Syaidah Syaidah
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membaca Sintopikal sebagai Fondasi Filosofis Pembelajaran Membaca Kritis di Perguruan Tinggi: Kajian Pemikiran Bachrudin Musthafa Syaidah Syaidah; Syihabuddin Syihabuddin; Farrah Mawaddah; Tika Afrilla
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/qk5bym98

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemikiran (Musthafa, 2025) tentang membaca sintopikal sebagai puncak hierarki membaca strategis dalam perspektif filsafat pendidikan. Penelitian ini bertolak dari kenyataan bahwa praktik membaca di perguruan tinggi Indonesia masih terbatas pada level elementer dan inspeksional, sehingga mahasiswa belum mampu menciptakan pengetahuan baru secara mandiri. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode kajian filosofis-hermeneutis yang didukung tes membaca berjenjang secara daring kepada 19 mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, artikel ini mengidentifikasi relevansi membaca sintopikal sebagai praktik epistemik yang memanusiakan sekaligus sebagai fondasi pembelajaran membaca kritis. Temuan kajian filosofis mengungkap tiga fondasi yang saling menguatkan: konstruktivisme epistemik  (Dewey, 1938; Vygotsky, 1978)yang memandang pengetahuan sebagai hasil konstruksi aktif; pedagogi kritis Freire yang memposisikan membaca sintopikal sebagai antitesis banking education; dan tradisi Bildung yang menempatkan membaca sebagai proses pembentukan identitas intelektual yang transformatif. Secara empiris, 84% mahasiswa menunjukkan pemahaman konseptual tinggi pada level elementer–inspeksional, namun hanya 32% mencapai level sintopikal, mengkonfirmasi kesenjangan antara mengetahui dan mempraktikkan. Sebanyak 89% mahasiswa mengakui relevansi kondisi yang didiagnosis, 95% mengalami transformasi perspektif sebagai indikasi daya Bildung, dan 100% merekomendasikan pengajaran membaca sintopikal secara eksplisit dan terstruktur. Implikasi utama artikel ini adalah desakan untuk menggeser paradigma pembelajaran membaca di perguruan tinggi dari asumsi bahwa kemampuan membaca kritis sudah dimiliki mahasiswa menuju komitmen pedagogis yang aktif melatihkannya sebagai keterampilan yang diajarkan, dibimbing, dan dinilai.
Common Values dalam Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA): Perspektif Aksiologis Farrah Mawaddah; Syihabuddin Syihabuddin; Tika Afrilla; Syaidah Syaidah
Jurnal Bahastra Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/bahastra.v11i1.13507

Abstract

Values embedded in language learning materials may be interpreted differently by learners from diverse cultural backgrounds, raising questions about how common values should be selected, organized, and contextualized in teaching Indonesian to foreign speakers. This study examines common values in Indonesian language learning materials for foreign speakers from an axiological perspective, focusing on value selection, gradation, and meaningfulness. A qualitative conceptual approach was employed through a conceptual literature review of studies on axiology, intercultural language education, values in language teaching materials, and Indonesian language learning for foreign speakers, primarily published between 2019 and 2024 and supplemented by relevant theoretical sources. The findings indicate that respect, honesty, empathy, responsibility, and justice are frequently identified as values with relatively broad relevance across cultural contexts, whereas gotong royong and social harmony are more closely embedded in particular cultural settings and therefore require contextualization. These findings demonstrate that values in language learning materials should not be regarded as fixed or universally applicable constructs, but as dynamic meanings subject to intercultural interpretation and negotiation. Accordingly, value-based Indonesian language learning for foreign speakers should adopt a dialogic, reflective, and culturally responsive approach