Masbukin
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DARI KONFLIK IDENTITAS MENUJU RUANG HIDUP BERSAMA: : Relasi Muslim Melayu dan Hindu dalam Kehidupan Sehari-hari di Thailand Selatan Masbukin; Zulkifli M. Nuh; Alimuddin Hassan Palawa
Nusantara Journal for Southeast Asian Islamic Studies
Publisher : Institute for Southeats Asian Islamic Studies (ISAIS)Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/nusantara.v22i1.40001

Abstract

Kajian mengenai Thailand Selatan selama ini lebih banyak berfokus pada konflik identitas, separatisme, dan hubungan antara masyarakat Muslim Melayu dengan negara Thailand. Akibatnya, relasi sosial yang berkembang di antara kelompok-kelompok agama lain, termasuk komunitas Hindu, relatif kurang mendapat perhatian dalam literatur akademik. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komunitas Muslim Melayu dan Hindu di Thailand Selatan membangun hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari serta faktor-faktor yang memungkinkan terciptanya ruang hidup bersama di tengah perbedaan identitas keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research melalui analisis berbagai literatur internasional yang membahas masyarakat Muslim Melayu Patani, komunitas Hindu diaspora, hubungan antaragama, dan dinamika sosial-keagamaan di Asia Tenggara. Analisis dilakukan dengan menggunakan konsep everyday religion dari Robert A. Orsi dan everyday peace dari Roger Mac Ginty. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan Muslim-Hindu di Thailand Selatan tidak semata-mata ditentukan oleh batas-batas identitas keagamaan, tetapi dibentuk melalui berbagai praktik sosial yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas ekonomi, hubungan ketetanggaan, partisipasi dalam kegiatan sosial, dan berbagai bentuk kerja sama lokal menjadi arena penting bagi terbentuknya kepercayaan dan kohesi sosial lintas agama. Melalui praktik-praktik tersebut, masyarakat mengembangkan mekanisme informal untuk mengelola perbedaan serta membangun koeksistensi yang relatif harmonis. Artikel ini berargumen bahwa Thailand Selatan tidak hanya dapat dipahami sebagai ruang konflik, tetapi juga sebagai ruang kehidupan bersama (shared living spaces) yang memperlihatkan bagaimana perdamaian dibangun melalui interaksi sosial sehari-hari. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kajian hubungan antaragama dan studi Islam Asia Tenggara dengan menghadirkan perspektif yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam produksi perdamaian dan kohesi sosial.