Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH PERSEPSI HARAPAN ORANG TUA DAN SELF-EFFICACY TERHADAP FEAR OF FAILURE PADA PEREMPUAN SULUNG DEWASA AWAL DIKABUPATEN KARAWANG: Psikologi Rifqa Azita; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11503

Abstract

Previous studies on fear of failure have generally focused on students or adolescents, while research specifically examining firstborn women in early adulthood, particularly within the social context of Karawang Regency, remains limited. This study examined the predictive roles of perceived parental expectations and self-efficacy in fear of failure among firstborn women in early adulthood in Karawang Regency. A quantitative approach with a predictive correlational design was employed. The participants comprised 349 firstborn women aged 18–40 years who lived in Karawang Regency and were recruited using snowball sampling. Data were collected using the Perception of Parental Expectations Inventory (POPEI), the General Self-Efficacy Scale (GSE), and the Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI), and were analyzed using multiple linear regression. The findings showed that perceived parental expectations and self-efficacy jointly and significantly predicted fear of failure. Perceived parental expectations were a positive predictor, whereas self-efficacy was a negative predictor of fear of failure. Higher perceived parental expectations were associated with a greater tendency to experience fear of failure, whereas higher self-efficacy was associated with a lower tendency to experience it. These findings highlight the importance of realistic, open, and supportive parental communication, as well as efforts to strengthen self-efficacy, to support the psychological well-being of firstborn women in early adulthood. ABSTRAK Penelitian mengenai fear of failure umumnya berfokus pada mahasiswa atau remaja, sedangkan kajian yang secara khusus menelaah perempuan sulung dewasa awal, terutama dalam konteks sosial Kabupaten Karawang, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran prediktif persepsi harapan orang tua dan self-efficacy terhadap fear of failure pada perempuan sulung dewasa awal di Kabupaten Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Partisipan penelitian berjumlah 349 perempuan sulung berusia 18–40 tahun yang berdomisili di Kabupaten Karawang dan direkrut menggunakan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan menggunakan Perception of Parental Expectations Inventory (POPEI), General Self-Efficacy Scale (GSE), dan Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi harapan orang tua dan self-efficacy secara simultan memprediksi fear of failure secara signifikan. Persepsi harapan orang tua menjadi prediktor positif, sedangkan self-efficacy menjadi prediktor negatif terhadap fear of failure. Semakin tinggi harapan orang tua yang dipersepsikan, semakin tinggi kecenderungan perempuan sulung mengalami fear of failure. Sebaliknya, semakin tinggi self-efficacy, semakin rendah kecenderungan tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi harapan orang tua yang realistis, terbuka, dan suportif serta penguatan self-efficacy untuk mendukung kesejahteraan psikologis perempuan sulung dewasa awal.
SELF- DISCLOSURE EMERGING ADULTHOOD PADA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM: PERAN INTERPERSONAL TRUST DAN KONTROL DIRI: Psikologi Helga Agustin; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11723

Abstract

Second Instagram accounts provide a relatively private space for individuals in emerging adulthood to disclose personal feelings, experiences, and information. However, such openness may increase the risk of excessive disclosure when it is not accompanied by adequate self-regulation. This study aimed to examine the contributions of interpersonal trust and self-control in predicting self-disclosure among users of second Instagram accounts in Karawang. The study employed a quantitative correlational-predictive design. A total of 349 participants aged 18–25 years were recruited through snowball sampling. Data were collected using the Self-Disclosure Scale, Interpersonal Trust Scale, and Brief Self-Control Scale and analyzed using multiple linear regression. The findings showed that interpersonal trust and self-control simultaneously contributed significantly to predicting self-disclosure. Partially, interpersonal trust positively contributed to self-disclosure, whereas self-control contributed negatively and demonstrated a greater contribution than interpersonal trust. These findings indicate that trust in others may encourage personal openness, whereas self-control may help individuals regulate the amount and depth of personal information they disclose. This study highlights the importance of digital literacy, privacy awareness, and self-control development in promoting more thoughtful and responsible self-disclosure practices on social media. ABSTRAK Penggunaan akun kedua Instagram memberikan ruang yang lebih privat bagi individu pada fase emerging adulthood untuk mengungkapkan perasaan, pengalaman, dan informasi pribadi. Namun, keterbukaan tersebut dapat meningkatkan risiko pengungkapan informasi secara berlebihan apabila tidak disertai kemampuan regulasi diri yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi interpersonal trust dan kontrol diri dalam memprediksi self-disclosure pada pengguna akun kedua Instagram di Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional-prediktif. Sebanyak 349 partisipan berusia 18–25 tahun direkrut melalui teknik snowball sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Disclosure Scale, Interpersonal Trust Scale, dan Brief Self-Control Scale, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust dan kontrol diri secara simultan berkontribusi signifikan dalam memprediksi self-disclosure. Secara parsial, interpersonal trust berkontribusi positif terhadap self-disclosure, sedangkan kontrol diri berkontribusi negatif dan menunjukkan kontribusi yang lebih besar dibandingkan interpersonal trust. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap orang lain dapat meningkatkan keterbukaan individu, sedangkan kontrol diri membantu membatasi informasi pribadi yang diungkapkan. Penelitian ini menegaskan pentingnya literasi digital, kesadaran privasi, dan penguatan kontrol diri untuk mendukung perilaku pengungkapan diri yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab di media sosial.
DIBALIK KETAKUTAN AKAN KEDEKATAN: PENGARUH SELF ESTEEM DAN FATHER INVOLVEMENT TERHADAP FEAR OF INTIMACY PADA GENERASI Z DI KABUPATEN KARAWANG Lena Nuraena; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
Consilium: Education and Counseling Journal Vol 6 No 2 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Biro 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Abduracman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/consilium.v6i2.9077

Abstract

Generasi Z tumbuh dalam kemajuan digital yang intens, tetapi justru rentan mengembangkan fear of intimacy, yaitu kecenderungan menghindari kedekatan emosional karena kekhawatiran terhadap penolakan atau kerentanan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-esteem dan father involvement terhadap fear of intimacy pada Generasi Z di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas, dimana pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linear berganda. Populasi dalam penelitian ini yaitu Generasi Z, dengan rentang usia 14–29 tahun, yang berdomisili di Kabupaten Karawang. Sampel penelitian berjumlah 355 responden dengan teknik sampel yang digunakan adalah teknik convenience sampling. Instrumen menggunakan tiga skala psikologis, fear of intimacy diukur dengan skala FICQ, self-esteem diukur dengan skala RSES dan father involvement diukur dengan skala FIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem dan father involvement memiliki pengaruh signifikan terhadap fear of intimacy pada Generasi Z di Kabupaten Karawang.
Kualitas Tidur Dalam Tekanan Sandwich Generation: Pengaruh Stres Pada Dewasa Awal Di Karawang Dhiya Rachma Kintani; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1306

Abstract

Sandwich generation memiliki resiko mengalami kualitas tidur yang buruk karena harus menjalani peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh bagi anak dan orangtua secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh stress terhadap kualitas tidur pada sandwich generation dewasa awal, dengan rentang usia 20-40 tahun, yang berdomisili di Karawang. Sampel penelitian ini berjumlah 204 responden dengan menggunakan teknik non-probabilitas dengan teknik snowball sampling. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Alat ukur yang digunakan adalah skala PSQI  untuk mengukur kualitas tidur dan skala PSS untuk mengukur stres. Menggunakan uji , uji hipotesis regresi linear sederhana, dengan melakukan uji klasik asumsi normalitas, uji linearitas, serta uji tambahan berupa uji koefisien determinasi, uji kategorisasi dan uji beda. Hasil uji hipotesis linear sederhana penelitian ini sebesar 0,290 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, maka hipotesis penelitian ini menyatakan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti bahwa stres memiliki pengaruh terhadap kualitas tidur. Hasil koefisien determinasi menunjukan stres memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas tidur sebesar  29,5%.