Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PRAKTIK PASUNG PADA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA: STUDI KASUS DI MALAKA Gabriel Hermes Poyk; R. Pasifikus C; Wijaya Wijaya; Diana Aipipidely; Christina Nayoan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12962

Abstract

The practice of shackling people with mental disorders (ODGJ) still occurs in Malaka Regency. This study aims to uncover the reasons why families still practice shackling their family members with mental disorders. This study uses a qualitative method with a case study approach. Participants in this study were selected using a snowball sampling technique. Data collection was conducted through semi-structured interviews, while the data analysis technique used the Creswell model case study data analysis. The results of the study indicate that shackling is carried out as a last resort due to aggressive behavior of family members. This decision is based on the family's inability to control aggressive behavior, limited access to health services, economic limitations, and low family understanding of mental disorders. Pressure from society and family experiences when family members relapse also strengthen the family's decision to shackle their family members. Limited resources and suboptimal care make shackling the choice of families, this decision also has a negative impact on family members both physically and psychologically and adds to the emotional burden on the family. ABSTRAK Praktik pasung pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih terjadi di kabupaten Malaka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap alasan keluarga masih melakukan praktik pasung pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur, sedangkan teknik analisi data menggunakan analisi data studi kasus model creswell. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemasungan dilakukan sebagai pilihan terakhir akibat perilaku agresif anggota keluarga. Keputusan ini didasari oleh ketidakmampuan keluarga untuk mengendalikan perilaku agresif, keterbatasan akses pada layanan kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan rendahnya pemahaman keluarga terkait gangguan jiwa. Tekanan dari masyarakat dan pengalaman keluarga saat anggota keluarganya kambuh juga memperkuat keputusan keluarga untuk melakukan pemasungan pada anggota keluarganya. Keterbatasan sumber daya dan ketidak optimalan perawatan membuat pemasungan dipilih keluarga, keputusan ini juga berdampat buruk bagi anggota keluarganya baik secara fisik, dan psikologis serta menambah beban emosional bagi keluarga.    
FORGIVENESS ORANGTUA DALAM MENYIKAPI PERISTIWA KEHAMILAN REMAJA DI LUAR NIKAH DI NUSA TENGGARA TIMUR Monika Indriyanti Putri Claudia; Diana Aipipidely; Mardian Artati; R Pasifikus Ch; Wijaya Wijaya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8254

Abstract

This study aims to understand the process of parental forgiveness toward teenage daughters who experience out-of-wedlock pregnancy in East Nusa Tenggara (NTT), Indonesia. This region is known for its patriarchal culture that highly values family honor, making teenage pregnancy a heavily stigmatized social issue. While many studies have examined the impact of teenage pregnancy, few have explored how parents, particularly in the local cultural context, process their emotions and forgive their children. Using a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), this study involved five parents who were interviewed to explore their experiences. The findings reveal five key stages in the forgiveness process: (1) early detection of pregnancy through parental intuition, (2) initial emotional reactions such as anger and disappointment, (3) transition toward unconditional love and protective actions, (4) social and spiritual support that strengthens acceptance, and (5) varying attitudes toward the male counterpart involved. This study fills a gap in the literature regarding the emotional dynamics of parents facing teenage pregnancy in Eastern Indonesia and provides insights for culturally sensitive counseling practices in handling similar cases. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pemaafan orangtua terhadap anak remaja yang hamil di luar nikah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Daerah ini dikenal dengan budaya patriarkal yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga, sehingga kehamilan remaja menjadi masalah sosial yang sangat distigmatisasi. Meskipun banyak penelitian yang meneliti dampak kehamilan remaja, belum banyak yang membahas bagaimana orangtua, khususnya dalam konteks budaya lokal, memproses perasaan mereka dan memberi maaf kepada anak mereka. Dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode Analisis Fenomenologi Interpretatif (IPA), penelitian ini melibatkan lima orangtua yang diwawancarai untuk menggali pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan lima tahap penting dalam proses pemaafan: (1) deteksi awal kehamilan melalui intuisi orangtua, (2) reaksi emosional awal seperti marah dan kecewa, (3) transisi menuju kasih sayang tanpa syarat dan tindakan perlindungan, (4) dukungan sosial dan spiritual yang memperkuat penerimaan, dan (5) sikap yang bervariasi terhadap pihak laki-laki yang terlibat. Penelitian ini mengisi kekosongan literatur mengenai dinamika emosional orangtua dalam menghadapi kehamilan remaja di Indonesia Timur, serta memberikan wawasan bagi praktik konseling yang lebih sensitif terhadap budaya dalam menangani kasus serupa.