisher : Inovan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63217/orbit.v2i4.353

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol sosial dengan perilaku cyberbullying pada remaja pengguna media sosial. Fenomena cyberbullying semakin meningkat seiring berkembangnya penggunaan media sosial di kalangan remaja, salah satunya ditandai dengan munculnya perilaku flaming, yaitu komentar atau unggahan yang bernada menghina, mengejek, atau menyerang individu lain secara daring. Salah satu faktor yang diduga berperan terhadap perilaku tersebut adalah kontrol sosial, yakni kemampuan individu mengendalikan perilaku berdasarkan nilai, norma, dan ikatan sosial yang dimilikinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional, melibatkan 150 remaja pengguna Instagram dan/atau TikTok di Kota Bekasi (68 laki-laki, 82 perempuan) yang diperoleh melalui teknik non-probability sampling jenis convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Social Bond Scale untuk mengukur kontrol sosial dan Cyberbullying Offending Scale untuk mengukur perilaku cyberbullying. Hasil uji asumsi menunjukkan data berdistribusi normal dan hubungan antarvariabel bersifat linear. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kontrol sosial dengan perilaku cyberbullying (r = -0,253; p = 0,002), yang berarti semakin tinggi kontrol sosial yang dimiliki remaja, semakin rendah kecenderungan mereka melakukan cyberbullying. Temuan ini mendukung relevansi teori kontrol sosial Hirschi dalam menjelaskan perilaku menyimpang remaja di ranah digital dan diharapkan dapat menjadi acuan bagi upaya pencegahan cyberbullying melalui penguatan ikatan sosial remaja.