Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kepemimpinan Kristiani dalam Terang Bonum Commune: Relevansi Pemikiran Thomas Aquinas di Era Kontemporer Aluysius Hendra Wijaya; Laurentius Prasetyo
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 9 No. 2 (2026): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v9i2.229

Abstract

This article explores the relevance of Thomas Aquinas’ concept of bonum commune (the common good) in shaping a Christian leadership paradigm amid the global and national leadership crisis, particularly in Indonesia. The phenomena of corruption, abuse of power, and weak moral orientation indicate the absence of the common good as the guiding principle in contemporary political practices. Employing a qualitative library research method, this study analyzes Aquinas’ thought, the Scriptures, Catholic social teaching, and modern literature on theology and political philosophy. The findings reveal that bonum commune serves as a fundamental principle that integrates moral, spiritual, and social dimensions of leadership. Within the Christian perspective, the principles of service, justice, love, and participation find their philosophical and theological foundation, with Jesus Christ as the Good Shepherd as their ultimate model. This article emphasizes that Christian leadership rooted in bonum commune is not about domination but about servant leadership oriented toward the common good, social justice, and human dignity. A reinterpretation of Aquinas’ thought in the modern context highlights the need to understand bonum commune through dialogue, participation, and respect for pluralism. Therefore, Christian leadership in the light of bonum commune remains relevant as an alternative paradigm for building a more just, transparent, participatory, and humane society
Simbol Air dalam Injil Yohanes: Kajian Intertekstual atas Pneumatologi dan Identitas Ilahi Yesus Aluysius Hendra Wijaya; Laurentius Prasetyo
Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik Vol. 9 No. 2 (2026): Jurnal Filsafat dan Teologi Katolik
Publisher : STIKAS Santo Yohanes Salib Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58919/juftek.v9i2.328

Abstract

Penelitian ini mengkaji simbol air dalam Injil Yohanes sebagai bahasa wahyu yang mengungkapkan identitas ilahi Yesus dalam kerangka pneumatologi. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kecenderungan studi sebelumnya yang menafsirkan simbol air secara parsial, baik sebagai simbol sakramental maupun metafora spiritual, tanpa melihat keterkaitannya secara menyeluruh dalam struktur naratif Injil Yohanes dan tradisi Yahudi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa simbol air merupakan struktur teologis yang mengintegrasikan kristologi, dan pneumatologi  Yohanes. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan, melalui analisis teologis-intertekstual terhadap teks-teks Yohanes yang berkaitan dengan simbol air serta hubungannya dengan Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol air berkembang secara progresif dari makna literal menuju simbol kehidupan ilahi dan Roh Kudus, serta mencapai klimaks dalam peristiwa penyaliban sebagai pencurahan Roh dan kelahiran Gereja. Dengan demikian, air berfungsi sebagai medium pewahyuan yang tidak hanya menjelaskan karya keselamatan, tetapi juga mengungkapkan identitas Yesus sebagai sumber kehidupan ilahi. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pneumatologi Yohanes pada dasarnya merupakan ekspresi kristologi dalam bahasa simbolik.
Dekonstruksi Identitas Gender di Era Digital: Hermeneutika Filosofis atas Gender Performativity Judith Butler dan Kekuasaan Algoritmik Aluysius Hendra Wijaya
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Pusat Studi GESI - UWP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38156/gesi.v5i1.215

Abstract

Penelitian ini mengkaji dekonstruksi identitas gender di era digital melalui pendekatan hermeneutika filosofis terhadap pemikiran Judith Butler. Penelitian bertujuan menganalisis konsep gender performativity beserta konsep citationality dan iterability, serta menjelaskan relevansinya dalam budaya digital kontemporer dan implikasinya terhadap kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data primer diperoleh dari karya Judith Butler Gender Trouble dan Bodies That Matter, sedangkan data sekunder berasal dari buku dan artikel ilmiah mengenai poststrukturalisme, budaya digital, dan teori gender. Analisis dilakukan menggunakan hermeneutika filosofis Paul Ricoeur melalui interpretasi kritis terhadap teks dan konteks digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gender dipahami Butler sebagai konstruksi sosial yang dibentuk melalui tindakan performatif yang berulang. Di era digital, performativitas tersebut dimediasi oleh representasi visual, interaksi virtual, dan algoritma media sosial yang berfungsi sebagai bentuk kuasa diskursif baru dalam membentuk maupun membatasi ekspresi identitas gender. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Butler tetap relevan untuk menjelaskan transformasi identitas digital sekaligus membuka refleksi kritis mengenai keadilan algoritmik, kesetaraan gender, dan inklusi sosial, meskipun tetap memerlukan dialog dengan perspektif biologis, filosofis, dan teologis.