Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Pemberdayaan Ekonomi Dan Kesejahteraan Psikologis Perempuan Pekerja Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Siti Khusnia; Bayu Prasetyo; Dewi Lusiana
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11889

Abstract

Tingginya beban kerja dan jam kerja yang tidak menentu pada Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Program Makan Bergizi Gratis MBG menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan bagi perempuan pekerja. Ketidakstabilan emosional akibat kelelahan fisik dan konflik peran ganda berisiko menurunkan produktivitas kerja serta efisiensi pelayanan program nasional tersebut. Di sisi lain, peningkatan pendapatan ekonomi yang mereka peroleh belum serta-merta menjamin kesejahteraan psikologis yang optimal tanpa adanya dukungan sosial dan penguatan kapasitas regulasi diri pekerja perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemberdayaan ekonomi dan mengevaluasi status kesejahteraan psikologis perempuan pekerja di SPPG Tugumulyo, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif analitis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 25 informan utama, observasi lapangan, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam SPPG memberikan kepastian pendapatan finansial yang meningkatkan posisi tawar, otonomi, dan kapasitas pengambilan keputusan dalam rumah tangga. Dari perspektif psikologis, pekerjaan ini meningkatkan efikasi diri, pertumbuhan pribadi, dan solidaritas sosial antarkaryawan sebagai mekanisme pertahanan psikologis yang efektif. Namun, keberhasilan ini dibayangi oleh tantangan beban peran ganda (double burden) dan risiko kelelahan fisik akibat manajemen waktu kerja yang sangat ketat sejak dini hari.
Analisis Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta Dewi Lusiana; Anis Sulistiyani
Al-Iqtishod : Jurnal Ekonomi Syariah Vol. 7 No. 2 (2025): Al-Iqtishod: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/iqtis.v7i2.4384

Abstract

Permasalahan kemiskinan masih menjadi isu strategis yang dihadapi oleh berbagai negara berkembang di dunia. Kondisi ini dapat menghambat pembangunan ekonomi serta menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (2023), angka kemiskinan di Indonesia menunjukkan tren fluktuatif dari tahun ke tahun. Pada 2020, Pulau Jawa menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbesar, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat persentase tertinggi. Faktor-faktor seperti IPM, upah minimum, jumlah penduduk, tingkat pengangguran, serta zakat turut memengaruhi tingkat kemiskinan di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM), upah minimum, jumlah penduduk, tingkat pengangguran, dan zakat terhadap kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta selama periode 2017–2024. Analisis dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif menggunakan model regresi linier berganda melalui perangkat lunak EViews 10. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa IPM dan zakat berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan, sedangkan upah minimum tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Sementara itu, peningkatan jumlah penduduk dan pengangguran terbukti memperburuk tingkat kemiskinan di wilayah tersebut.
Kajian Fiqih Muamalah Terhadap Praktik Tengkulak dalam Rantai Pasok Karet: Perspektif Syariah dalam Distribusi dan Keadilan Ekonomi di Desa Rotan Mulya Umi Fazirotul Ummah; Rino Purnomo; Dewi Lusiana
Al-Iqtishod : Jurnal Ekonomi Syariah Vol. 8 No. 1 (2026): Al-Iqtishod: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/iqtis.v8i1.4830

Abstract

Tengkulak berperan menghubungkan petani dengan pabrik pengolahan atau pedagang besar diluar desa. Keberadaan tengkulak pada satu sisi sangat membantu petani, mengingat keterbatasan akses transportasi, informasi harga pasar, serta kebutuhan modal tunai yang mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi praktik tengkulak dalam rantai pasok karet serta mengkaji kesesuaiannya dengan prinsip keadilan ekonomi dalam perspektif fiqh muamalah. Penelitian ini berjenis lapangan (field reseach) dengan pendekatan kualitatif. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk memahami secara langsung bagaimana praktik tengkulak berlangsung dalam rantai pasok karet di Desa Rotan Mulya, terutama yang berkaitan dengan sistem distribusi serta aspek keadilan ekonomi berdasarkan kajian fiqh muamalah. Wawancara digunakan untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai mekanisme distribusi yang diterapkan oleh para tengkulak, sekaligus menilai apakah praktik tersebut telah sejalan dengan prinsip keadilan ekonomi dalam perspektif fiqh muamalah. Sementara itu, dokumentasi dimanfaatkan sebagai pelengkap untuk memperkuat data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara. Dokumentasi dilakukan dengan menganalisis dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari perspektif Fiqh muamalah, praktik ini telah memenuhi prinsip dasar jual beli yaitu kejelasan barang, kesepakatan harga, dan kerelaan kedua belah pihak. Kesesuaian praktik tengkulak dengan keadilan ekonomi dalam kajian fiqh muamalah sebagian besar petani menilai transaksi yang berlangsung sudah adil karena prosesnya transparan, harga diinformasikan terlebih dahulu dan penimbangan dilakukan di depan petani. Meski begitu praktik ini, masih dianggap wajar karena dilakukan secara sukarela dan kedua belahpihak tetap mendapat manfaat.