Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dialektika Wahyu dan Tradisi: Praktik Living Qur'an dalam Ritual Pranikah Masyarakat Minangkabau dan Otoritas Niniak Mamak 2016-2026 Oktari Kanus; Riza Wardefi; Desri Nengsih; Nurjanah; Ahmad Saerozi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i2.1628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena Living Qur'an dalam rangkaian tradisi pranikah masyarakat Minangkabau serta peran otoritas Niniak Mamak dalam mengintegrasikan hukum Munakahat Islam ke dalam tatanan adat. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi literatur sepuluh tahun terakhir (2016-2026), riset ini mengeksplorasi bagaimana teks al-Qur'an dipahami, difungsikan, dan direspon dalam praktik sosial-budaya. Kebaruan penelitian ini secara eksplisit terletak pada analisis komprehensif mengenai dialektika antara teks suci dan praktik lokal yang dimediasi oleh otoritas tradisional dalam satu dekade terakhir, guna menutup kesenjangan analisis terkait fungsi spesifik ayat Al-Qur'an sebagai instrumen perlindungan (himayah) dan legitimasi nasab. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik Living Qur'an termanifestasi secara sistematis melalui tahapan ritual seperti Khatam al-Qur'an sebagai prasyarat kedewasaan religius, serta Malam Bainai yang mengalihfungsikan ayat-ayat suci sebagai sarana perlindungan (himayah) dan keberkahan (tabarruk). Ayat-ayat spesifik seperti QS. Ar-Rum: 21 digunakan secara fungsional sebagai fondasi filosofis pembentukan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, sementara QS. An-Nahl: 72 diintegrasikan untuk memperkuat legitimasi nasab dalam sistem matrilineal. Peran Niniak Mamak ditemukan sangat krusial, tidak hanya sebagai pemegang otoritas administratif dalam pemberian izin nikah (model NA), tetapi juga sebagai komunikator budaya yang menjelaskan status hukum pernikahan (Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram) kepada calon mempelai. Secara filosofis, integrasi ini mencerminkan adagium Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, di mana Niniak Mamak bertindak sebagai hakam (mediator) yang menyelaraskan nilai-nilai al-Qur'an dengan kearifan lokal guna menjamin ketahanan moral dan sosial keluarga.                               
Sustainable Development: Learning the Quran through the Iqra' Method among University Students Oktari Kanus; Riza Wardefi; Desri Nengsih
Mau'izhah: Jurnal Kajian Keislaman Vol. 23 No. 2 (2025): Regular Issue
Publisher : Mau'izhah: Jurnal Kajian Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55936/mauizhah.v23i2.281

Abstract

This study examines sustainable development in Quranic literacy by applying the Iqra’ method among university students in Islamic higher education. The research addresses the urgent need to remediate Quranic reading deficits as part of educational sustainability, ensuring that students acquire both technical competence in recitation and reflective understanding of the sacred text. A descriptive qualitative approach was employed with a clinical case study design integrated into laboratory-based interventions. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, documentation of learning outcomes, and diagnostic placement tests. The findings reveal that the Iqra’ method, traditionally associated with early learners, can be effectively adapted to adult education contexts when combined with structured mentoring, small-group guidance, and private tasmi’ sessions. Students demonstrated significant improvement in tilawah skills, overcoming phonetic articulation barriers, mastering basic tajwid rules, and achieving the minimum tartil standards required of future educators. Psychologically, the mentoring approach reduced resistance and anxiety among adult learners, fostering confidence and responsibility in their learning process. The implications highlight the importance of institutionalizing structured clinical remediation systems within religious laboratories at public universities, positioning Quranic literacy as a key component of sustainable educational development.