Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INKLUSIVITAS DISABILITAS NETRA PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADIS;: Studi Implementatif di Yaketunis Yogyakarta Ahmad Saerozi; Arif Friyadi; Oktari Kanus; Abdullah Abdullah
PAPPASANG Vol. 8 No. 1 (2026): Pappasang
Publisher : STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jiat.v8i1.2116

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Qur’anic and Hadith values related to persons with visual disabilities at the Islamic Foundation for the Welfare of the Blind (Yaketunis) in Yogyakarta. The study is grounded in Islamic teachings that affirm the equality of human dignity without discrimination based on physical conditions. These values serve as the theological foundation for religious institutions in developing inclusive education and empowerment programs for persons with disabilities. This research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The research subjects include foundation leaders, educators, and visually impaired learners at Yaketunis. Data analysis is conducted by referring to thematic interpretations of the Qur’an and Hadith concerning disability, and is further strengthened by John Rawls’ theory of social justice, which emphasizes the importance of creating a just. The findings indicate that the implementation of Qur’anic and Hadith values at Yaketunis is reflected in four main aspects: (1) spiritual aspects through religious guidance that fosters worship awareness and spiritual resilience; (2) social aspects through strengthening ukhuwah values and enhancing social acceptance of persons with disabilities; (3) academic aspects through religious learning based on Braille, audio media, and oral methods; and (4) economic aspects through skills training and the management of productive zakat to promote independence. This implementation aligns with the Islamic principle of rahmatan lil-‘a>lami>n. The study concludes that Yaketunis has successfully integrated Qur’anic and Hadith values holistically into the educational and empowerment system for persons with visual disabilities, and thus has the potential to serve as a model for the development of inclusive and just Islamic education.
Dialektika Wahyu dan Tradisi: Praktik Living Qur'an dalam Ritual Pranikah Masyarakat Minangkabau dan Otoritas Niniak Mamak 2016-2026 Oktari Kanus; Riza Wardefi; Desri Nengsih; Nurjanah; Ahmad Saerozi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i2.1628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena Living Qur'an dalam rangkaian tradisi pranikah masyarakat Minangkabau serta peran otoritas Niniak Mamak dalam mengintegrasikan hukum Munakahat Islam ke dalam tatanan adat. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi literatur sepuluh tahun terakhir (2016-2026), riset ini mengeksplorasi bagaimana teks al-Qur'an dipahami, difungsikan, dan direspon dalam praktik sosial-budaya. Kebaruan penelitian ini secara eksplisit terletak pada analisis komprehensif mengenai dialektika antara teks suci dan praktik lokal yang dimediasi oleh otoritas tradisional dalam satu dekade terakhir, guna menutup kesenjangan analisis terkait fungsi spesifik ayat Al-Qur'an sebagai instrumen perlindungan (himayah) dan legitimasi nasab. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik Living Qur'an termanifestasi secara sistematis melalui tahapan ritual seperti Khatam al-Qur'an sebagai prasyarat kedewasaan religius, serta Malam Bainai yang mengalihfungsikan ayat-ayat suci sebagai sarana perlindungan (himayah) dan keberkahan (tabarruk). Ayat-ayat spesifik seperti QS. Ar-Rum: 21 digunakan secara fungsional sebagai fondasi filosofis pembentukan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, sementara QS. An-Nahl: 72 diintegrasikan untuk memperkuat legitimasi nasab dalam sistem matrilineal. Peran Niniak Mamak ditemukan sangat krusial, tidak hanya sebagai pemegang otoritas administratif dalam pemberian izin nikah (model NA), tetapi juga sebagai komunikator budaya yang menjelaskan status hukum pernikahan (Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram) kepada calon mempelai. Secara filosofis, integrasi ini mencerminkan adagium Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, di mana Niniak Mamak bertindak sebagai hakam (mediator) yang menyelaraskan nilai-nilai al-Qur'an dengan kearifan lokal guna menjamin ketahanan moral dan sosial keluarga.